Bertahan Merawat Batik Tulis dari Gempuran Printing

Bertahan Merawat Batik Tulis dari Gempuran Printing

Keunikan batik Lasem juga terlihat dari motif yang mencerminkan proses akulturasi budaya yang begitu kuat. Sejumlah motif memadukan unsur budaya Tiongkok, seperti naga, burung hong atau phoenix, dan bunga seruni, dengan berbagai motif lokal Jawa maupun pesisiran. 

Bertahan Merawat Batik Tulis dari Gempuran Printing
Dalam Artikel Ini

Ruang publik hari ini penuh warna. Motif-motif indah menghiasi tiap orang yang memakainya dari mulai kantor, sekolah hingga pusat perbelanjaan. Namun di balik perayaan tahunan Hari Batik Nasional, ada sejumlah perajin batik tulis  yang kini berusaha bertahan di tengah gempuran kain bermotif batik yang kian menjamur. 

Di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kegiatan meniup canting untuk kemudian dilukiskan di atas kain mori masih menjadi pemandangan sehari-hari. 

Generasi kelima batik Lasem

Rumah Batik Maranatha Ong’s Art menjadi salah satu benteng yang bertahan untuk melestarikan batik tulis khas Lasem. Usaha peninggalan keluarga ini kini berada di tangan Priscilla Renny, pengelola generasi kelima yang memilih bertahan menjaga keberlanjutan tradisi batik tulis. 

Sejarah Maranatha Ong's Art berawal dari Ong Jok Thai sebagai generasi pertama yang menjalankan produksi batik secara turun-temurun. Pada masa awal, kegiatan produksi dilakukan tanpa menggunakan nama merek resmi. 

Tradisi tersebut kemudian terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya hingga berkembang menjadi rumah batik yang tetap mempertahankan identitas Lasem.

Priscilla Renny mengatakan, keberlangsungan usaha batik tersebut tidak terlepas dari upaya keluarga dalam menjaga teknik pembuatan dan pewarnaan yang diwariskan oleh leluhur. 

Pengetahuan mengenai teknik pewarnaan rahasia tersebut diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui buku resep yang telah menjadi bagian dari warisan keluarga.

Menurut Priscilla, Maranatha Ong's Art hingga kini tetap berpegang pada pakem tradisional dalam proses pembuatan batik. Salah satu karakter yang dipertahankan adalah warna merah khas Lasem yang dikenal sebagai merah darah ayam. 

“Selain memiliki warna yang kuat, kain batik tersebut juga dikenal memiliki ketahanan warna yang baik, bahkan warna disebut semakin cerah setelah kain semakin sering dicuci,” ujar dia kepada SUAR (25/9).

Salah satu motif khas batik Lasem, Rembang, Jawa Tengah. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Campuran budaya China

Keunikan batik Lasem juga terlihat dari motif yang mencerminkan proses akulturasi budaya yang begitu kuat. Sejumlah motif memadukan unsur budaya Tiongkok, seperti naga, burung hong atau phoenix, dan bunga seruni, dengan berbagai motif lokal Jawa maupun pesisiran. 

Perpaduan tersebut menjadi salah satu karakter yang membedakan batik Lasem dengan batik dari daerah lainnya.

Priscilla menuturkan dalam proses produksinya, Maranatha Ong's Art masih menggunakan teknik tradisional dengan canting tulis. Tingkat kerumitan motif membuat proses pengerjaan satu kain membutuhkan waktu yang tidak singkat, mulai dari sekitar satu bulan hingga berbulan-bulan, tergantung pada tingkat kerumitan motif serta proses pewarnaannya.

Tak hanya proses mencanting, rumitnya pembuatan batik tulis Lasem juga terlihat sebelum tahap pembatikan dimulai. 

Rumah Batik Maranatha Ong’s Art dikenal menggunakan proses pengolahan kain sebelum tahap pembatikan. Proses ini disebut sebagai “kethel” atau mordanting yaitu tahap perlakuan kain dengan menggunakan campuran minyak khusus, kanji, dan zat tertentu untuk memperkuat serat kain serta membantu warna melekat dengan lebih baik. 

