Hadapi Gejolak Energi Global, Industri Tekstil Siapkan Modernisasi Mesin

Industri tekstil sudah mempersiapkan modernisasi mesin-mesin produksi yang hemat energi bekerja sama dengan berbagai negara.

Hadapi Gejolak Energi Global, Industri Tekstil Siapkan Modernisasi Mesin
Ilustrasi mesin produksi tekstil. Foto: Kevin Limbri / Unsplash
Daftar Isi

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendukung berbagai kebijakan strategis pemerintah menyikapi masalah gejolak harga energi dunia. Namun, berbagai kebijakan penghematan energi tersebut dinilai belum menyentuh sektor industri, khususnya industri tekstil.

Direktur Eksekutif API Danang Girindrawardana mengatakan, industri tekstil sudah mempersiapkan modernisasi mesin-mesin produksi yang hemat energi bekerja sama dengan berbagai negara, bahkan sedang menjajaki peluang menggandeng India.

“Hal ini (modernisasi) perlu dukungan pemerintah, sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan jutaan tenaga kerja di industri padat karya, tekstil dan garmen di Indonesia. Industri padat karya perlu dipertahankan untuk menuntaskan angka pengangguran yang semakin menaik setiap tahun,” kata Danang kepada SUAR di Jakarta (9/4/2026).

Danang menyampaikan salah satu program modernisasi di industri TPT adalah menyusun rencana kerjasama API dengan India ITME Society. India dikenal memiliki teknologi permesinan tekstil yang maju, sehingga diharapkan bisa sinergi dengan kepentingan pemerintah Indonesia dan industri TPT dalam negeri.

“Dukungan penghematan energi, selain roadmap pengurangan energi fosil, mesti dilakukan melalui upgrading teknologi permesinan juga. Jadi perlu upaya besar untuk memperkuat kolaborasi antar negara di sektor tekstil,” tegasnya.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari 2026 nilai ekspor produk tekstil Indonesia dengan dominasi sektor hilir. Ekspor pakaian jadi (konveksi) mencapai sekitar US$609,4 juta, jauh melampaui ekspor benang pintal yang tercatat sebesar US$78,3 juta.

Kondisi ini menunjukkan bahwa produk dengan nilai tambah lebih tinggi seperti garmen tetap menjadi penopang utama kinerja ekspor tekstil nasional, sementara produk hulu seperti benang pintal berperan sebagai bagian penting dalam mendukung keberlanjutan rantai pasok industri tekstil secara keseluruhan.

Dalam waktu dekat, API akan bersama sama delegasi India ITME society untuk membahas perkenalan dengan perusahaan-perusahaan terkemuka India di bidang mesin dan teknologi tekstil yang mencakup sektor spinning, weaving, processing, dyestuff & chemicals, digital printing, technical textiles, hingga sportstech.

Indonesia dengan basis manufaktur tekstil yang kuat serta kemampuan ekspor yang terus berkembang, memiliki sinergi yang sangat baik dengan keunggulan India di bidang rekayasa dan teknologi tekstil. Kolaborasi ini diyakini akan membuka peluang besar dan berkelanjutan dalam memperkuat perdagangan bilateral, mendorong inovasi, serta membangun ekosistem industri tekstil Asia yang lebih kompetitif.

Ketahanan industri nasional

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat ketahanan industri nasional untuk mengantisipasi potensi dampak eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terhadap kinerja manufaktur dan ekonomi Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, konflik di kawasan Timur Tengah itu berpotensi memicu volatilitas harga energi global, gangguan jalur perdagangan internasional, serta peningkatan biaya logistik dan bahan baku industri.

“Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting. Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi mempengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur,” kata Menperin dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (9/4/2026).

Menurut dia, salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap sektor industri adalah potensi gangguan distribusi energi global, mengingat adanya penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak melewati jalur itu.

Menperin menjelaskan, kenaikan harga energi global akan berdampak langsung pada industri manufaktur karena sebagian besar sektor industri menggunakan energi sebagai komponen biaya produksi utama.

“Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu yang panjang, maka biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik. Hal ini tentu dapat mempengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor,” ujar Agus.

Selain energi, konflik geopolitik juga berpotensi mempengaruhi ketersediaan bahan baku industri yang berasal dari pasar global, karena beberapa sektor di Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor, seperti industri kimia, petrokimia, tekstil, logam, hingga industri makanan dan minuman.

Menperin menambahkan, gangguan pada jalur perdagangan internasional juga dapat mempengaruhi kinerja ekspor industri manufaktur karena konflik geopolitik biasanya memicu volatilitas pasar global.

Meski demikian, pemerintah terus melakukan langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan industri nasional. Salah satunya melalui penguatan struktur industri hulu, peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta diversifikasi pasar ekspor.

“Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik,” jelasnya.

Baca juga:

Peluang Emas Tarif 0% Produk Tekstil Indonesia di Pasar Amerika Serikat
Adanya The Agreement on Reciprocal Trade (ART) 2026 membawa mekanisme Tariff-Rate Quota (TRQ) sebagai penyelamat industri di tengah ancaman tarif resiprokal yang tinggi. Mekanisme ini memberikan jalur hijau berupa tarif 0% bagi volume ekspor tertentu produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia.

Pemerintah juga mendorong peningkatan efisiensi energi di sektor industri, serta percepatan transformasi menuju industri hijau guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang harganya sangat dipengaruhi dinamika geopolitik.

Selain itu, Kemenperin terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, asosiasi, serta kementerian dan lembaga terkait, guna memastikan manufaktur tetap tumbuh di tengah dinamika ekonomi dunia.

Diversifikasi pasar ekspor

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia perlu mengadopsi strategi diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan yang terdampak konflik Timur Tengah. Pelaku usaha didorong memperluas penetrasi ke pasar non-tradisional seperti Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan yang memiliki potensi pertumbuhan permintaan. 

Selain itu, penguatan pasar domestik juga menjadi penting melalui kampanye penggunaan produk lokal serta peningkatan daya saing harga dan kualitas agar mampu menyerap produksi dalam negeri.

“Di sisi hulu, strategi pengamanan pasokan bahan baku menjadi krusial di tengah potensi terganggunya rantai pasok global. Industri TPT perlu mencari alternatif sumber bahan baku, baik dari negara lain maupun dengan memperkuat industri petrokimia dan serat sintetis dalam negeri,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (9/4).

Langkah efisiensi energi dan logistik juga harus dipercepat, mengingat konflik global kerap memicu lonjakan harga minyak yang berdampak pada biaya produksi dan distribusi.

Selain itu, transformasi industri melalui digitalisasi dan peningkatan nilai tambah produk menjadi kunci untuk bertahan dalam situasi global yang tidak menentu. 

Baca selengkapnya

Ω