Tertinggi Dua Tahun, Indeks Manufaktur RI Tembus 53,8

Peningkatan PMI terutama didorong oleh lonjakan permintaan baru yang memicu kenaikan produksi paling kuat sejak awal 2024.

Tertinggi Dua Tahun, Indeks Manufaktur RI Tembus 53,8
Pekerja melakukan pengecekan produksi makanan hewan peliharaan di pabrik milik PT Evo Manufacturing Indonesia di Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (12/2/2026). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc)
Daftar Isi

Kinerja manufaktur Indonesia mengalami kenaikan signifikan dengan kenaikan Purchasing Managers' Indeks (PMI) mencapai 53,8 pada Februari 2026 atau tertinggi selama hampir dua tahun terakhir, demikian menurut data terbaru yang dirilis S&P Global.

Angka tersebut naik 1,2 poin dari Januari 2026 yang hanya mencapai level 52,6. Hal ini, menandakan ekspansi yang semakin solid.

Peningkatan PMI terutama didorong oleh lonjakan permintaan baru yang memicu kenaikan produksi paling kuat sejak awal 2024. Permintaan tercatat tumbuh selama tujuh bulan berturut-turut, seiring bertambahnya pelanggan serta membaiknya tingkat kepercayaan bisnis.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti mengungkapkan, kenaikan penjualan tidak hanya berasal dari pasar domestik, tetapi juga dari luar negeri. Pesanan ekspor baru meningkat untuk pertama kalinya dalam enam bulan, bahkan mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

“Kondisi permintaan menunjukkan tren positif, dengan penjualan yang meningkat cukup kuat sehingga mendorong kenaikan produksi, ketenagakerjaan, dan aktivitas pembelian. Terlebih lagi, kenaikan permintaan tidak terbatas pada klien domestik saja, karena ekspor naik untuk pertama kali dalam enam bulan," ujar dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (2/3).

Ia menambahkan kondisi ini juga mendorong perusahaan meningkatkan kapasitas produksi dan menambah tenaga kerja. Ketenagakerjaan naik enam kali dalam tujuh bulan terakhir, sementara output manufaktur tumbuh pada laju tercepat sejak April 2024.

Selain itu, perusahaan juga meningkatkan aktivitas pembelian input guna mengantisipasi permintaan yang diperkirakan tetap kuat. Pembelian bahan baku pada Februari menjadi yang paling tajam sejak Maret 2024.

Dari sisi harga, tekanan inflasi biaya input masih ada, terutama akibat kenaikan harga bahan baku. Namun, laju kenaikannya menjadi yang paling rendah dalam enam bulan. Hal ini memungkinkan produsen hanya menaikkan harga jual secara moderat demi menjaga daya saing.

Usamah menilai perbaikan kondisi manufaktur di awal tahun memberikan prospek positif ke depan.

Ke depan, pelaku usaha masih menunjukkan optimisme terhadap prospek 12 bulan mendatang, meski tingkat kepercayaan sedikit menurun dibandingkan Januari dan berada di bawah rata-rata jangka panjang. 

Harapan akan permintaan yang lebih kuat dan harga yang lebih stabil tetap menjadi faktor pendukung utama.

Kepercayaan industri capai 54,02

Di sisi lain, kinerja industri pengolahan nasional pada awal tahun 2026 tetap menunjukkan ketahanan dan berada pada jalur ekspansi. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 yang tercatat sebesar 54,02.

Capaian tersebut memang melambat tipis 0,10 poin dibandingkan Januari 2026, namun meningkat 0,87 poin dibandingkan Februari 2025 dan menjadi level tertinggi kedua sejak IKI diluncurkan pada November 2022.

Berdasarkan hasil survei IKI Februari 2026, dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 19 subsektor berada pada fase ekspansi dan hanya 4 subsektor yang mengalami kontraksi. Subsektor yang berada pada fase ekspansi memiliki kontribusi sebesar 92,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

“Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman serta Industri Alat Angkutan Lainnya,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief dalam rilis yang diterima SUAR di Jakarta (2/3)

Ia menyampaikan, kedua subsektor tersebut mengalami ekspansi seiring meningkatnya permintaan dari sejumlah sektor industri, seperti industri makanan, minuman, tekstil dan produk tekstil (TPT), serta alas kaki, dengan industri pencetakan berperan sebagai sektor pendukung. Kemudian, adanya kenaikan angka penjualan sepeda motor pada bulan Januari 2026 mencapai 577.763 unit, meningkat 3,11 persen dibanding Januari 2025 (y-o-y)

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026, Kemenperin mencermati adanya peningkatan konsumsi rumah tangga terhadap komoditas industri pakaian, alas kaki, serta jasa perawatannya. Pada tahun 2024, pertumbuhan konsumsi sektor ini tercatat sebesar 2,73 persen dan meningkat menjadi 4,52 persen pada tahun 2025.

Namun, berdasarkan hasil pengamatan terhadap IKI, khususnya IKI pasar domestik tahun 2025, industri pakaian jadi yang berorientasi pada pasar dalam negeri justru mengalami kontraksi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsumsi rumah tangga tersebut tidak sepenuhnya diserap oleh produk industri dalam negeri.

“Dengan demikian, terdapat indikasi kuat bahwa kenaikan permintaan tersebut lebih banyak dipenuhi oleh produk impor,” ungkap Febri.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian memandang momentum peningkatan konsumsi domestik seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh industri dalam negeri, guna memperkuat struktur manufaktur nasional dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar domestik.

Adapun subsektor yang mengalami kontraksi yaitu Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Gabus (Tidak Termasuk Furnitur dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan sejenisnya, Industri Barang Galian Non Logam, Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik, dan Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan.

Sekretaris Direktorat Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Sri Bimo Pratomo mengatakan, Industri Barang Galian Non Logam mengalami kontraksi pada variabel pesanan dan persediaan. Hal ini disebabkan menurunnya permintaan dalam negeri yang berasal dari pengadaan pemerintah.

“Karena bulan ini masih memasuki awal tahun anggaran dan Bulan Ramadhan, sehingga banyak proyek infrastruktur yang belum berjalan. Sehingga permintaan produk bahan bangunan (BGNL) juga ikut turun. Kemungkinan besar akan dimulai setelah lebaran,” tuturnya.

Pada variabel produksi Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Gabus, kontraksi yang terjadi dipicu oleh ketidakpastian global dan beberapa kekhawatiran pelaku industri terhadap dampak kesepakatan perdagangan global.

“Sub Sektor Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik, mengalami penurunan pada pesanan luar negeri yang menyebabkan terjadinya kontraksi pada IKI Februari 2026. Selain itu, komponen elektronik berbahan baku semikonduktor saat ini tengah mengalami kelangkaan,” kata Direktur Industri Peralatan Pertanian dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP) Solehan.

Kedua orientasi pasar IKI baik ekspor maupun impor masih berada dalam zona ekspansi meskipun mengalami sedikit perlambatan. IKI orientasi ekspor pada bulan Februari 2026 berada di level 54,61 atau melambat 0,01 poin dibanding bulan Januari 2026 yang berada di level 54,62. Sedangkan IKI berorientasi pada pasar domestik berada di level 53,12, melambat 0,13 poin dibanding bulan Januari 2026 yang berada di level 53,25. 

Secara umum, kondisi kegiatan usaha pada Februari 2026 masih tergolong baik. Sebanyak 77,6 persen responden menyampaikan kegiatan usahanya membaik dan stabil. 

Pekerja menyelesaikan proses pemotongan pipa gas di pabrik produksi pipa gas PT Dwi Sumber Arca Waja Kura di Kawasan Industri Terpadu Kabil, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (5/2/2026). (ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/wsj.)

Perkuat permintaan domestik

Pengamat Ekonomi Indef Tauhid Ahmad mengatakan pemerintah perlu memperkuat permintaan domestik untuk mendorong kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia, antara lain melalui percepatan belanja negara, insentif pajak sektor industri, serta program substitusi impor yang efektif. 

Kebijakan fiskal yang ekspansif diyakini dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga dan belanja infrastruktur, sehingga pesanan baru bagi industri manufaktur ikut terdongkrak. Selain itu, stabilitas harga bahan baku dan energi juga menjadi faktor penting agar biaya produksi tetap terkendali dan aktivitas pabrik dapat meningkat secara berkelanjutan.

“Di sisi moneter, dukungan likuiditas dan suku bunga yang kondusif dari Bank Indonesia berperan besar dalam mempermudah akses pembiayaan bagi pelaku industri.,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (2/3)

Ketersediaan kredit modal kerja dengan bunga kompetitif memungkinkan perusahaan meningkatkan kapasitas produksi, memperluas investasi mesin, serta menambah tenaga kerja. Langkah ini penting karena komponen produksi dan penyerapan tenaga kerja merupakan indikator utama dalam perhitungan PMI manufaktur.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dapat mempercepat program hilirisasi dan peningkatan daya saing industri nasional melalui digitalisasi, peningkatan kualitas SDM, serta pembukaan akses pasar ekspor baru. 

Dewan Pakar Apindo Danang Girindrawardana mengatakan peningkatan kinerja industri manufaktur agar Indeks Kepercayaan Industri (IKI) membaik dapat dimulai dari penguatan sisi permintaan dan kepastian usaha. 

Pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat melalui stabilitas harga dan dukungan stimulus yang tepat sasaran, sehingga permintaan terhadap produk manufaktur tetap terjaga. Selain itu, kepastian regulasi dan penyederhanaan perizinan akan memberikan rasa aman bagi pelaku industri untuk melakukan ekspansi dan meningkatkan kapasitas produksi.

“Langkah berikutnya adalah memperkuat daya saing industri melalui efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas. Dukungan insentif fiskal, kemudahan akses bahan baku, serta stabilitas pasokan energi menjadi faktor penting agar biaya produksi tetap kompetitif,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (2/3)

Peran Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dalam mendorong transformasi industri 4.0, peningkatan kualitas SDM, dan program hilirisasi juga krusial untuk menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi di dalam negeri.

Baca selengkapnya