Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada level 8.600 pada awal perdagangan di tahun baru, Jumat (2/1), menandakan optimisme pelaku pasar terhadap prospek perekonomian nasional semakin tumbuh.
Terpantau pada pembukaan perdagangan saham awal tahun 2026 IHSG dibuka menguat 37,130 poin atau 0,43 persen ke level 8.684,069 pada pukul 09.01 WIB.
Sepanjang pagi ini indeks berfluktuasi pada rentang 8.684,34 di pukul 09.00 hingga 8.724,90 pada 11.30 WIB. Penguatan IHSG turut ditopang oleh kenaikan saham berkapitalisasi besar seperti AMMN yang naik 1,17%, BBRI yang lebih tinggi 0,27%, BYAN yang terapresiasi 0,32%.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang hadir dalam seremoni pembukaan perdagangan di Gedung BEI menyatakan penguatan IHSG di awal tahun merupakan respons pasar atas perbaikan koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI).
“Kuncinya koordinasi harus diperkuat untuk menumbuhkan kepercayaan terhadap pasar, jadi tidak ada yang salah tangkap informasi baik antara Kementerian Keuangan dan BI,” ujar dia di Jakarta, Jumat (2/1).
Purbaya juga memproyeksikan bahwa IHSG berpotensi mencapai 10.000 pada tahun 2026. Hal ini didukung oleh perbaikan ekonomi dan ekspektasi pertumbuhan laba emiten.
"Itu bukan angka yang mustahil dicapai. Dari pertumbuhan ekonomi yang baik, lebih baik dibanding tahun lalu, sekarang setahun penuh ini saya sudah bagi ekonominya," kata dia.
Terlebih lagi, kata dia, dengan kebijakan yang lebih sinkron dengan bank sentral dan lainnya, bisa membuat pertumbuhan ekonomi tumbuh lebih cepat. "Itu akan melandasi pertumbuhan keuntungan perusahaan juga. Investor-investor yang jeli, jangan sampai ketinggalan," ujar dia.
Dilansir dari RTI Business, ada 25,83 miliar saham berpindah tangan dengan frekuensi 1,80 juta kali transaksi dengan nilai transaksi tercatat sebesar Rp11,86 triliun. Dari total 809 saham yang diperdagangkan, 461 saham menguat, 219 saham melemah, dan 129 saham berada di posisi stagnan.
Mayoritas sektor mencatat penguatan signifikan. Sektor transportasi menjadi motor utama, naik 5,01 persen, diikuti sektor siklikal yang meningkat 3,14 persen. Sektor energi dan bahan baku masing-masing naik 2,60 persen dan 2,33 persen, sementara sektor teknologi bertambah 2,31 persen. Kenaikan juga terlihat pada sektor industrial (+1,87 persen), infrastruktur (+1,00 persen), non-siklikal (+0,99 persen), dan properti (+0,54 persen).
Meski begitu, tidak semua sektor mampu mencatatkan tren positif. Sektor kesehatan mengalami koreksi 0,98 persen, sedangkan sektor keuangan turun 0,85 persen.
Sorotan OJK
Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyampaikan kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif pada 2025, namun menekankan masih banyak ruang perbaikan harus dilakukan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 8.646,94 akhir 2025, menguat signifikan sebesar 22,13% sepanjang tahun. Meski demikian, Mahendra menyoroti kontras dengan pertumbuhan indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2,41%, jauh di bawah kenaikan IHSG.
Mahendra juga memaparkan kenaikan kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang melonjak luar biasa dari 56% akhir 2024 menjadi 72% akhir 2025.
"Sungguh kenaikan luar biasa. Namun, angka itu masih di bawah negara-negara kawasan seperti India 140%, Thailand 101%, dan Malaysia 97% dari PDB masing-masing. Artinya, potensi pengembangan masih lebih besar lagi," ujar Mahendra.
Selain itu, proporsi transaksi investor ritel meningkat pesat dari 38% menjadi 50%, angka ini dinilai sangat besar dibandingkan negara-negara lain yang lebih mengandalkan investor institusional.
Untuk mewujudkan potensi pertumbuhan pasar modal, OJK bersama para pemangku kepentingan berkomitmen mengimplementasikan berbagai program strategis di tahun 2026 yang difokuskan pada peningkatan integritas dan kedalaman pasar.
Peningkatan kualitas perusahaan tercatat, melalui penyempurnaan kebijakan secara menyeluruh, mulai dari entry requirement, peningkatan free float atau flutier termasuk continuous free float, transparansi Ultimate Beneficial Owner (UBO), hingga exit policy jelas. Transparansi UBO diperlukan untuk meminimalisasi transaksi efek tidak wajar dan meningkatkan likuiditas riil.
Peningkatan basis investor dilaksanakan melalui peningkatan peran investor institusi (Reksadana, Asuransi, Dana Pensiun), dan terus mendorong peningkatan perlindungan investor minoritas dan ritel. Ini termasuk penegakan aspek perilaku atau market conduct, termasuk penguatan pengawasan perilaku financial influencer (pemengaruh keuangan).
Adopsi reformasi tata kelola, melaksanakan reformasi tata kelola pasar saham terkini dengan penguatan aspek transparansi, kualitas disclosure, dan disiplin pengelolaan perusahaan untuk meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong pertumbuhan pasar berkelanjutan.