Proses ini dilakukan selama kurang lebih 30 hari sebelum kain siap dibatik. Guna menjaga kelancaran proses produksi yang super rumit itu, Priscilla mengatakan saat ini, Maranatha Ong’s memperkerjakan sekitar 35 pengrajin yang terlibat dalam proses produksi. 

Para pengrajin tersebut memiliki keterampilan dalam mengerjakan berbagai tahapan pembuatan batik, mulai dari menggambar motif, mencanting, mewarnai, hingga proses akhir kain batik. Keberadaan para pengrajin menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas sekaligus mempertahankan karakter khas batik Lasem.

Keterlibatan 35 pengrajin tersebut juga menjadi bagian dari upaya Maranatha Ong’s Art untuk mempertahankan keberlanjutan tradisi membatik yang telah diwariskan secara turun-temurun. 

Melalui proses produksi yang tetap mengandalkan keterampilan tangan, pengetahuan dan teknik membatik khas Lasem terus dipertahankan sekaligus dikembangkan agar dapat mengikuti kebutuhan pasar tanpa menghilangkan nilai budaya yang menjadi identitas produk.

Salah satu motif khas batik Lasem, Rembang, Jawa Tengah. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Motif khas Lasem

Salah satu motif yang menjadi bagian dari kekayaan batik Lasem adalah latohan. Motif tersebut terinspirasi dari latohan atau anggur laut yang banyak ditemukan di kawasan pesisir Lasem. 

Kedekatan masyarakat dengan lingkungan pesisir kemudian dituangkan ke dalam motif batik yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga merepresentasikan kehidupan masyarakat setempat.

“Motif latohan juga memiliki makna yang berkaitan dengan kemakmuran. Corak tersebut kemudian menjadi bagian dari batik tiga negeri yang dikenal menghadirkan perpaduan warna merah, biru, dan cokelat. Kombinasi tersebut sekaligus memperlihatkan kekayaan teknik pewarnaan dan karakter visual yang berkembang dalam tradisi batik Lasem,” jelas Priscilla.

Seiring dengan perkembangan usahanya, batik Lasem produksi Maranatha Ong's Art tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga telah menjangkau pasar internasional. Produk batik Lasem tersebut telah diekspor ke sejumlah negara di Asia hingga Amerika Serikat, menunjukkan bahwa warisan budaya lokal memiliki peluang untuk terus berkembang dan dikenal di pasar global.

Dalam momentum Hari Batik Nasional, Priscilla berharap batik Indonesia semakin dikenal di berbagai negara dan mampu menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia di tingkat dunia. 

“Saya berharap pemerintah terus memberikan dukungan terhadap perkembangan industri batik, termasuk membantu keberlangsungan para perajin dan pelaku usaha batik agar tradisi yang diwariskan antargenerasi dapat terus dipertahankan,” kata dia.

Pendiri dan perajin Batik Muria, Kudus. Salah satu motif yang lahir dari Batik Muria adalah Kapal Kandas. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Perjuangan batik Kudus melawan punah

Apabila di Lasem tradisi membatik diwariskan secara turun temurun, cerita berbeda datang dari Kudus. Kota yang dikenal sebagai Kota Kretek ini, batik pernah mengalami masa kelam bahkan punah selama lebih hampir seperempat abad.

Tahun 2005, Yuli Astuti baru 25 tahun ketika ia memulai petualangan dengan satu misi. Bukan mengejar karir atau pendidikan tinggi, ia bertekad menemukan dan menghidupkan kembali kejayaan batik Kudus, salah satu langgam batik pesisir yang telah punah jauh sebelum Yuli lahir.

“Batik Kudus pernah mengalami kejayaan besar pada tahun 1930-an. Dari jejak yang saya teliti, pernah ada 40-an lebih pengusaha batik di Kudus, tetapi sekitar tahun 1960-1970-an sudah mengalami kepunahan, tergerus batik printing dan industri rokok yang ketika itu berkembang di Kudus,” kisah Yuli saat membuka percakapan dengan SUAR, Rabu (23/9/2026).

