Pelaku UMKM Sumbang Ekspor Rp9,2 Triliun

Pelaku UMKM Sumbang Ekspor Rp9,2 Triliun

Jumlah pelaku UMKM yang potensial menjadi eksportir cukup besar. Namun, umumnya masih memerlukan pendampingan terkait prosedur dan cara pengiriman.

Pelaku UMKM Sumbang Ekspor Rp9,2 Triliun
Dalam Artikel Ini

Penyelenggaraan pameran perdagangan Trade Expo Indonesia yang ke-41 pada tahun ini mencatat transaksi senilai USD 22,94 miliar (Rp414 triliun) dari target awal yang ditetapkan USD 17,5 miliar (Rp316 triliun). Sebagian di antaranya berasal dari pelaku UMKM.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan, MoU yang ditandatangani antara eksportir dengan importir mencapai total 426. Di hari pertama penyelenggaraan pameran saja, kesepakatan yang diteken mencapai 169 MoU dari 22 negara, dengan nilai USD 13,2 miliar (Rp238 triliun).

"Dari total nilai transaksi yang dihasilkan, UMKM pun turut berkontribusi dengan menciptakan nilai transaksi sebesar USD 510 juta (Rp9,2 triliun),” ujarnya saat Closing Ceremony TEI ke-41, Minggu (18/10/2026).

Pameran ini diikuti oleh 1.873 exhibitor dengan jumlah pengunjung 45.286 orang dan buyer dari luar negeri sebanyak 9.600 dari 145 negara. Adapun 5 negara dengan nilai transaksi tinggi dipimpin oleh India, diikuti oleh Belanda, Bangladesh, Uni Emirat Arab, dan Jepang.

Potensi dan Tantangan Ekspor Bagi UMKM

Wakil Ketua Umum Bidang Daya Saing Ekspor Kadin Indonesia Puti Reno Ali mengatakan, berdasarkan hasil pemetaan dari Kadin, saat ini terdapat 177 ribu UMKM yang potensial untuk menembus pasar ekspor. Angka tersebut pun hanya sebatas potensi apabila tidak ada standarisasi ataupun pengenalan terhadap pasar, yang mana hal tersebut masih menjadi tantangan pada saat ini.

“Indonesia tidak kekurangan produk, tapi kekurangan eksportir. Saat ini kita baru 35-40 ribu eksportir, dan kontribusi UMKM terhadap ekspor itu baru 15%, padahal UMKM adalah 96% dari total usaha yang ada di Indonesia,” ucap Puti.

Dukungan pemerintah sebagai fasilitator untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli diperlukan. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Perdagangan adalah dengan penyelenggaraan Trade Expo Indonesia.

Wakil Ketua Umum Bidang Daya Saing Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Puti Reno Ali dalam Talkshow Kadin yang diselenggarakan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Minggu (18/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Mentor ekspor Fernandes Raymond mengungkapkan, berdasarkan pengalamannya melakukan pendampingan terhadap para pelaku usaha calon eksportir, masih banyak yang belum memahami terkait tata cara melakukan pengiriman barang ke negara tujuan. Demi mempermudah kondisi itu, eksportir pun bisa memanfaatkan jasa perusahaan freight forwarder yang membantu proses logistik. 

“Pengalaman saya mendampingi eksportir, mereka sudah ikut pameran dan dapat pembeli, dapat pesanan, tapi mereka tidak tahu harus bagaimana selanjutnya, mungkin karena tidak mengerti tentang bea cukai, pengiriman, bahkan tentang logistiknya,” ucap Fernandes.

Baca juga:

Bidik Ekspor Perikanan ke Mesir, Seberapa Besar Peluang Indonesia?
Mesir membuka peluang ekspor baru bagi produk perikanan asal Indonesia. Logistik dan standar mutu perlu dipersiapkan.

Peningkatan nilai tambah dan menjaga kualitas produk agar memiliki daya tarik di pasar global harus dijaga secara konsisten. Ketika produk dari suatu perusahaan ekspor memiliki nilai kualitas, pembeli maupun masyarakat pun akan datang mengikuti.

“Eksportir juga perlu memanfaatkan website, karena itu akan membantu dilihat oleh pembeli dari Google. Dan website pelaku usaha ini bukan hanya diisi profil dari produk, tapi juga harus aktivitas bisnis, dan ini harus ditampilkan secara konsisten,” tegasnya.

