PMI Manufaktur Kembali ke Zona Ekspansi

Perekonomian manufaktur Indonesia selama bulan Mei 2026 masih mengalami tekanan, lantaran produksi yang terhambat oleh kenaikan harga bahan baku hingga keterbatasan ketersediaan input.

PMI Manufaktur Kembali ke Zona Ekspansi
Foto udara suasana pembangunan salah satu industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (6/5/2026). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/nym.
Daftar Isi

Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global kembali ke jalur ekspansi menjadi 50,0 pada bulan Mei ini, setelah sebelumnya masuk ke zona kontraksi pada bulan April yang berada di level 49,1.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan perekonomian manufaktur Indonesia selama bulan Mei 2026 masih mengalami tekanan, lantaran produksi yang terhambat oleh kenaikan harga bahan baku hingga keterbatasan ketersediaan input.

“Meskipun perusahaan mencatat kenaikan penjualan yang lebih kuat, hal ini sering kali menggambarkan upaya klien untuk membangun stok di tengah gangguan harga dan pasokan. Selain itu, perbaikan kondisi pesanan terbatas pada pasar domestik karena ekspor turun tajam hampir lima tahun terakhir,” kata Usamah, Selasa (02/06/2026).

Peningkatan ini menunjukkan stabilitas kondisi operasional pada pertengahan triwulan kedua tahun 2026. Dari sisi permintaan, juga menunjukkan peningkatan, penerimaan pesanan baru meningkat dua bulan berturut-turut didorong oleh perbaikan permintaan domestik di tengah penurunan permintaan ekspor.

Di bulan tersebut, kenaikan harga bahan baku juga menyebabkan kenaikan biaya lebih lanjut, perusahaan pun berupaya meneruskan beban biaya kepada klien dan harga output naik pada laju tercepatnya sejak tahun 2013 silam.

“Inflasi biaya naik tajam pada pertengahan triwulan kedua dan paling tajam sejak rekor survei pada bulan September 2013. Kondisi ini mendorong perusahaan menaikkan harga jual pada laju tercepat hanya dalam waktu 12 setengah tahun,” lanjutnya.

Sektor manufaktur juga ke depannya masih mempertahankan atmosfer positif, akan tetapi tingkat kepercayaannya secara keseluruhan masih berada di bawah rata-rata jangka panjang.

“Tingkat keyakinan terhadap perkiraan 12 bulan mendatang juga tidak berubah, masih di bawah rata-rata historis. Optimisme didorong harapan bahwa tekanan harga bahan baku dan pasokan akan reda, meskipun waktu pemulihan masih tidak pasti mengingat kondisi saat ini,” tutupnya.

Masih wait and see

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Anton J. Supit juga sebelumnya menjelaskan bahwa pihaknya masih mengambil sikap wait and see menjelang waktu tahun ajaran baru sekolah sebagai momentum yang diharapkan mampu mendorong jumlah penjualan sepatu. Industri sepatu dalam negeri sendiri diketahui merupakan industri yang berorientasi kepada ekspor ke luar negeri.

“Kalau kita bicara dalam negeri, stok kita ini banyak. Kita masih menunggu anak-anak pergi ke sekolah ini, kalau nanti bulan Juni-Juli permintaannya sama ya masih tertolong lah ya, tapi kalau nantinya karena faktor daya beli dan ternyata berkurang tentunya ada efek,” ucap Anton, Kamis (28/05/2026).

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Saleh Husin menilai peningkatan ini menunjukkan adanya pertumbuhan, terutama ditopang oleh konsumsi domestik, proyek pemerintah, hingga aktivitas manufaktur untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Meski begitu, laju pertumbuhannya masih relatif moderat dan belum merata di seluruh subsektor industri.

“Perlambatan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor, ketidakpastian perdagangan internasional, serta meningkatnya persaingan dari negara produsen lain menekan order ekspor manufaktur Indonesia. Selain itu, beberapa industri juga menghadapi tekanan harga sehingga daya saing ekspor belum pulih sepenuhnya,” kata Saleh, Selasa (02/06/2026).

