Belajar Transformasi Industri dari Korea Selatan untuk Akselerasi Ekonomi Indonesia
Untuk keluar dari jebakan negara dengan pendapatan menengah (middle-income trap) dan bertransformasi menjadi negara maju, Indonesia perlu menjadikan Korea Selatan sebagai tolok ukur. Korea Selatan mencapai status High-Income Economy sejak 1995.
•
2 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Untuk keluar dari jebakan negara dengan pendapatan menengah (middle-income trap) dan bertransformasi menjadi negara maju, Indonesia perlu menjadikan Korea Selatan sebagai tolok ukur. Indonesia bisa belajar bagaimana perjalanan pembangunan ekonomi Korea Selatan sehingga mencapai status High-Income Economy pada 1995.
Meski Indonesia memiliki karakteristik dan skala berbeda dengan Korea Selatan (Korsel), keberhasilan Korsel bertransformasi dari negara agraris menjadi negara industri berbasis teknologi tinggi dapat memberi gambaran strategi bagi arah pembangunan Indonesia.
Saat ini, Indonesia masih menghadapi jurang perbedaan yang signifikan dibandingkan fase akselerasi ekonomi Korsel di masa lalu. Pertumbuhan tahunan sektor manufaktur Indonesia yang berada di kisaran 3,77%, tingkat investasi di angka 4,84%, serta Produk Domestik Bruto (PDB) yang tumbuh sekitar 5,16% masih tertinggal jauh dari Korsel saat masih berstatus negara berkembang.
Sebagai perbandingan, sebelum resmi berstatus sebagai negara maju pada tahun 1995, Korsel mencatatkan pertumbuhan manufaktur di atas 10,7%, investasi melampaui 10,6%, dan PDB yang cukup tinggi hingga 8,8%.
Perbedaan skala dan kondisi ekonomi kedua negara juga tampak jelas melalui pergerakan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam satu dekade terakhir (2016–2025). Berdasarkan data World Bank, PDB Korsel menunjukkan tren peningkatan stabil dari 1,59 triliun Dolar AS pada tahun 2016 hingga mencapai 1,94 triliun Dolar As pada tahun 2025.
PDB Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dan positif, meningkat dari 0,9 triliun Dolar AS pada tahun 2016 dan mencapai 1,3 triliun Dolar AS pada tahun 2025.
Meskipun laju nominal PDB Indonesia terus meningkat, tantangan terbesarnya bukan hanya sekadar memperbesar ukuran ekonomi, melainkan mempercepat transformasi struktural agar penciptaan nilai tambah domestik semakin kuat.
Sektor industri manufaktur memegang peranan krusial sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Namun, kontribusi manufaktur terhadap total PDB yang terjadi di Indonesia dan Korsel menunjukkan perbedaan tren. Kontribusi sektor manufaktur di Indonesia menunjukkan perlambatan.
Korea Selatan secara konsisten mempertahankan kontribusi manufaktur di kisaran 24% hingga hampir 27%. Di tahun 2016 konribusinya tercatat 26,36% dan di 2025 mencapai 26,95%. Sebaliknya, kontribusi manufaktur terhadap PDB Indonesia cenderung stagnan, bahkan sedikit menurun, yakni 20,52% pada tahun 2016 menjadi 19,07% pada tahun 2025.
Kontribusi manufaktur Indonesia sempat melonjak hingga 32% pada tahun 2002 dan mengungguli Korea Selatan hingga tahun 2008. Namun, Korsel tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membalik keadaan. Indonesia jadi tertinggal.
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut dan merealisasikan visi Indonesia Maju, pemerintah melalui Kementerian Keuangan merumuskan solusi berupa penetapan sektor prioritas dan penguatan faktor pendukung lainnya. Sektor prioritas yang digenjot meliputi infrastruktur digital, hilirisasi sumber daya alam, manufaktur bernilai tambah tinggi, industri hulu strategis, ketahanan pangan, serta energi terbarukan.
Untuk mencapai keberhasilan transformasi ekonomi seperti Korsel, perekonomian Indonesia harus ditopang oleh fondasi yang kuat. Mulai dari peningkatan produktivitas modal manusia, perbaikan konektivitas, kepastian regulasi, stabilitas makroekonomi, hingga stabilitas politik dan keamanan yang berkelanjutan.