Ketika Yuli mendirikan Muria Batik Kudus pada 15 Desember 2005, memori kejayaan industri batik telah samar di ingatan penduduk kota terkecil di Jawa Tengah itu. Kudus malah sudah lebih dikenal sebagai Kota Kretek. Tak salah memang, sebab di kota itulah Djarum, Nojorono, dan Sigaret Sukun berumah dan berproduksi turun-temurun.

Pendiri dan perajin Batik Muria, Kudus saat membatik Kapal Kandas (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Kapal kandas

Beruntung, lulusan Sekolah Modiste Soen Kudus itu masih berkesempatan bertemu salah seorang perajin batik Kudus. Usia perajin itu sudah 70 tahun, tetapi ingatan tentang cara mencanting dan lanskap motif-motif lama batik Kudus masih terpatri di benaknya. Dari eyang guru itu, Yuli pertama kali menemukan motif batik Kudus asli yaitu Kapal Kandas.

Tak berhenti pada satu penemuan, Yuli lanjut berburu dan berguru ke Surakarta dan Yogyakarta. Menunggang sepeda motor, hampir setiap pekan Yuli melaju 200 kilometer ulang-alik untuk menggali dan mempelajari motif-motif batik Kudus. 

Tak hanya tenaga, tabungan pun dirogohnya untuk memburu batik Kudus asli dari tangan para kolektor.

Pengembaraan mencari jejak batik Kudus ke seantero Provinsi Jawa Tengah pulalah yang mempertemukan Yuli dengan Alpha Febela Priyatmono, arsitek dan pengajar Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Kebetulan, sejak 2004, Alpha terlibat penuh dalam proyek revitalisasi Kampung Batik Laweyan Surakarta, yang waktu itu juga hampir lekang dibalap zaman.

“Perjalanan menggali ingatan para saksi-saksi sejarah itu membantu saya menemukan titik benang merah bahwa batik Kudus memiliki kekhasan corak sebagai batik pesisir, yang berbeda dengan corak batik Mataraman,” imbuhnya.

Motif Kapal Kandas khas Batik Muria, Kudus. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Kapal Kandas, motif batik Kudus pertama yang Yuli temukan, bertemali erat dengan cerita rakyat Dampu Awang. Kisah serupa Malin Kundang dari Tiongkok itu konon meninggalkan jejak berupa jangkar raksasa di Pantai Rembang, serta perkampungan penduduk keturunan pengikut Dampu Awang di sekitar Gunung Muria. Nama gunung di utara Kudus itulah yang disematkan Yuli sebagai jenama dagangnya. 

Bertungkus-lumus selama tiga tahun, satu per satu jejak motif batik Kudus berhasil Yuli temukan. Setelah Kapal Kandas, penelitian Yuli berhasil menemukan motif Kretek, Ukir Gebyok, Parijoto, Pakis Aji, Menara, Mekar Katleya, Sekar Jagad Menara, dan lain-lain. 

Lebih dari estetika, Yuli juga aktif meneliti makna kearifan lokal yang tersimpan dari setiap motif. Filosofi dan pemaknaan itu jugalah yang menjadi kompas ketika ia mengembangkan dan berinovasi dengan motif-motif batik di kemudian hari.

“Untuk motif itu memang merujuk segmentasi pasar. Motif-motif khas Kudus seperti Kretek atau Menara banyak digemari masyarakat lokal karena memang ikonik, sementara motif-motif klasik kami reproduksi berdasarkan hasil penelitian. Pengembangan motif batik dengan teknik yang lebih halus dan detail juga sudah kami jalani saat ini,” jelasnya.

Santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) Progresif Bumi Shalawat mewarnai pola batik menggunakan media kanvas dan cat acrylic dalam Batik Fest 2026 di Lippo Plaza Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (28/9/2026). ANTARA FOTO/Umarul Faruq/nym.

Tantangan regenerasi

Keberhasilan merestorasi motif-motif autentik batik Kudus membawa Yuli pada tantangan yang lebih besar. Kudus sudah tidak lagi punya pembatik. Perajin batik dari masa kejayaan sudah uzur, sementara tidak banyak orang muda yang berminat menjadi pembatik. Yuli membuktikannya sendiri. Dari 10 peserta pelatihan membatik yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Rembang, hanya ia sendiri yang jalan terus.