Industri dalam negeri saat ini masih dihadapi sejumlah tantangan seperti tingginya biaya bahan baku, menurunnya permintaan ekspor, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian ekonomi akibat konflik geopolitik global. Akibatnya, pelaku industri sampai saat ini masih bersikap berhati-hati dalam melakukan ekspansi dan menunda investasi baru demi menjaga arus kas dan efisiensi operasional.

“Kinerja manufaktur diperkirakan masih menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara pemulihan sektor manufaktur akan sangat bergantung pada perbaikan permintaan global, stabilitas nilai tukar, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga iklim usaha dan daya saing industri nasional,” tutupnya.

Sejumlah satpam berjaga di depan area pabrik pascaledakan di PT Merak Chemical Indonesia (MCCI), Kota Cilegon, Banten, Senin (25/5/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/rwa.)

Belum cukup kuat

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, perbaikan PMI Manufaktur pada bulan Mei 2026 belum cukup kuat untuk dibaca sebagai sinyal pemulihan pada sektor industri secara menyeluruh. Meski indeks berhasil naik setelah berada di zona kontraksi sebelumnya, capaian tersebut lebih tepat dinilai sebagai tertahannya pelemahan aktivitas manufaktur.

“Memang ada perbaikan dibanding April 2026 yang berada di 49,1, tetapi level 50,0 adalah batas netral. Dunia usaha tidak lagi jelas berada dalam kontraksi, namun juga belum menunjukkan ekspansi yang meyakinkan,” kata Josua, Selasa (02/06/2026)

Fondasi perbaikannya pun masih rapuh dan belum ditopang oleh fundamental yang kuat lantaran tekanan biaya produksi masih tinggi. Industri masih menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu, angka ini masih menunjukkan sektor manufaktur baru keluar dari fase kontraksi, tetapi masih dibayangi oleh tekanan terhadap margin usaha dan gangguan pasokan.

Ia memperkirakan PMI Manufaktur Indonesia pada bulan Juni 2026 masih bergerak di sekitar level 50, dengan peluang perbaikan yang masih terbatas. Bahkan, berpotensi kembali ke zona kontraksi apabila tekanan biaya tetap berlanjut, nilai tukar rupiah masih melemah, dan pelaku usaha juga masih menahan produksi.

“Jadi, perbaikan Juni belum bisa dianggap otomatis. PMI dapat kembali di bawah 50 jika tekanan biaya lebih kuat daripada pemulihan pesanan baru,” ujarnya.

Upaya untuk menjaga momentum pemulihan manufaktur ini menurutnya tidak cukup hanya mengandalkan perbaikan dari sisi permintaan saja, tetapi juga memerlukan dukungan pembiayaan yang tepat sasaran.

Ia menyarankan perlu adanya dukungan seperti percepatan restitusi pajak, keringanan biaya logistik, penguatan pelatihan tenaga kerja,  hingga perlindungan dari impor ilegal untuk penguatan di sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, makanan-minuman, furnitur, ataupun komponen otomotif.

“Tanpa kebijakan mikro seperti ini, PMI bisa naik sesaat tetapi sulit bertahan di zona ekspansi kuat,” tegasnya.

Baca juga:

PMI Manufaktur Turun, Pakar Ingatkan Risiko Kontraksi Berkepanjangan
Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April 2026 turun ke level 49,1, masuk ke zona kontraksi setelah bulan sebelumnya berada di 50,1.

Senada dengannya, ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Law and Economic Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, ada dua faktor yang mempengaruhi gerak dari PMI Manufaktur Indonesia ini, di antaranya adalah nilai tukar rupiah dan kondisi global.

Kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri akibat naiknya harga komoditas impor atau melemahnya nilai tukar rupiah pun akan berdampak. Ia memperkirakan PMI Manufaktur Indonesia di bulan Juni nanti akan kembali ke zona kontraksi, apabila tekanan-tekanan yang dihadapi oleh pelaku industri saat ini tidak segera diselesaikan.

“Saya rasa Juni-Juli ketika imported inflation sudah naik, saya rasa akan turun lagi, dan ini yang sudah terjadi adalah kenaikan harga oli, listrik, beras, itu akan naik dan biasanya ditransmisikan dalam dua atau tiga bulan ke depan. Jadi Juni-Juli kemungkinan besar akan negatif jika masalah rupiah ini tidak teratasi,” kata Huda, Selasa (02/06/2026)

Baca selengkapnya