Danantara Bidik Investasi Berbasis Teknologi dan Inovasi di Enam Sektor
Pembangunan ekosistem industri dan investasi berbasis teknologi ini menjadi langkah penting untuk mendukung program ekonomi pemerintah.
Pembangunan ekosistem industri dan investasi berbasis teknologi ini menjadi langkah penting untuk mendukung program ekonomi pemerintah.
Danantara tengah membidik peluang investasi berbasis inovasi dan teknologi di enam sektor strategis, di antaranya yang berkaitan dengan ketahanan pangan, ketahanan energi, infrastruktur mobilitas, hingga industri keuangan.
Pengembangan industri berbasis teknologi dan inovasi ini pun menjadi salah satu strategi dari Danantara untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dan memperkuat daya saing nasional.

Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa menegaskan, pembangunan ekosistem industri dan investasi berbasis teknologi ini menjadi langkah penting untuk mendukung program ekonomi pemerintah.
“Satu-satunya jalan, kalau kita ingin membangun industri ke depan yang memiliki dampak ekonomi cukup tinggi, jalan yang ditempuh adalah membangun industri berbasis teknologi dan inovasi,” kata Sigit dalam konferensi pers yang digelar di Wisma Danantara, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).
Fokus pengembangan diarahkan pada sejumlah sektor strategis mencakup energi; pertanian, pangan, dan kesehatan; material maju dan semikonduktor; transportasi dan infrastruktur; keuangan dan perbankan; infrastruktur digital dan telekomunikasi.
Dalam hal energi atau hilirisasi mineral, Danantara memiliki strategi yang tidak hanya berfokus pada kegiatan ekstraksi bahan mentah di sisi hulu maupun perakitan di sisi hilir, tetapi juga mencakup pengembangan rantai industri secara terintegrasi sehingga memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar.
“Kalau ekstraktif itu dampak ekonominya mungkin hanya 1,2-1,5. Kalau perakitan hanya 1,4-1,9. Kalau diintegrasikan dari hulu, tengah, hingga hilir, bahkan bisa sampai 20 kali lipat dampak ekonominya,” ujarnya.
Dalam pengembangannya, Danantara menerapkan tiga prinsip utama yakni berbasis sumber daya alam kebutuhan pasar, serta teknologi dan inovasi. Ketiga hal ini diarahkan demi mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik, memperkuat pasar, hingga meningkatkan penguasaan teknologi guna mendorong pengembangan industri dalam negeri yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Tiga hal ini harus kita bangun bersama-sama, jadi sebuah ekosistem di mana ada resource driven yang kita tidak perlu impor, demand driven dari domestik, dan sekarang tinggal kita bangun talenta-talenta yang bisa kita tawarkan kepada para investor,” jelasnya.
Danantara juga menaruh perhatian pada salah satu infrastruktur pendukung dalam pengembangan industri berbasis teknologi dan inovasi, yakni pusat data atau data center. Infrastruktur pendukung ini pun semakin dibutuhkan seiring dengan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan yang membutuhkan kapasitas komputasi besar.
Nilai tambah dalam infrastruktur pendukung ini juga dibutuhkan. Sigit mencontohkan, dari investasi pusat data yang bisa mencapai USD 3-4 miliar, Indonesia belum mendapatkan manfaat ekonomi yang besar apabila hanya mengandalkan penyewaan lahan.
“Revenue kita kalau hanya menyewakan lahan itu sekitar USD 100-150 juta. Tapi kalau kita membangun dan memiliki, revenue-nya bisa USD 1,5-1,7 miliar, itu kenapa kita punya roadmap bagaimana kita membangun industri berbasis teknologi,” lanjut Sigit.
Demi menarik investasi sekaligus mempercepat pengembangan industri berbasis teknologi dan inovasi, Danantara akan menggelar Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 yang ditargetkan akan dihadiri oleh lebih dari 1.500 peserta termasuk 170 inovator global, 131 CEO perusahaan teknologi global, 67 pusat riset dan inovasi, serta lebih dari 50 Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Sebagaimana dijelaskan, investasi global yang masuk ke kawasan Asia diperkirakan hanya berkisar antara 25-30%. Melalui platform forum tersebut, perusahaan BUMN maupun dalam negeri lainnya akan menghadirkan berbagai produk dan solusi unggulan mereka di bidang teknologi dan inovasi, dengan harapan para peserta dan investor akan melakukan investasi dan melakukan kerja sama dengan Indonesia ke depannya.
“Kita akan paparkan bagaimana Danantara ke depan membangun potensi investasi di Indonesia, projek-projek strategis Danantara, dan kita akan launching beberapa inisiatif kita yang akan menjadi bagian dari membangun industri berbasis teknologi,” ujarnya.
Di tengah persaingan global untuk menarik modal dan teknologi yang kian ketat, Indonesia saat ini tengah memasuki fase penting dalam transformasi teknologi dan industri. Bagi Danantara, investasi ini harus mendorong juga adopsi dan industrialisasi inovasi dalam skala besar.
“DTIIF akan menghubungkan keahlian ilmiah dan teknologi dengan modal jangka panjang serta eksekusi, sehingga teknologi mutakhir dapat menjadi kekuatan industri yang berkelanjutan dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya.
Sejalan dengan upaya Danantara mendorong investasi industri berbasis teknologi dan inovasi, pelaku usaha dalam negeri juga sudah mengembangkan kapabilitas teknologi untuk memperkuat ekosistem digital nasional. Sebab, pengembangan industri berbasis teknologi ini membutuhkan infrastruktur digital yang memadai seperti jaringan telekomunikasi hingga pusat data.
Direktur Utama PT Telkom Indonesia Tbk Nanang Hendarno menjelaskan, pihaknya juga mengembangkan infrastruktur digital, ekosistem kecerdasan buatan, hingga keamanan digital guna memperkuat kedaulatan digital nasional serta mendukung transformasi digital Indonesia.
“Pembangunan infrastruktur digital tidak berhenti pada penyediaan aset dan konektivitas. Infrastruktur harus menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan nilai, dan penguatan kedaulatan digital Indonesia. Karena itu, kami terus menyinergikan kapabilitas konektivitas, pengembangan teknologi, serta keamanan digital untuk mendukung agenda pemerintah dan memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital global,” ucap Nanang dalam Bali Tech Week (BTW) 2026 di Denpasar, Senin (19/10/2026).
Telkom sendiri telah mengelola infrastruktur mencakup lebih dari 211 ribu kilometer jaringan serat optik domestik, tiga satelit, serta 30 pusat data dengan lebih dari 500 kilometer interkoneksi antarfasilitas.