Kualitas Produk hingga Citra Perusahaan

Tak cukup hanya memastikan kualitas produk, pelaku usaha yang ingin menembus pasar ekspor juga harus menyiapkan rantai pasok, kemampuan usaha dalam membaca peluang pasar, serta sinergi antara seluruh pemangku kepentingan.

Direktur Bisnis PT Fabulous Agro Mandiri Riezka Rahmatiana menjelaskan, branding perusahaan juga menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan pelaku usaha untuk bisa menembus pasar ekspor. Eksportir perlu membangun citra perusahaan secara profesional agar lebih mudah dikenal oleh calon pembeli.

“Perusahaan kita harus profesional, website-nya harus profesional, katalog atau flyer juga harus disertakan dengan kapasitas produksinya seperti apa, bisnisnya bergerak di bidang apa, kemudian portofolio kita sudah supply ke negara mana saja misalnya,” ujar Riezka dalam Talkshow Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Minggu (18/10/2026).

PT Fabulous Agro Mandiri merupakan perusahaan perdagangan yang berdiri pada 25 Juli 2025 di bawah bendera F Corporation. Perusahaan menjadi eksportir komoditas pangan dan nonpangan.

Direktur Bisnis PT Fabulous Agro Mandiri Riezka Rahmatiana (tengah) dalam Talkshow Kadin yang digelar dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Minggu (18/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Perempuan yang juga menjadi Owner PT Kahuripan Niaga ini menambahkan, selain membangun citra perusahaan dengan baik, konsistensi dalam pemanfaatan media sosial dan memperluas jejaring bisnis pelaku usaha juga tidak kalah penting. Konsistensi dalam membagikan informasi mengenai aktivitas bisnis sebuah usaha pun ternyata juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan oleh buyer.

Riezka mengatakan, pelaku usaha juga perlu membangun hubungan yang baik dengan calon pembeli demi memperbesar peluang ekspor. Salah satu caranya pun dapat dilakukan dengan keikutsertaan dalam pameran dagang yang mempertemukan eksportir dengan calon pembeli.

“Itu kita harus bangun relasi dan hubungan yang baik, jangan lupa follow up  untuk membangun hubungan dan menghasilkan transaksi yang positif,” lanjutnya.

Begitu pula dengan keikutsertaan dalam sebuah organisasi yang menjadi wadah pengusaha. Keikutsertaan organisasi bisnis memegang peranan penting dalam memperluas jaringan dan membuka peluang ekspor.

Penuhi Persyaratan Ekspor

Direktur PT Berkah Nusantara International Fauzan Munif Hilabi menjelaskan, pelaku usaha eksportir perlu memastikan legalitas usahanya serta kesesuaian KBLI dalam NIB dengan kegiatan usaha yang dijalankan. Selain itu, eksportir perlu memahami kode HS dan memastikan persyaratan impor di negara tujuan juga telah dipenuhi oleh pembeli.

“Teman-teman UMKM itu kan ingin ekspor, dokumennya siap, terus ternyata pembeli di negara tujuan itu belum lengkap dokumennya. Hal itu bisa menjadi kendala ketika pembeli barang belum memiliki izin impor, sehingga perlu dikomunikasikan dengan buyer,” tambah Fauzan.

Bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi logistik (freight forwarding) serta jasa pengurusan ekspor-impor, ia menambahkan, skema pengiriman dan kesepakatan sejak awal dengan pembeli perlu ditentukan, termasuk Free on Board (FOB) atau Cost, Insurance, and Freight (CIF) lantaran keduanya memiliki pembagian tanggung jawab yang berbeda.

Penyesuaian biaya yang dikeluarkan dalam pengiriman produk ke luar negeri dapat dilakukan dengan pemilihan jalur udara atau laut, dengan menyesuaikan jenis barang, volume, hingga kebutuhan waktu pengiriman. Biaya logistik pun juga dipengaruhi dengan negara tujuan.

Fauzan mencontohkan, biaya pengiriman satu kontainer ke negara ASEAN seperti Malaysia relatif lebih murah dengan berkisar antara USD 200-300 dolar.

“Saat ini yang mahal itu biaya ke Timur Tengah yang di atas USD 5.000, dan itu besar karena kondisi geopolitik yang sedang perang membuat biaya menjadi meningkat,” ungkapnya.


ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)