Di Bawah Rayuan Manipulator

Kecerdasan politik digunakan membangun konsensus dan mencapai tujuan organisasi. Machiavellianisme menggunakan kecerdasan politik untuk mengendalikan orang lain demi kepentingan pribadi.

Di Bawah Rayuan Manipulator
Photo by Marek Pavlík / Unsplash

Tidak ada organisasi tanpa politik. Selama manusia bekerja bersama, kepentingan akan bertemu. Selama kepentingan bertemu, negosiasi akan terjadi. Dan selama ada perbedaan kepentingan, akan selalu ada upaya untuk memengaruhi keputusan.

Karena itu, politik organisasi pada dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang buruk. Masalah muncul ketika politik tidak lagi menjadi sarana untuk mencapai tujuan organisasi, melainkan menjadi tujuan itu sendiri.

Seorang manajer menggunakan pengaruhnya untuk mendapatkan dukungan bagi strategi perusahaan. Itu politik. Seorang eksekutif membangun hubungan lintas divisi agar proyek berjalan. Itu juga politik. Demikian juga saat seorang CEO bernegosiasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendapatkan keputusan terbaik.

Tetapi ketika seseorang mulai menyembunyikan informasi agar pesaingnya gagal, mengambil kredit atas pekerjaan orang lain, menjatuhkan rekan yang dianggap mengancam posisinya, atau menyusun narasi palsu demi mendapatkan promosi, politik telah berubah menjadi manipulasi.

Di sinilah Machiavellianisme menemukan ruang hidupnya.

Machiavellianisme bukan sekadar tentang orang jahat yang suka memanipulasi. Ia jauh lebih subtil dari itu. Ia adalah seni menggunakan manusia, informasi, hubungan, dan persepsi sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tertentu.

Dan dalam organisasi, tujuan itu sering kali bukan lagi keberhasilan bersama. Melainkan kekuasaan, karier, pengaruh. Atau hanya sebuah kemenangan pribadi.

Yang membuatnya berbahaya adalah kenyataan bahwa Machiavellianisme hampir tidak pernah tampil sebagai dirinya sendiri.  Ia datang sebagai kecerdasan politik, juga sebagai kemampuan membaca situasi.

Politik Machiavellian memperbesar kapasitas individu dengan mengorbankan organisasi.  Di sinilah moralitas kepemimpinan mulai diuji. Sebab kekuasaan tidak otomatis membuat manusia menjadi buruk. Tetapi kekuasaan memperbesar kesempatan bagi seseorang untuk memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya.

Nama Niccolò Machiavelli sering digunakan sebagai simbol kelicikan politik. Padahal, pemikiran Machiavelli jauh lebih kompleks daripada sekadar ajaran untuk menipu atau memanipulasi.

Namun, dalam psikologi modern, istilah Machiavellianisme berkembang menjadi konsep yang menggambarkan kecenderungan individu untuk bersikap kalkulatif, manipulatif, sinis terhadap manusia, dan berorientasi pada kepentingan pribadi.

multicolored paint on woman's back
Photo by Mar Bustos / Unsplash

Dalam dunia bisnis, kecenderungan ini dapat menghasilkan sebuah tipe manusia yang sangat menarik. Ia mungkin tidak selalu paling pintar. Tetapi ia tahu siapa yang harus diyakinkan. Ia mungkin tidak selalu paling produktif. Tetapi ia tahu siapa yang harus dibuat percaya.

Karena itu, ia tidak selalu berusaha mengubah kenyataan. Ia cukup mengubah cara orang melihat kenyataan. Machiavellianisme tidak selalu merupakan penyakit individu. Kadang ia adalah produk dari sistem yang salah memberi insentif.

Organisasi yang menghargai hasil tanpa memperhatikan cara mencapainya sedang menciptakan ruang bagi manipulasi.

Dalam organisasi yang sehat, CEO tidak seharusnya menjadi orang yang paling sering benar. CEO seharusnya menjadi orang yang paling mampu mengoreksi kesalahan ketika ternyata salah.

Ini membutuhkan kerendahan hati. Dan kerendahan hati adalah salah satu penangkal paling kuat terhadap Machiavellianisme. Pemimpin yang rendah hati tidak mudah dimanipulasi oleh pujian.

Ia tahu bahwa jabatan tidak membuat dirinya lebih pintar. Ia memahami bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar kemungkinan informasi yang diterimanya telah mengalami penyaringan.

Karena itu, pemimpin yang sehat membangun mekanisme untuk mendengar suara yang berbeda. Ia mencari orang yang berani tidak setuju. Ia bertanya kepada orang yang tidak memiliki kepentingan langsung dalam keputusan. Dan yang terpenting, ia tidak menghukum pembawa kabar buruk.

Orang yang memberi tahu Anda bahwa ada masalah sedang membantu Anda. Orang yang menyembunyikan masalah sedang membantu dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Machiavellianisme berkembang ketika organisasi lebih menghargai persepsi daripada kenyataan, lebih menghargai kedekatan daripada kompetensi, dan lebih menghargai loyalitas kepada individu ketimbang loyalitas kepada kebenaran.

Karena itu, pertahanan terbaik terhadap Machiavellianisme bukanlah sekadar mencari orang-orang yang manipulatif. Pertahanan terbaik adalah menciptakan organisasi yang tidak memberikan hadiah kepada manipulasi.

Sebab ketika sistem memberi penghargaan kepada kejujuran, manipulasi menjadi mahal. Ketika sistem memberi ruang bagi kritik, penjilatan kehilangan nilai. Dan ketika pemimpin berani mendengar apa yang tidak ingin didengarnya, kekuasaan kembali memiliki cermin.

Pada akhirnya, mungkin inilah ujian terbesar seorang CEO, bukan seberapa banyak orang yang bersedia mengikutinya, tetapi seberapa banyak orang yang masih berani mengatakan kepadanya ketika ia sedang berjalan ke arah yang salah.

Author

Baca selengkapnya