Bagaimana melihat gerak dan dampak dari upaya pemerintah menuntaskan perundingan-perundingan yang bertujuan memperkuat peran Indonesia di kawasan dan kerjasama ekonomi terekam dalam Survei Semesta Dunia Usaha yang dilakukan Tim SUAR.
Beberapa temuannya:
- Kesepakatan kerjasama multilateral dan bilateral yang dilakukan pemerintah menurut responden bermanfaat bagi perekonomian negara dalam banyak hal. Hal itu antara lain akan meningkatkan realisasi investasi (75%), meningkatkan kinerja ekspor (75%), serta menciptakan lapangan kerja (65,6%).
- Gaya komunikasi dan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam membahas kesepakatan kerjasama ekonomi dengan negara-negara lain menumbuhkan apresiasi dan keyakinan responden bahwa ke depannya hal itu akan memperbesar aliran investasi yang masuk ke Indonesia dan membuat Indonesa lebih maju (65,6%).
- Indonesia terbuka dengan negara mana saja untuk menjalin kerjasama ekonomi. Hal itu diutarakan oleh empat dari sepuluh responden. Namun, dua negara menjadi prioritas mitra dagang atau mitra investasi yang lebih menguntungkan, yaitu Tiongkok (28,1%) dan Amerika Serikat (6,3%).
Tahun 2025 merupakan tahun sibuk pemerintahan Indonesia di meja perundingan untuk mencapai kesepakatan sejumlah kerjasama ekonomi yang telah dirintis sejak tahun-tahun sebelumnya.
Prestasi yang diraih terukir sejak awal tahun, dimulai saat Indonesia resmi bergabung dalam kerjasama negara-negara berkembang BRICS (Januari). Disusul dengan perundingan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia – Kanada dan Indonesia – Uni Eropa (September). Di pengujung tahun, ditandatangani pula Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia – Uni Ekonomi Eurasia atau I – EAEU FTA (Desember).
Negosiasi tentang tarif resiprokal dengan Amerika Serikat masih berlangsung dan ditargetkan kesepakatan perjanjian akan ditandatangani pada akhir Januari 2026. Indonesia mendapatkan pengecualian tarif bea masuk untuk sejumlah komoditas unggulan, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, teh, dan sebagainya. Kesepakatan ini merupakan kelanjutan setelah pada Juli lalu AS menurunkan tarif terhadap produk Indonesia dari sebelumnya 32% menjadi 19%.
Sebagian besar responden menyatakan bahwa kesepakatan yang berhasil diraih pemerintah akan berdampak pada meningkatnya realisasi investasi dan kinerja ekspor, serta menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. Hal itu tidak lepas dari kesigapan presiden memanfaatkan forum-forum multilateral untuk menjalankan diplomasi ekonomi.
Ke depannya, Indonesia tetap terbuka dengan negara mana saja untuk menjalin kerjasama ekonomi. Meski, perlu memilih negara mana yang diprioritaskan menjadi mitra dagang atau mitra investasi dengan beragam pertimbangan.
Hingga saat ini, Tiongkok dan Amerika Serikat masih menjadi prioritas dalam kerjasama ekonomi Indonesia. Perluasan kerjasama ekonomi diperlukan untuk diversifikasi pasar ekspor dan menarik investasi, dua faktor yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.