Menyadari tantangan itu, gerilya mencari pembatik mudapun menempuh strategi memakan bubur panas. Tak serta-merta berlatih motif yang rumit, Yuli sendiri membimbing orang muda yang tertarik belajar dari motif-motif yang mudah dan sederhana. Setelah lancar, barulah motif-motif halus dan rumit dipelajari secara bertahap.

Perajin menjemur kain batik yang telah direbus melalui kompor biogas kotoran sapi di desa Kalibaru, Tengahtani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). (ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro/agr)

Selain perajin, bahan baku mori dan lilin malam juga tak kalah menantang. Membeli dari sentra batik di Surakarta dan Pekalongan, Yuli harus membelinya dengan harga lebih mahal. Beberapa bahan seperti pewarna alam memang dapat dibuat sendiri, tetapi persaingan memperoleh bahan baku dengan perajin batik di dua kota itu ia akui cukup sengit.

“Karena kita memberikan value pada motif-motifnya, batik yang kami buat tidak diproduksi di daerah lain dan berbeda dengan batik di pasaran. Awal-awal memang pasti ada yang membandingkan, tapi kita jelaskan di balik sebuah kain ini ada perjalanan panjang untuk pelestarian, selain memang dibuat tangan-tangan orang Kudus di Kota Kudus,” ujar Yuli.

Menjaga kualitas warna dan bahan kain sebagai prioritas, solusi alternatif yang dikembangkan Muria adalah mengkombinasikan kebutuhan pasar. Produksi segmen batik cap yang dipesan untuk seragam aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Kudus diseimbangkan dengan segmen batik tulis. Siasat ini berhasil menekan harga produk Muria sehingga lebih terjangkau dan mencakup pasar lebih luas.

Seorang pengunjung mengamati kain batik pada pameran Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas di Museum Tekstil, Jakarta, Jumat (2/10/2026). (ANTARA FOTO/Fathul Habib Sholeh/sgd/tom.)

Edukasi dan kolaborasi

Kerja sama Muria dengan BUMN dan Pemerintah Kabupaten Kudus, Yuli mengakui, menjadi salah satu bentuk dukungan yang sangat menunjang. Baru-baru ini, bahkan, Pemerintah Kabupaten Kudus menyelenggarakan lomba desain batik untuk ASN, dan Muria menjadi salah satu pemenang. 

Di samping pemerintah, jejaring yang digalang Yuli sebagai salah satu pendiri Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) juga menjadi kunci advokasi dan edukasi batik sesuai standar UNESCO, yang telah menetapkan batik sebagai warisan budaya tak benda sejak 2 Oktober 2009. 

Menurutnya, edukasi terhadap konsumen tersebut menjadi salah satu kunci yang antara lain mempersatukan para perajin dan pengusaha batik di Indonesia dalam menghadapi maraknya produk kain wastra printing dengan motif menyerupai batik.

“Batik yang diakui UNESCO adalah proses produksi pelekatan lilin malam menggunakan canting tulis maupun canting cap ke atas kain mori. Itu harus lebih kita gembar-gemborkan untuk edukasi, terutama di Hari Batik ini,” tegas Yuli.

Tak kalah penting dengan edukasi terhadap konsumen, transfer ilmu dan pengetahuan membatik juga dibutuhkan untuk menjangkau lebih banyak orang muda agar tertarik menjadi artisan batik. Pada sisi ini, fasilitasi pemerintah masih membutuhkan dukungan lebih besar, terutama agar marwah perajin batik dapat setara dengan profesi artisan lain.

Bawa batik Kudus ke India

Menampik anggapan bahwa perajin batik tidak diminati, Yuli amat bangga menceritakan pengalamannya berkesempatan membuka tenant di sela perhelatan KTT BRICS di India beberapa waktu lalu. Di Negeri Anak Benua itu, ia berkesempatan melakukan demo live show membuat batik khas Indonesia.

“Waktu memulai itu, Masya Allah, anak-anak muda dari 20 negara itu antusiasnya sampai antre. Mereka speechless bagaimana membuat sebuah desain di atas secarik kain bisa menghasilkan motif. Saya pikir support dan bantuan pemerintah dibutuhkan untuk keberlanjutan ini,” tuturnya.

Ke depan, Yuli menilai integrasi industri batik ke dalam ekosistem ekonomi kreatif menjadi jalan keluar di tengah impitan transformasi ekonomi digital. Cara ini bertujuan agar penggemblengan artisan batik muda ditindaklanjuti langkah-langkah mempersiapkan mereka menjadi entrepreneur gigih yang memahami seluk-beluk bisnis

Dari sisi regulasi, undang-undang yang melindungi batik lebih dari sekadar produk tekstil, juga krusial untuk segera dirumuskan. Kebijakan-kebijakan yang memihak bagi pengembangan industri batik adalah  

“Kebijakan dari pemerintah dibutuhkan agar anak muda yang menjadi artisan itu memandang profesi penjaga warisan ini membanggakan dari sisi budaya dan menjanjikan secara ekonomi sebagai penopang hidup. Terhadap perhatian dan keberpihakan pemerintah inilah, tongkat estafet industri batik Indonesia menggantungkan harapan,” pungkas Yuli.

Generasi keempat pengelola Batik Gajah Mungkur, Achmad Choiri di galerinya di Gresik. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Gresik rangkul generasi muda dengan filosofi kekeluargaan

Dari Kudus ke Gresik Jawa Timur, upaya merawat batik tulis lintas generasi juga ditunjukkan oleh Batik Gajah Mungkur. Di tengah geliat industri batik yang terus berkembang, Batik Gajah Mungkur menjadi salah satu usaha yang menyimpan perjalanan panjang lintas generasi. 

Usaha batik tersebut merupakan peninggalan keluarga yang telah dirintis sejak masa kolonial atau Hindia Belanda, jauh sebelum Indonesia terbentuk sebagai negara kesatuan. Pada masa itu, usaha tersebut menjadi bagian dari perusahaan berbadan hukum bernama Hadji Djelan bin Hadji Oemar & Co.

Generasi keempat pengelola Batik Gajah Mungkur, Achmad Choiri, mengatakan usaha tersebut merupakan warisan dari kakek buyut keluarganya. Nama Batik Gajah Mungkur kemudian mulai dipopulerkan oleh sang kakek, Haji Oemar Hasim, sekitar 1950. 

“Sejak saat itu, nama tersebut terus dipertahankan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadi bagian dari perjalanan panjang keluarga dalam menjaga tradisi membatik,” Jelasnya kepada SUAR di Jakarta, Kamis (1/10).

Motif Batik Gajah Mungkur (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Menurut Achmad, salah satu strategi Batik Gajah Mungkur untuk dapat bertahan dan bersaing di tengah perubahan zaman adalah membangun kedekatan dengan setiap orang yang datang. 

Filosofi tersebut diwujudkan melalui prinsip bahwa setiap pengunjung yang datang diperlakukan sebagai saudara. Pendekatan ini tidak hanya menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan konsumen, tetapi juga menjadi cara untuk memperkenalkan sejarah, proses, serta nilai budaya yang terkandung dalam batik kepada masyarakat luas.

Dalam menjalankan usaha tersebut, Batik Gajah Mungkur juga berpegang pada ilmu Jawa kuno yang dikenal sebagai ilmu jolo sutro. 

“Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari filosofi keluarga dalam mengelola usaha sekaligus menjaga hubungan dengan masyarakat,” ujar dia.

Jadi ruang bertemu lintas generasi

Menjelang Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk semakin memperkenalkan batik sebagai warisan budaya sekaligus mendorong masyarakat agar semakin mencintai dan menggunakan batik dalam kehidupan sehari-hari. 

Kecintaan terhadap batik juga tercermin dari banyaknya pengunjung yang datang untuk mengeksplorasi Batik Gajah Mungkur. Pengunjung berasal dari berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah, taman bermain, mahasiswa dan lingkungan kampus, hingga duta-duta pariwisata serta pecinta dan pelestari batik. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri. 

“Kunjungan tersebut bukan sekadar aktivitas bisnis, melainkan menjadi ruang untuk mempertemukan generasi dengan sejarah batik dan menjaga agar warisan budaya tersebut tetap dikenal serta berkembang di tengah masyarakat,” kata dia 

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Hari Batik Nasional

Rekomendasi SUAR