Dikepung Risiko Global, IHSG Bergerak Meniti Keseimbangan

Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap Israel, memperburuk kekhawatiran pasar.

Dikepung Risiko Global, IHSG Bergerak Meniti Keseimbangan
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom.
Daftar Isi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin (30/3/2026) di zona negatif tipis setelah sempat mengalami tekanan tajam sejak awal sesi. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terkoreksi 5,38 poin atau 0,08% ke level 7.091,67, dengan pergerakan intraday yang cukup lebar di kisaran 6.945,50 hingga 7.104,64.

‎Sejak pembukaan, tekanan langsung terasa di pasar saham domestik. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG sempat merosot 76,52 poin atau 1,08% ke level 7.020. Aktivitas perdagangan awal mencatatkan volume 662 juta saham dengan nilai transaksi Rp621 miliar dan frekuensi 84.316 kali. Mayoritas saham bergerak di zona merah dengan 351 saham melemah, dibandingkan 146 saham yang menguat dan 184 saham stagnan.

‎Tekanan tersebut tidak terlepas dari sentimen eksternal, terutama kenaikan harga minyak mentah yang kembali terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik. Mengacu pada analisis Phintraco Sekuritas, Senin (30/3/2026), keraguan terhadap kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama kenaikan harga energi global.

‎Selain itu, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap Israel, memperburuk kekhawatiran pasar. Kondisi ini memunculkan risiko gangguan pasokan minyak, meskipun Iran sempat memberikan kelonggaran bagi sejumlah kapal untuk melintas di Selat Hormuz.

Aktivitas perdagangan sepanjang hari mencapai 25,05 miliar lembar saham dengan frekuensi 1,66 juta transaksi dan nilai transaksi sebesar Rp14,9 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat berada di level Rp12.536 triliun.

Pipeline IPO Ramai, IHSG Tetap Terkendali

Pergerakan IHSG dinilai masih mencerminkan respons yang rasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk eskalasi konflik geopolitik di kawasan Selat Hormuz, Iran.

BEI menilai pelaku pasar tetap mengedepankan pertimbangan fundamental dalam merespons sentimen eksternal tersebut, sementara aktivitas penghimpunan dana di pasar modal, termasuk rencana penawaran umum perdana saham (IPO), masih berada dalam tahap antrean.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan dinamika perdagangan saham domestik selama ini menunjukkan pola yang terukur.

“Kalau kita lihat hari ini, pasar kita merespons cukup rasional dengan perkembangan terakhir yang di Timur Tengah,” kata Jeffrey dalam keterangannya.

Menurutnya, ketegangan geopolitik berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan komoditas global. Kondisi tersebut pada gilirannya dapat memberikan dampak terhadap kinerja emiten, khususnya yang bergerak di sektor energi dan komoditas terkait. Meski demikian, ia menekankan pentingnya sikap rasional investor dalam menyikapi volatilitas yang muncul.

BEI mengimbau investor, baik ritel maupun institusi, untuk tetap mencermati kondisi pasar dan berfokus pada fundamental perusahaan dalam mengambil keputusan investasi. Pendekatan tersebut dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasar di tengah fluktuasi sentimen global.

Di tengah kondisi pasar yang masih dipengaruhi faktor eksternal, aktivitas penawaran saham baru tercatat belum terealisasi sejak awal tahun. Hingga akhir Maret 2026, belum ada perusahaan yang melaksanakan IPO di BEI. Meski demikian, minat korporasi untuk masuk ke pasar modal tetap terlihat dari antrean perusahaan yang tengah bersiap melantai di bursa.

BEI mencatat terdapat 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham. Mayoritas berasal dari perusahaan dengan aset besar, yakni di atas Rp250 miliar, sebanyak 11 perusahaan. Sektor keuangan menjadi kontributor utama dalam antrean tersebut, disusul oleh sektor lain seperti konsumer, energi, kesehatan, serta transportasi dan logistik.

Selain dari sisi ekuitas, penghimpunan dana melalui instrumen utang juga masih berlangsung. Hingga akhir Maret 2026, nilai penerbitan obligasi telah mencapai Rp50,87 triliun dari 45 emisi yang dilakukan oleh 30 penerbit. Sektor keuangan mendominasi dengan porsi sekitar 50 persen, diikuti sektor infrastruktur sebesar 28,6 persen dan energi 10,7 persen.

Di sisi lain, terdapat 28 emisi dari 20 perusahaan yang masih dalam proses penerbitan obligasi. Komposisinya didominasi sektor keuangan dengan 10 perusahaan dan sektor infrastruktur sebanyak 6 perusahaan. Sementara itu, sektor energi diwakili oleh 2 perusahaan, serta masing-masing satu perusahaan dari sektor basic materials dan konsumer.

Untuk aksi korporasi lainnya, BEI mencatat tiga perusahaan telah merealisasikan rights issue dengan total nilai Rp3,75 triliun. Selain itu, satu perusahaan dari sektor properti masih berada dalam antrean untuk melaksanakan aksi serupa.

Dikepung risiko global, investor perlu waspada

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai sentimen global yang didominasi risiko geopolitik membuat pelaku pasar menahan eksposur, terutama setelah IHSG ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan lalu.

Sebagai informasi, pada Jumat (27/3/2026), IHSG terkoreksi 67 poin atau 0,94% ke level 7.097,07. Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp1,76 triliun di seluruh pasar, sementara nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.961 per dolar AS. Dalam sepekan, indeks hanya turun tipis 0,14%, namun tekanan dari arus keluar dana asing tercatat signifikan mencapai sekitar Rp22 triliun.

