Pemberian tunjangan hari raya (THR) dan libur Lebaran 2026 turut mendorong peningkatan okupansi hotel di berbagai tujuan utama mudik tahun ini. Hal ini terlihat sejak sepekan menjelang Idul Fitri.
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, peningkatan mulai terlihat pada H-10 Lebaran, utamanya terjadi di kota-kota tujuan mudik favorit seperti Bandung, Yogyakarta, Solo, Malang, dan Semarang.
“Iya, jadi kalau kita lihat memang ada tren kenaikan khususnya di kota-kota yang memang tujuan utamanya orang mudik,” ujar Hariyadi kepada SUAR.
Menurutnya, berbagai kebijakan pemerintah turut menjadi faktor pendorong kenaikan okupansi. Pemerintah melalui surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri resmi menetapkan libur Lebaran (Idul Fitri 1447 H) 2026 jatuh pada 21-22 Maret 2026, dengan cuti bersama pada 20, 23, dan 24 Maret 2026.
Rangkatian ini memberikan total lima hari libur berturut-turut (Jumat-Selasa) yang berpotensi dimanfaatkan untuk mudik dan silaturahmi.
"Libur Lebaran tahun ini berlangsung sekitar satu pekan, dari 18 hingga 24 Maret, yang dinilai ideal, atau tidak terlalu panjang sehingga mendorong masyarakat tetap melakukan perjalanan," ujar Hariyadi.
Pemerintah juga menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi ASN dan swasta pada 16–17 Maret dan 25–27 Maret 2026 untuk mengurai kepadatan arus mudik/balik Lebaran.
Kebijakan ini bertujuan menjaga produktivitas, mendukung daya beli melalui mobilitas ekonomi, serta memfasilitasi mudik lebih fleksibel tanpa memotong cuti tahunan, dengan gaji tetap dibayar penuh.
Selain itu, menurut Hariyadi, peningkatan daya beli masyarakat turut menopang pergerakan masyarakat untuk berpergian. Hariyadi menyatakan adanya kenaikan tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur sipil negara, yang berdampak pada konsumsi selama periode liburan.
Di sisi lain, penambahan infrastruktur jalan tol baru juga memperlancar mobilitas pemudik dan meningkatkan volume perjalanan ke daerah.
Menurut Hariyadi, peran jalur transportasi darat menjadi signifikan dalam mendistribusikan arus wisatawan dan pemudik.
"Kota-kota di jalur transit seperti ruas tol Trans Jawa dan lintas Sumatera turut mencatat peningkatan hunian hotel," ujar dia.
Salah satunya tergambar di Hotel Royal Safari Garden yang berlokasi di Cisarua, Kabupatn Bogor. Berdasarkan pemantauan di platform travel online, hotel ini menujukkan keterisian yang hampir penuh selama libur lebaran 2026.
Beberapa tipe kamar seperti Deluxe Panda, Deluxe Twin menunjukkan ketersediaan terbatas dari satu hingga tiga kamar tersisa, dari total 106 kamar tersedia.
Harga yang dibanderol per malam berkisar antara Rp3,5 juta - Rp4,4 juta per kamar. Berbagai fasilitas dan paket menarik juga ditawarkan selama periode Libur Lebaran seperti wahana hiburan, area bermain anak hingga atraksi langsung dengan satwa.
Selama libur Lebaran 2026, pihak hotel bahkan menawarkan sejumlah package khusus Lebaran. Pengunjung bisa menikmati fasilitas mulai dari makan malam, animal show, fire dance, Arabian dance hingga cooking class yang bisa dinikmati hingga 28 Maret 2026.
Hotel siap sambut lonjakan tamu
Holding BUMN aviasi dan pariwisata Injourney memastikan kesiapan jaringan hotelnya menghadapi lonjakan mobilitas selama periode mudik dan libur Lebaran 2026, seiring dengan meningkatnya pergerakan penumpang dan aktivitas pariwisata nasional.
Direktur Utama Injourney, Maya Watono, menyebut hotel yang dikelola melalui lini bisnis Injourney Hospitality menjadi bagian dari strategi integrasi layanan pariwisata dari hulu ke hilir.
“Kami memanage saat ini adalah 40 hotel seluruh Indonesia, tapi nantinya kami akan juga mengonsolidasi berbagai hotel BUMN agar Injourney sampai nanti targetnya menjadi 160 hotel yang terkonsolidasi di bawah Injourney Hospitality,” ujar Maya.
Injourney memperkirakan total trafik penumpang di 37 bandara yang dikelola mencapai 9 juta orang selama periode tersebut, naik sekitar 2% dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini diperkirakan turut mendorong permintaan akomodasi, khususnya di destinasi wisata dan kota transit.
Maya menekankan bahwa peran hotel menjadi bagian dari ekosistem pariwisata terintegrasi yang dikembangkan Injourney, bersama sektor bandara, destinasi, dan layanan aviasi lainnya. Integrasi ini diharapkan mampu menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih menyeluruh bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Role kami adalah membangun ekosistem pariwisata yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Sekarang kita bisa mengintegrasikan semua servis layanan kepada publik,” katanya.
Selain memperkuat kapasitas, Injourney juga mendorong peningkatan kualitas layanan hotel sebagai bagian dari transformasi menyeluruh di sektor pariwisata. Transformasi tersebut mencakup tiga aspek utama, yakni people, process, dan premises, yang juga diterapkan di seluruh lini bisnis, termasuk hospitality.