Dalam upaya penegakan hukum, OJK juga telah mengenakan berbagai langkah pengenaan sanksi dan hukuman di pasar modal, termasuk denda kepada 121 pihak, pencabutan izin 6 pihak, serta peringatan dan perintah tertulis kepada 638 pelaku usaha.
Selain itu, OJK bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Bursa Efek akan membangun Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK) sebagai tindak lanjut Perpres 110 tahun 2025.
Mahendra juga menambahkan bahwa OJK telah menerapkan relaksasi kebijakan bagi debitur yang terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera, yang berlaku sejak 10 Desember 2025.
Relaksasi ini mencakup seluruh jenis kredit untuk semua segmen usaha, yang tetap dikategorikan lancar, serta pemberian kredit/pembiayaan baru tanpa penerapan obligor.

Bersifat probabilistik
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa saat ini IHSG berhasil melewati fase Santa Claus Rally 2025 dan diproyeksikan masih memiliki peluang penguatan pada awal tahun depan seiring potensi January Effect 2026.
Meski demikian, pihaknya mengingatkan investor agar tidak menjadikan fenomena musiman sebagai satu-satunya dasar strategi investasi. January Effect dinilai bersifat probabilistik dan sangat bergantung pada kondisi makro, sentimen global, serta stabilitas arus modal.
“Secara rata-rata 25 tahun terakhir, performa IHSG pada Desember hingga Januari menunjukkan kecenderungan positif. Dengan kondisi makro yang relatif terjaga, peluang lanjutan penguatan masih terbuka,” ujar Nafan, kepada Suar.id.
Kemudian, memasuki awal tahun 2026, Nafan menilai jika fenomena January Effect masih memiliki peluang terhadap IHSG, khususnya pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah. Pasalnya, January Effect umumnya dipicu oleh aksi beli kembali saham setelah tekanan jual di akhir tahun, rebalancing portofolio tahunan, serta meningkatnya optimisme investor pada awal tahun.
Ketika ditanya soal optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menargetkan IHSG tembus ke level 10.000, Nafan menyebut jika hal tersebut rasional.
“Soal optimisme Purbaya, bagi kami memang rasional ya, sementara untuk 2026 IHSG secara teknikal diproyeksikan berada dalam tren uptrend, dengan target optimistis di kisaran 8.940, sementara skenario negatif berada di level 7.959. Strategi yang disarankan adalah akumulasi selektif saham berfundamental solid, penerapan strategi buy on dip, serta disiplin dalam manajemen risiko,” ungkap Nafan.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, IHSG tembus level 10.000 bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Apalagi, level indeks ditentukan oleh dua mesin utama yakni pertumbuhan laba emiten dan kenaikan penilaian pasar.
“(Jika) IHSG tembus 10.000 pada 2026 (dari) kisaran (level saat ini) 8.676, berarti butuh kenaikan sekitar 15%. Secara hitungan sederhana, jika laba per saham gabungan naik mendekati sekitar 624 dan penilaian pasar membaik sedikit saja ke kisaran 16 kali laba, maka level 10.000 secara matematis sudah terjangkau,” ucap Josua ketika dihubungi Suar.id, Jumat (2/1/2025).
Josua mengungkapkan bahwa saat ini rasio penilaian IHSG diperkirakan 15,3–15,4 kali laba 2026, di bawah rata-rata historis, sehingga ruang penguatan masih ada jika kebijakan pro pertumbuhan dijalankan dan arus dana lebih sehat.
Terkait kepercayaan investor yang jadi faktor kunci, Josua mengamini hal tersebut yang menurutnya menjadi katalis baik atas rekor kenaikan IHSG sepanjang 2025 dan peningkatan kapitalisasi pasar. Namun, sentimen tersebut dinilai masih belum sepenuhnya kokoh untuk otomatis mendorong IHSG to the moon sampai level 10.000 tanpa prasyarat.
“Stabilitas rupiah dan disiplin fiskal menjadi syarat penting (dari sisi asing). Jika rupiah mudah goyah, penilaian pasar cenderung sulit naik karena investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menanggung risiko,” kata dia.
Meski peluang terbuka, Josua mewanti-wanti jika risiko penghambat tetap ada. Dari sisi global, kejutan geopolitik atau inflasi dunia bisa menahan suku bunga rendah di AS dan memperkuat dolar, memicu penghindaran aset berisiko.
Dari sisi domestik, pelebaran defisit fiskal tanpa kredibilitas pembiayaan dapat menekan rupiah dan mendorong kenaikan imbal hasil surat utang. Sementara, struktur pasar modal dan kedalaman pasar masih sensitif, termasuk wacana pengetatan definisi saham bebas diperdagangkan.
Dari pengalaman historis, lompatan IHSG terjadi saat tiga syarat bertemu yakni suku bunga turun, rupiah stabil, dan laba emiten direvisi naik, seperti yang terlihat sepanjang 2025.
Josua pun memproyeksikan dua skenario: skenario realistis yang mana IHSG menguat namun tidak harus menyentuh 10.000 jika arus dana asing belum konsisten dan rupiah masih bergejolak.
Dan skenario optimistis bila likuiditas domestik mengalir ke saham karena imbal hasil surat utang turun, penurunan suku bunga, dan laba emiten terutama perbankan dan konsumsi membaik, serta reformasi pasar yang menarik investor asing.
Uswatun Hasanah turut berkontribusi dalam artikel ini