Sementara itu, CEO Grup GoTo Hans Patuwo mengatakan, pengembangan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan domestik juga tak kalah penting dalam membangun industri berbasis inovasi.
“Indonesia telah memanfaatkan teknologi AI buatan luar negeri dengan baik. Namun, kita juga perlu mengembangkan AI buatan sendiri untuk menjawab tantangan dan kebutuhan lokal,” ujar Hans.
GoTo pun meluncurkan Large Language Model dengan 27 miliar parameter yang dikembangkan secara khusus untuk memahami bahasa Indonesia serta sejumlah bahasa daerah. Hal ini dilakukan demi memperluas pemanfaatan teknologi sekaligus memperkuat kemampuan talenta lokal dalam mengembangkan solusi digital.
“Membuka akses model ini kepada publik adalah cara kami berkontribusi untuk negara. Kami ingin membangun fondasi pengembangan AI yang memahami konteks lokal dan dapat dimanfaatkan oleh siapa saja di Indonesia,” katanya.

Dimintai tanggapannya, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman menilai, sebuah investasi berbasis teknologi dan inovasi ini baru menjadi penggerak dari transformasi industri apabila produktivitas, penguasaan teknologi, dan nilai tambah domestik tercipta.
“Jika hanya menambah mesin serta lisensi impor, Indonesia berisiko memperbesar kapasitas produksi tanpa memperkuat kemandirian industri. Komitmen investasi baru bernilai ketika menghasilkan kemampuan produksi yang berkelanjutan,” kata Rizal.
Pada tahun 2026 saja, menurut Global Innovation Index, Indonesia berada di peringkat ke-55 dari 139 negara, tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Insentif pajak yang diberikan oleh pemerintah pun selama ini tidak cukup untuk menutupi kelemahan dari kepastian regulasi, tenaga terampil, hingga kualitas pemasok dalam mendorong pengembangan industri.
“Tanpa pembenahan tersebut, Indonesia lebih mudah menjadi pasar teknologi daripada pusat pengembangan dan produksi bernilai tambah tinggi,” lanjutnya.
Selama ini, masih ada sejumlah tantangan yang menghambat pengembangan daya saing industri berbasis teknologi dan inovasi. Hambatannya adalah terbatasnya kemampuan dalam menyerap teknologi, lemahnya hubungan riset dengan industri, dan regulasi yang menghambat persaingan.
“Danantara harus memastikan modal publik menarik tambahan investasi swasta dan memperkuat kemampuan industri nasional. Jangan sampai negara menanggung risiko investasi, sementara manfaat teknologi dan keuntungan ekonominya lebih banyak dinikmati pihak lain,” tutupnya.