IHSG 2025 Naik 22,10%, Pecahkan Rekor ATH 26 Kali

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkerek naik 22,10% sepanjang tahun 2025. Sepanjang 2025, IHSG mencatat 26 kali rekor kinerja nilai tertinggi sepanjang sejarah (All Time High/ATH).

IHSG 2025 Naik 22,10%, Pecahkan Rekor ATH 26 Kali
Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia Samsul Hidayat, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman, dan Direktur Utama Kliring Penjaminan Efek Indonesia Iding Pardi menekan "bola IDX" dalam Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025). Foto: SUAR/Chris Wibisana

Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan tahun 2025 dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 8.646,94, naik 22,10% dibandingkan saat perdagangan awal tahun yakni pada Kamis, 2 Januari 2025 di level 7.163,21. Mencatatkan 26 kali rekor kinerja nilai tertinggi sepanjang sejarah (All Time High/ATH), capaian IHSG tertinggi tercatat pada Senin (8/12/2025) yang mencapai level 8.710,69.

Tahun ini, BEI mencatat terdapat 26 penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) dengan nilai pengumpulan dana mencapai Rp18,1 triliun. Sebanyak 6 di antaranya merupakan Lighthouse IPO. Keenam emiten anyar yang melakukan IPO tersebut masing-masing berkode saham RATU, CBDK, YUPI, EMAS, CDIA, dan SUPA.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman menyatakan, tahun 2025 merupakan tahun pembuktian ketahanan dan kesiapan pasar modal Indonesia di tengah tekanan domestik dan ketidakpastian global yang tinggi. Melewati sejumlah fluktuasi tajam, pasar modal Indonesia tahun ini terbukti mampu menjaga stabilitas dan bangkit kembali untuk menorehkan capaian kinerja yang solid.

"Pada paruh pertama 2025, kita menghadapi eskalasi perang dagang, volatilitas nilai tukar, dan ketidakpastian. IHSG sempat mengalami koreksi di titik terendah mencapai level 5.966 hingga terjadi 2 kali trading halt di bulan Maret dan April. Fase krusial ini menguji kesiapan dan ketahanan pasar modal kita," ucap Iman pada seremoni Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025).

Memetik pelajaran penting dari momen-momen kritis tersebut, BEI menempuh langkah-langkah dialog dengan pelaku pasar, mengizinkan tindakan buyback tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), serta memperkuat pengawasan pasar.

Hasilnya, BEI menyaksikan pemulihan yang tidak hanya mencetak rekor ATH, tetapi juga mencapai kapitalisasi mencapai Rp15.810 triliun, kenaikan total penghimpunan dana (fundraise) hingga 27%, serta peningkatan signifikan jumlah investor muda di bawah 40 tahun mencapai 20.324.592 orang, dengan rata-rata 901.000 investor aktif melakukan transaksi bulanan.

Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia Samsul Hidayat menyerahkan voucher investasi simbolis kepada Rizki Setiawan selaku investor ke-20.000.000 dalam Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025). Foto: SUAR/Chris Wibisana

"Dari dinamika, kita belajar kesempatan tidak datang dua kali. Namun, yang jauh lebih penting adalah memanfaatkan peluang yang ada dengan kesiapan, ketepatan respons, dan kolaborasi lewat pengesahan peraturan yang adaptif di tengah pasar modal yang fluktuatif, penguatan infrastruktur perdagangan, serta penambahan produk liquidity provider saham mulai tahun depan," cetusnya.

Iman menegaskan, sebagai momentum refleksi dan apresiasi atas dukungan, BEI berkomitmen melanjutkan sinergi dan kolaborasi bersama OJK, KSEI, dan KPEI sebagai self-regulatory organization (SRO), emiten, serta seluruh pemangku kepentingan pasar modal Indonesia.

"Melalui inovasi produk, respons kebijakan OJK dan SRO yang cepat dan terukur, serta pelaku pasar yang konsisten menjaga disiplin dan kepercayaan kepada BEI, kita akan membentuk fondasi pemulihan yang kokoh dan semakin maju ke depan," pungkas Iman.

0:00
/0:48

Hitung mundur detik-detik Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025). Video: SUAR

Tumbuh dalam badai

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi menyatakan, pasar modal Indonesia saat ini telah berhasil menghadapi tantangan yang menguji ketangguhan dan ketahanan sehingga mendorong pertumbuhan dan memperkokoh fundamental pasar. Sempat tertekan akibat sentimen negatif perdagangan global pada akhir Kuartal-I 2025, IHSG terbukti mampu pulih dan kembali ke tren positif.