Dari sisi operasional, kesiapan hotel didukung oleh pembukaan layanan transportasi dan bandara selama 24 jam sepanjang periode posko Lebaran, kecuali saat Hari Raya Nyepi di Bali. Injourney juga menambah personel untuk memastikan kelancaran operasional dan pelayanan kepada masyarakat selama periode puncak.
Maya menambahkan, sektor pariwisata, termasuk industri perhotelan, memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
“Kita tahu bahwa aviasi pariwisata itu memberikan economic impact yang sangat besar bagi Indonesia. Setiap satu juta penumpang internasional inbound Indonesia itu menghasilkan Rp 40 triliun GDP,” ujarnya.
Hariyadi dari PHRI menambahkan pelaku industri hotel juga dinilai semakin adaptif dalam memanfaatkan momentum ini. Selain mengandalkan tingkat hunian, strategi yang diterapkan adalah memperpanjang lama tinggal (length of stay) tamu melalui berbagai aktivitas dan layanan tambahan, termasuk penyelenggaraan acara keluarga dan konsumsi makanan dan minuman.
Terkait tarif, Hariyadi menegaskan bahwa harga kamar bersifat dinamis dan mengikuti tingkat permintaan. "Makanya kalau mau murah, jauh-jauh hari harus pesan,” kata dia.
Dari sisi kesiapan, industri hotel dinilai tidak menghadapi kendala berarti dalam menghadapi lonjakan permintaan. Persiapan tahunan yang rutin membuat hotel mampu menjaga pasokan layanan, termasuk makanan dan tenaga kerja. Tantangan utama justru berada di luar sektor hotel, terutama kemacetan lalu lintas saat arus mudik.
Ke depan, Hariyadi menekankan pentingnya dukungan kebijakan transportasi untuk memaksimalkan potensi industri. Ia mendorong penambahan kapasitas kereta api dan frekuensi penerbangan selama periode puncak guna mengakomodasi lonjakan permintaan perjalanan.

Turut dorong peningkatan ekonomi daerah
Lonjakan arus mudik dan libur Lebaran mendorong peningkatan permintaan hotel di berbagai daerah, terutama kota tujuan mudik dan jalur transit, seiring proyeksi mobilitas mencapai 143,9 juta orang.
Kepala Peneliti Center of Macroeconomic and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurrahman, menyebut momentum ini menjadi salah satu pendorong utama kinerja industri perhotelan, meskipun dampaknya tidak merata di seluruh wilayah.
Menurut Rizal, peningkatan okupansi hotel selama Lebaran dipicu kombinasi aktivitas mudik dan wisata domestik. Pada fase awal, kebutuhan akomodasi didominasi oleh pemudik yang membutuhkan tempat transit atau tidak tertampung di rumah keluarga.
Setelah periode Lebaran, permintaan bergeser ke wisata keluarga yang memanfaatkan libur panjang.
“Arus mudik dan libur Lebaran umumnya berdampak positif bagi industri perhotelan, terutama di kota tujuan mudik dan daerah wisata,” ujar Rizal.
Ia menjelaskan, kota-kota di jalur transit memiliki peran penting dalam menopang okupansi hotel.
“Banyak pemudik memilih berhenti untuk beristirahat sehingga hotel budget, penginapan keluarga, dan hotel nonbintang di kota transit ikut menikmati lonjakan permintaan,” katanya.
Meski demikian, peningkatan permintaan tidak terjadi secara merata. Hotel di kota-kota bisnis justru cenderung mengalami penurunan okupansi selama libur panjang, karena aktivitas perjalanan dinas dan bisnis menurun signifikan pada periode tersebut.
Rizal juga mencatat adanya perubahan pola perjalanan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Pemudik kini lebih mempertimbangkan faktor keamanan dan kenyamanan, sehingga sebagian memilih beristirahat atau menginap di hotel, terutama bagi keluarga yang menempuh perjalanan jarak jauh.
“Ada kecenderungan perubahan pola perjalanan masyarakat yang lebih mengutamakan keamanan dan kenyamanan,” ujarnya.
Dari sisi kontribusi ekonomi, momentum Lebaran dinilai memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan industri hotel di daerah. Tidak hanya dari penjualan kamar, hotel juga memperoleh tambahan pemasukan dari layanan makanan dan minuman, penyewaan ruang pertemuan keluarga, serta berbagai layanan tambahan yang meningkat selama periode liburan.
Lebih lanjut, peningkatan okupansi hotel turut mendorong sektor ekonomi lainnya. Tamu hotel umumnya membelanjakan uang untuk kebutuhan konsumsi seperti kuliner, transportasi lokal, hingga pembelian oleh-oleh, sehingga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.
“Peningkatan okupansi hotel juga mendorong sektor lain seperti kuliner, transportasi, dan UMKM,” kata Rizal.
Untuk memaksimalkan dampak tersebut, Rizal menilai pemerintah daerah perlu memperkuat konektivitas transportasi, mengembangkan destinasi wisata, serta melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Integrasi ini dinilai penting agar arus mudik tidak hanya menjadi fenomena mobilitas tahunan, tetapi juga mampu memperbesar perputaran ekonomi lokal secara berkelanjutan.