Tekanan pada IHSG tidak terlepas dari dinamika global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah yang memasuki minggu kelima dan berdampak pada jalur distribusi energi utama dunia di Selat Hormuz. Penutupan sebagian jalur tanker minyak serta serangan terhadap infrastruktur energi memicu lonjakan harga minyak mentah global hingga di atas USD100 per barel, bahkan sempat menyentuh USD113 per barel untuk Brent.

Kondisi tersebut memperkuat sentimen negatif di pasar keuangan global. Bursa saham Amerika Serikat ditutup di zona merah, dengan S&P 500 turun 1,8%, Nasdaq melemah 2,2%, dan Dow Jones terkoreksi 1,7%. Tekanan juga terjadi di pasar Eropa dan Asia, mencerminkan kekhawatiran bahwa shock energi dapat mendorong inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Menurut Liza, pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita (headline-driven), terutama terkait arah konflik Iran dan respons negara-negara besar. Meskipun terdapat sinyal diplomasi, termasuk penundaan aksi militer oleh Presiden AS Donald Trump hingga awal April, pasar belum merespons positif karena risiko eskalasi dinilai masih tinggi.

“Kami ingatkan para investor/trader untuk masih lebih banyak menahan diri, wait & see menunggu perkembangan perang US–Iran serta data payroll US dan data inflasi Indonesia (Maret), serta keputusan mitigasi risiko krisis BBM yang sedianya dirilis pemerintah pekan ini,” ungkap Liza.

Selain faktor geopolitik, lonjakan harga energi juga mulai berdampak pada ekspektasi kebijakan moneter global. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,43%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi inflasi. Kondisi ini mendorong pasar mulai mengurangi harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan membuka peluang pengetatan kebijakan pada 2026.

Di dalam negeri, risiko energi juga menjadi perhatian setelah gangguan di Selat Hormuz sempat menahan dua kapal tanker Pertamina. Meskipun akhirnya diizinkan keluar, kapasitas pasokan yang terbatas menunjukkan kerentanan rantai pasok energi nasional terhadap gangguan global.

Menurut Liza, pelaku pasar untuk saat ini bakal mencermati perkembangan geopolitik, data ekonomi global, serta kebijakan domestik terkait mitigasi risiko energi sebagai faktor penentu arah pergerakan berikutnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Antony Dirga dari PT Trimegah Asset Management menyatakan kondisi pasar saat ini mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan tantangan internal yang membuat pergerakan IHSG cenderung rentan.

Antony menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik global, khususnya konflik di Iran, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong volatilitas pasar. Konflik tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi utama minyak dan gas dunia.

“Ini menaikkan potensi suplai risk untuk minyak,” ujar Antony.

Ia menjelaskan bahwa sekitar 20% hingga 30% distribusi minyak dan gas global melewati jalur tersebut, sehingga potensi gangguan akan langsung tercermin pada lonjakan harga energi.

Harga minyak yang sebelumnya berada di kisaran USD70 per barel telah naik ke level USD100, memicu tekanan inflasi global dan mengubah ekspektasi kebijakan moneter. Menurut Antony, pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, seiring peran mereka sebagai penjaga inflasi.

Perubahan ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus keluar dana dari aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang seperti Indonesia. Dalam kondisi ini, IHSG tercatat mengalami koreksi signifikan, bahkan menjadi salah satu pasar dengan kinerja terburuk di kawasan.

“Reaksi market sejauh ini dengan adanya gonjang-ganjing di Iran, tentunya semua aset yang dianggap risky itu turun harganya,” kata Antony.

Baca juga:

Pasar Modal Indonesia Lebih Unggul, Tetapi Masih Harus Berbenah
Dengan jumlah investor yang mencapai 23 juta investor dan nilai kapitalisasi pasar sebesar 891,03 juta dolar AS, pasar modal Indonesia menjadi yang terbesar dan terkuat di antara 6 negara utama anggota ASEAN.

Selain tekanan global, IHSG juga menghadapi risiko domestik, termasuk potensi penurunan status pasar oleh MSCI serta revisi outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional. Antony menyebutkan bahwa MSCI memberikan sinyal kemungkinan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, yang berpotensi memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar.

“Kalau di-downgrade menjadi frontier market, bisa potensi ada outflow lebih dari 10 billion US, itu worst case-nya,” jelas dia.

Di sisi lain, tekanan fiskal juga meningkat seiring kenaikan harga minyak. Antony menjelaskan bahwa setiap kenaikan USD10 harga minyak dapat memperlebar defisit fiskal Indonesia sekitar 0,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Kondisi ini menjadi perhatian karena posisi defisit sudah mendekati batas 3% yang ditetapkan pemerintah.

Ia juga menyoroti bahwa sekitar 20% pasokan energi Indonesia masih bergantung pada Timur Tengah, sehingga gejolak di kawasan tersebut tetap berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Meski demikian, Antony menilai Indonesia memiliki sejumlah penopang, seperti produksi batu bara dan kelapa sawit yang dapat menjadi sumber energi alternatif. Selain itu, peran investor domestik juga mulai meningkat, termasuk dari institusi seperti BPJS Ketenagakerjaan yang memperbesar porsi investasi di pasar saham.

Dari sisi valuasi, Antony menyebut pasar saham Indonesia saat ini berada pada level yang relatif murah dibandingkan rata-rata historis. Dividend yield saham-saham unggulan bahkan berada di atas imbal hasil obligasi pemerintah jangka pendek, kondisi yang terakhir terjadi pada periode krisis.

“Intinya saham ini sekarang kondisinya murah sekali dibandingkan dengan obligasi,” ungkap Antony.

Namun, di tengah tingginya ketidakpastian global, ia menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dalam mengambil posisi. Investor, imbuhnya, dapat mulai mengoleksi saham secara bertahap dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing.

Author

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya