Pemerintah Indonesia yakin mampu menghadapi potensi ancaman El Nino pada 2026, dengan mengandalkan kondisi stok beras nasional yang diklaim sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah, yaitu mencapai 4,5 juta ton pada awal April.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional tahun 2026 berada dalam kondisi sangat aman.
Dengan kondisi memiliki cadangan beras mencapai 4,5 juta ton, Kementan menilai capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa gejolak krisis pangan global tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kondisi dalam negeri.
“Itu El Nino Godzilla kan katanya kering 6 bulan. Tapi, sepertinya masih lebih tinggi El Nino yang dulu, 2015. Kami sudah pengalaman mengelola El Nino bersama teman-teman tahun 2015, 2023, 2024,” kata dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (6/4/2026).
Selain stok di gudang pemerintah, ketersediaan pangan yang tersebar di sektor lain juga sedang berjalan seperti yang ada di Horeka (hotel, restaurant, kafe/katering) sesuai data yang dikelola mencapai 12,5 juta ton. Kemudian standing crop yang ditanam sekarang siap panen mencapai 11 juta ton, artinya sudah ada 23 juta ton cadangan.
Dengan total ketersediaan tersebut, ia memperkirakan kebutuhan pangan nasional dapat terpenuhi dalam jangka waktu yang panjang, bahkan melampaui periode puncak kekeringan.
“Artinya 11 bulan ke depan ini aman. Stok untuk rakyat Indonesia 11 bulan ke depan aman. Sedangkan kekeringan 6 bulan. Berarti aman kan? Tidak perlu takut,” ujar dia.
Mentan Amran juga menekankan bahwa berbagai langkah strategis telah dilakukan untuk memperkuat sistem produksi, mulai dari peningkatan pompanisasi hingga optimalisasi lahan rawa.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak khawatir terhadap kondisi cuaca ekstrem yang terjadi saat ini, karena pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi yang terukur.
Di sisi lain, Mentan Amran juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan nasional, termasuk petani, aparat, dan media.
Target 4 juta ton beras
Di sisi Lain, Perum Bulog memperkuat langkah menuju swasembada pangan nasional melalui panen raya musim tanam pertama 2026 yang digelar di Desa Baderan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada (4/4).
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi Bulog dalam mengejar target penyerapan gabah dan beras setara 4 juta ton pada 2026, sesuai penugasan pemerintah.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, turun langsung ke lokasi panen untuk memastikan kesiapan sekaligus mendorong sinergi lintas sektor dalam pencapaian target tersebut.
“Hari ini kita hadir melakukan panen di Ngawi untuk memastikan bahwa capaian target 4 juta ton ke depan harus benar-benar terwujud sesuai dengan arahan Bapak Presiden,” ujar Rizal dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (6/4).
Ia menegaskan, keberhasilan target tersebut sangat ditentukan oleh kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), pemerintah daerah, TNI/Polri, hingga petani dan pelaku usaha penggilingan padi.
Dalam kesempatan itu, Rizal juga mengungkapkan bahwa stok cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog per 3 April 2026 telah mencapai sekitar 4,4 juta ton. Angka tersebut dinilai menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan swasembada pangan tahun ini.
“Dengan stok beras yang kuat ini, kami optimistis dapat mendukung terwujudnya swasembada pangan sebagaimana yang dicanangkan pemerintah,” tambahnya.
Selain menjaga stok, Bulog juga memastikan harga gabah yang diterima petani sesuai dengan ketentuan pemerintah melalui skema Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Dari hasil dialog dengan petani di Ngawi, harga gabah bahkan tercatat berada di atas HPP.
“Ini penting untuk memastikan kesejahteraan petani meningkat dan nilai tukar petani tetap terjaga,” jelas Rizal.
Ia optimistis target penyerapan 4 juta ton dapat tercapai seiring penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, aparat TNI/Polri, serta seluruh pelaku sektor pertanian. Target tersebut juga menjadi bagian dari mandat strategis Bulog dalam menjaga Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekaligus menjamin kesinambungan produksi dan pendapatan petani.

Penguatan cadangan beras
Dihubungi terpisah, Pengamat Pertanian IPB Dwi Andreas menuturkan untuk menghadapi potensi fenomena El Nino 2026 yang berisiko menurunkan curah hujan dan mengganggu siklus tanam, penguatan cadangan beras menjadi langkah krusial untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
Penurunan produksi akibat kekeringan dapat terjadi secara bertahap, sehingga ketersediaan stok yang memadai berperan sebagai penyangga untuk memastikan pasokan tetap stabil di tengah ketidakpastian iklim.
“Cadangan beras yang kuat tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengamanan pasokan, tetapi juga sebagai alat stabilisasi harga di pasar. Dengan stok yang cukup, pemerintah memiliki ruang intervensi yang lebih luas untuk menekan gejolak harga dan mencegah kepanikan masyarakat,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/4).
Selain itu, distribusi cadangan secara terukur dapat membantu menjaga daya beli serta memastikan akses pangan tetap terjaga, khususnya bagi kelompok rentan.
Di sisi lain, penguatan cadangan beras perlu diiringi dengan strategi jangka panjang, seperti peningkatan produktivitas pertanian, optimalisasi infrastruktur irigasi, serta pemanfaatan teknologi adaptif terhadap perubahan iklim. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani menjadi kunci agar sistem pangan nasional tidak hanya tangguh menghadapi El Nino, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.
Ketua Umum Perpadi Sutarto Alimoeso menuturkan menjaga stabilitas dan pasokan beras menjadi prioritas utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional, mengingat beras merupakan makanan pokok mayoritas masyarakat. Upaya ini dilakukan melalui penguatan cadangan beras pemerintah, optimalisasi serapan hasil panen petani, serta pengendalian distribusi agar pasokan merata di seluruh wilayah.
“Selain itu, stabilisasi harga juga perlu dijaga melalui operasi pasar dan kebijakan yang responsif terhadap dinamika produksi dan konsumsi, sehingga gejolak harga dapat ditekan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (3/4)
Di sisi lain, keberlanjutan pasokan beras sangat bergantung pada peningkatan produktivitas pertanian dan perlindungan lahan sawah. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan pupuk, benih unggul, serta dukungan irigasi yang memadai agar produksi tetap terjaga.