"Nilai kapitalisasi pasar Rp15.810 triliun melebihi target roadmap pasar modal dan RPJMN, dengan rasio market cap terhadap PDB mencapai 71,41%. Sisi fundraise juga tumbuh positif mencapai Rp268,14 triliun dari 210 penawaran umum dengan 18 emiten baru dan 2 emiten baru EBUS. Capaian ini melampaui target penghimpunan yang kami tetapkan, yaitu sebesar Rp220 triliun," ucap Inarno dengan bangga.

Direktur Utama BEI 2018-2022 itu menjelaskan, portofolio kinerja industri pengelolaan investasi tahun ini meningkat tajam dengan nilai dana kelolaan tumbuh 24,16% mencapai Rp1.039 triliun. Volume transaksi perdagangan karbon yang mencapai 1,6 juta ton CO2 ekuivalen menghasilkan nilai transaksi Rp80,75 miliar, sementara aktivitas transaksi keuangan derivatif mencapai 997.180 lot.

Guna mengawal capaian tersebut, OJK telah menyelesaikan dan mengeluarkan berbagai kebijakan strategis yang diharapkan memperkuat pasar modal Indonesia dan memperdalam likuiditas pasar. Tiga kebijakan utama yang dikeluarkan OJK di tahun 2025 untuk memperkuat pengawasan pasar modal antara lain,

  1. Peraturan OJK Nomor 1 Tahun 2025 tentang Derivatif Keuangan Berbasis Efek. Aturan milestone ini sekaligus menjadi dasar dimulainya pengawasan keuangan derivatif dengan underline effect oleh OJK;
  2. Peraturan OJK Nomor 9 Tahun 2025 tentang Dematerialisasi Efek Ekuitas dan Aset Tidak Diklaim. Kebijakan ini bertujuan memberikan kepastian hukum bagi aset-aset tidak bertuan yang tidak diklaim dan warkat di pasar modal;
  3. Peraturan OJK Nomor 15 Tahun 2025 terkait Pemeringkatan Reksa Dana dan Manajer Investasi. Kebijakan ini bertujuan memberikan transparansi atas kualitas manajemen reksadana berdasarkan rating dan ranking yang transparan dan akuntabel.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi menyampaikan sambutan kunci dalam Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025). Foto: Otoritas Jasa Keuangan

"Di tahun 2025 OJK juga melakukan transformasi layanan melalui integrasi SPRINT-SPEK OJK dan KSEI untuk pendaftaran produk reksadana yang menyederhanakan perizinan jadi satu pintu, mempercepat waktu layanan, dan meningkatkan akurasi data. Sebagai signatory berbagai MoU multilateral, OJK berkomitmen memastikan pasar modal kita memiliki integritas dengan standar global," ucap Inarno.

Baca juga:

Investor Gen Z Mendominasi Pasar Modal
Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Juni 2025, separuh lebih dari investor di pasar modal berasal dari kalangan di bawah 30 tahun (Gen Z).

Memasuki 2026, OJK memiliki 4 agenda strategis. Pertama, pendalaman pasar lewat penguatan supply, demand, dan infrastruktur pengawasan. Kedua, peningkatan integritas pasar melalui efektivitas sanksi dan kualitas emiten.

Ketiga, penguatan kelembagaan Perusahaan Efek & Manajer Investasi, utamanya dari segi ketahanan siber dan pengendalian internal. Keempat, pengembangan keuangan berkelanjutan dengan perluasan pengguna jasa bursa karbon dan roadmap keberlanjutan 2026–2030.

'Fundamental ekonomi kita yang kuat dan terjaga membuat Indonesia memiliki ruang memadai melanjutkan pengembangan pasar modal berkelanjutan. OJK dan SRO telah menetapkan berbagai prioritas, karena pasar modal yang kuat adalah fondasi untuk ekonomi yang kuat menuju Indonesia Emas," pungkas Inarno.

Seluruh tamu undangan Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2025 berfoto di Aula Utama. Foto: SUAR/Chris Wibisana

Dihubungi secara terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy mengingatkan agar prospek perdagangan saham tahun 2026 tidak semata-mata memaksakan mengejar kuantitas emiten baru, tetapi juga memperhatikan kualitas emiten dengan kapitalisasi besar.

"Utamakan emiten berkualitas, yaitu mereka yang berkomitmen menjaga likuiditas transaksi dan siap menjadi liquidity provider. Free float minimal juga jangan dipaksakan karena untuk market cap ratusan triliun, free float 10% sepertinya sudah bagus karena daya serap bursa kita masih belum besar," ucap Budi saat dihubungi Suar.id, Selasa (30/12/2025).

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Energi, Lingkungan, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional