Perkembangan neraca perdagangan Indonesia selama periode 2022-2025 menunjukkan performa yang secara konsisten mencatatkan surplus, meskipun fluktuatif. Puncak surplus tertinggi terjadi pada tahun 2022 dengan nilai mencapai 54.251,3 juta dolar AS.
D tahun 2023 dan 2024, nilai surplus sempat mengalami normalisasi di angka kisaran 31 hingga 36 juta dolar AS, sebelum akhirnya menunjukkan tren pemulihan kembali pada tahun 2025 dengan neraca perdagangan yang menguat ke angka 41.052,2 juta dolar AS di tengah ketidakpastian tarif dagang Amerika Serikat.
Tren total nilai ekspor Indonesia terlihat mengalami kontraksi pasca tahun 2022. Di tahun tersebut, nilai ekspor berada di angka 292.186,7 juta dolar AS, namun turun menjadi 259.527,8 juta dolar AS pada tahun 2023. Sejak tahun 2024 hingga 2025, nilai ekspor kembali menunjukkan tren peningkatan yang stabil, di mana pada tahun 2025 mencapai 282.908,9 juta dolar AS. Hal ini mengindikasikan bahwa permintaan pasar internasional terhadap produk Indonesia mulai pulih.
Dari sisi komoditas berdasarkan golongan SITC, sektor bahan bakar mineral, pelumas, dan bahan terkait mengalami penurunan nilai ekspor yang cukup signifikan. Pada tahun 2022, ekspor sektor ini mencapai 70.992 juta dolar AS, namun terus merosot hingga menyentuh angka 40.623 juta dolar AS pada tahun 2025. Terjadinya penurunan tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh moderasi harga energi global.
D sisi impor, kategori ini juga mengalami penurunan drastis dari 122.868,0 juta dolar AS di tahun 2023 menjadi sekitar 40.659,8 juta dolar AS pada tahun 2025.
Komoditas yang menunjukkan tren pertumbuhan positif dan stabil adalah mesin dan peralatan transportasi. Nilai ekspor pada kategori ini tumbuh dari 33.837 juta dolar AS di tahun 2022 menjadi 37.404 juta dolar AS pada tahun 2025.
Peningkatan pada komoditas mesin dan peralatan transportasi menunjukkan terjadi penguatan pada ekspor barang bernilai tambah tinggi. Di sisi lain, ekspor makanan dan binatang hidup juga terlihat cukup resilien dengan kenaikan dari 18.930 juta dolar AS di tahun 2022 menjadi 21.507 juta dolar AS pada tahun 2025.
Struktur perdagangan Indonesia dari tahun 2022 hingga 2025 mencerminkan kemampuan adaptif terhadap ketidakpastian pasar global. Meskipun ketergantungan pada bahan bakar mineral menunjukkan penurunan nilai, pertumbuhan pada sektor mesin dan manufaktur memberikan sinyal positif bagi diversifikasi ekonomi.
Dengan nilai impor yang terjaga lebih rendah dibandingkan ekspor (241.856,7 juta dolar AS berbanding 282.908,9 juta dolar AS pada tahun 2025), Indonesia berhasil menunjukkan ketahanan terhadap faktor eksternal melalui surplus perdagangan yang berkelanjutan.