Danantara Bidik USD30 Miliar di New Asia Forum, Fokus 8 Sektor Utama
Delapan sektor tersebut meliputi sumber daya strategis dan hilirisasi, energi dan ketenagalistrikan, mobilitas dan manufaktur maju, infrastruktur digital, pangan dan agribisnis, perdagangan dan konektivitas, pariwisata dan ekonomi kreatif, serta pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
•
3 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Foto udara suasana salah satu industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (22/10/2026). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/tom.
Dalam Artikel Ini
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menargetkan investasi lebih dari USD30 miliar untuk kawasan Asia melalui penyelenggaraan New Asia Forum (NAF), dengan pada delapan sektor strategis dan penguatan kemitraan investor global.
Agenda tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada 3-4 Desember 2026, di The Mulia, Nusa Dua, Bali.
Sementara itu, Indonesia sendiri diharapkan mampu menarik sekitar 40-50% seiring dengan upaya mendorong masuknya modal jangka panjang ke sektor-sektor strategis.
Demikian disampaikan oleh Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara, Pahala Mansury, dalam Coffee Morning Session yang digelar Danantara di Wisma Danantara, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026).
“Kita mendorong untuk bisa mendapatkan USD 30 miliar, khususnya untuk ke sektor energi, mineral kritis, dan infrastruktur digital, ini adalah satu sektor yang saat ini Indonesia punya momentum yang baik,” kata Pahala.
Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara, Pahala Mansury, dalam Coffee Morning Session yang digelar Danantara di Wisma Danantara, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026). (Foto: Gema Dzikri/ SUAR)
Indonesia pun memiliki peluang yang besar untuk menarik porsi investasi dari target investasi ke kawasan Asia tersebut, sejalan dengan potensi pertumbuhan ekonomi dan peluang investasi di berbagai sektor strategis.
“Dilihat dari angka-angka yang ada, kita optimis buat Indonesia bukan sesuatu hal yang mustahil untuk mencapai USD 30 miliar, kita berharap ya mungkin 40-50% akan ke Indonesia,” jelasnya.
Adapun target yang ditetapkan ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan antara kontribusi Asia terhadap ekonomi global dan porsi arus modal yang masuk ke kawasan tersebut. Mobilisasi investasi ini diperlukan guna mendukung pertumbuhan ekonomi Asia yang berkelanjutan, sehingga aliran modal global yang masuk ke kawasan Asia sejalan dengan kontribusi Asia terhadap perekonomian dunia.
Pahala menjelaskan, selama ini kawasan Asia memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 60%. Tetapi di sisi lain, arus permodalan dari total global capital justru kurang dari 30% yang masuk ke Asia.
“Kita melihat ada ketidakseimbangan, padahal kalau mau pertumbuhan yang sustainable tentunya kita juga harus mendapatkan arus permodalan juga. Kontribusi Asia ini sebetulnya gak mendapatkan porsi yang sesuai dari arus permodalan dunia,” ucap Pahala.
Demi merealisasikan target tersebut, Danantara dalam rangkaian NAF akan menghadirkan sesi Capital Commit yang ditujukan untuk mendorong komitmen investasi ke berbagai proyek strategis di kawasan Asia.
Adapun sesi Capital Commit mencakup beberapa hal seperti jalur yang berfokus pada jalan menuju pengembangan kapasitas 5,2 GW melalui energi terbarukan dan energi sirkular, pembangunan infrastruktur digital, hingga pengembangan rantai dingin Asia melalui sertifikasi dan pusat konsolidasi.
Delapan sektor prioritas
Danantara dalam NAF telah menetapkan 8 sektor prioritas yang menjadi fokus pembahasan dan penjajakan investasi. Sektor tersebut meliputi sumber daya strategis dan hilirisasi, energi dan ketenagalistrikan, mobilitas dan manufaktur maju, infrastruktur digital, pangan dan agribisnis, perdagangan dan konektivitas, pariwisata dan ekonomi kreatif, serta pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
“Kita melihat sektor terkait pariwisata dan ekonomi kreatif, ataupun juga pertumbuhan di sektor-sektor lain, itu membutuhkan talenta, pendidikan untuk menbangun talenta,” ujarnya.
Dengan adanya dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, berbagai peluang terbuka lebar untuk Indonesia maupun negara-negara di kawasan Asia dalam menarik arus investasi global, seperti di sektor infrastruktur digital atau pusat data.
Sejumlah investor global mulai dari asset allocator, sovereign wealth fund, hingga perusahaan private equity akan hadir di Indonesia menjajaki berbagai peluang investasi yang ditawarkan. Meningkatnya risiko keamanan di kawasan Timur Tengah berpotensi mendorong investor dalam mencari destinasi alternatif untuk menempatkan modalnya.
“Data center yang selama ini terkonsentrasi di Timur Tengah, kita harapkan bisa bergeser mencari rumah dan mencari tempat baru ke negara kita, ini momentum yang baik,” ujarnya.
Indonesia sendiri terbuka terhadap masuknya modal dari berbagai negara. Namun, diharapkan negara-negara besar seperti Amerika ataupun China bisa menempatkan modalnya dan berinvestasi di Indonesia.
“Tentunya China, Amerika Serikat, adalah dua negara yang kita harapkan, selain daripada negara-negara Timur Tengah,” harapnya.
Managing Director Investment Danantara Investment Management Stefanus Ade hadiwidjaja dalam Coffee Morning Session yang digelar Danantara di Wisma Danantara, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).
Tak ganggu energi yang ada
Sementara itu, Managing Director Investment Danantara Investment Management, Stefanus Ade hadiwidjaja menjelaskan, Danantara dalam hal menerima investasi pusat data berskala besar yang menerapkan prinsip bring your own energy.
“Di atas 500 megawatt, kita tidak mau mengganggu pasokan energi yang ada di Indonesia sekarang untuk industrialisasi dan juga masyarakat. Jadi kalau mau berinvestasi di Indonesia, harus berinvestasi dari sisi energi. Kalau memang skalanya kecil, itu pun harus dengan harga yang menguntungkan buat PLN,” tambah Stefanus.
Investasi yang masuk ke Indonesia tentunya harus dipastikan memberikan manfaat untuk masyarakat Indonesia itu sendiri, salah satunya adalah melalui penciptaan lapangan kerja.
“Investasi itu menciptakan lapangan kerja, kalau kita ngomong target yang mau kita bawa ke Indonesia itu skalanya besar, dari sisi konstruksinya, kontraktornya, itu kita harap menciptakan lapangan kerja yang besar, ada rasionya. Per 100 megawatt itu bisa beberapa ribu tenaga kerja yang dipekerjakan pada saat persiapan,” ungkapnya.