Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia merosot ke level 50,1 pada Maret 2026, atau anjlok dari bulan sebelumnya yang berada di angka 53,8 yang merupakan rekor tertinggi dalam hampur 2 tahun terakhir, demikian tercatat dalam Laporan S&P Global terbaru.
PMI manufaktur Maret 2026 tersebut juga turun dari Maret 2025 yang berada di level 52,4 atau turun 2,67% (year-on-year/yoy). Penurunan PMI manufaktur Maret 2026 terendah dalam 6 bulan terakhir.
Meski dinilai masih dalam ambang batas, posisi ini mengalami penurunan tajam sebanyak 5,90% (month to month / MtM).
Laporan itu mengungkapkan Panelis melaporkan bahwa penurunan tersebut umumnya mencerminkan kelangkaan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material, yang sebagian dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah serta gejolak perekonomian global
Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan PMI manufaktur Maret 2026 menunjukkan penurunan output dan penerimaan pesanan baru di sektor manufaktur Indonesia kembali terjadi, dengan penurunan output tercatat paling tajam dalam sembilan bulan.
Tak hanya itu, penurunan permintaan juga dikaitkan dengan penurunan tajam pada permintaan ekspor baru, yang turun dengan laju paling tajam sejak November lalu.
"Menurut laporan anggota panel, salah satu faktor utama dibalik penurunan pada akhir triwulan pertama adalah pecahnya perang di Timur Tengah. Bukti anekdotal menunjukkan bahwa perang menyebabkan tekanan signifikan pada harga dan pasokan bahan baku, berdampak pada produksi dan permintaan, serta mendorong inflasi biaya ke level tertinggi dalam 2 tahun," kata Usamah dalam laporan yang diterima SUAR di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Volume permintaan baru melambat untuk pertama kali dalam 8 bulan pada Maret. Penurunan hanya pada kisaran marginal, tetapi menggambarkan perubahan besar dari ekspansi besar-besaran pada periode survei sebelumnya.
Produsen menyebutkan bahwa penurunan permintaan dan peningkatan kompetisi membebani arus bisnis baru. Pesanan ekspor baru juga turun setelah naik pada Februari 2026. Sementara itu, penurunan penjualan menyebabkan kenaikan inventaris pascaproduksi karena produk yang tidak terjual tertahan sebagai stok.
"Melemahnya produksi dan kebutuhan kapasitas mendorong perusahaan memasuki fase pengetatan, dengan menurunkan aktivitas pembelian dan tingkat ketenagakerjaan," kata Bhatti.
Menurut dia, banyak perusahaan menurunkan tingkat tenaga kerja dua kali dalam 3 bulan meski hanya sedikit. Pada saat yang sama, produsen mengurangi aktivitas pembelian untuk pertama kalinya sejak Juli 2025. Ia juga memperkirakan kenaikan harga material dan kelangkaan pasokan menjadi faktor utama di balik penurunan tersebut.
Bahkan, waktu tunggu rata-rata pengiriman input lebih lama selama 6 bulan berturut-turut, di tengah laporan kelangkaan material dan keterlambatan pengiriman setelah pecahnya perang di Timur Tengah.
Keterlambatan pengiriman ini merupakan yang paling tajam sejak Oktober 2021. Meski demikian, perusahaan berupaya untuk menaikkan stok input untuk mengatasi penundaan dan kenaikan harga.
Adapun, produsen barang di Indonesia melaporkan adanya kenaikan harga input pada periode survei terbaru di tengah kenaikan harga bahan baku dan penundaan pengiriman. Tingkat inflasi sangat kuat dan mencapai titik tertinggi selama 2 tahun.
Perusahaan berupaya mengalihkan kenaikan biaya input kepada klien dengan menaikkan harga pabrik secara maksimal sejak Juni 2022. Namun, produsen manufaktur di Indonesia masih optimistis permintaan akan kembali membaik dengan harapan tidak terjadi eskalasi lebih lanjut dari konflik di Timur Tengah.
"Perusahaan manufaktur tetap percaya diri bahwa output akan naik pada tahun ini. Meski demikian, data bulan Maret menyoroti kerentanan sektor manufaktur Indonesia terhadap perang, khususnya dari sisi harga dan pasokan," tutur Bhatti.
Tetap bertahan
Di sisi lain, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sektor manufaktur nasional kembali menunjukkan ketahanannya di tengah ketidakpastian kondisi global seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta kenaikan harga bahan baku. Hal ini tercermin dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2026 yang berada di level 50,1 atau masih berada di zona ekspansi.
“Kami kaget sekaligus bersyukur bahwa di tengah kondisi yang super berat, baik dari sisi global maupun domestik, rata-rata PMI manufaktur Indonesia masih di atas angka 50. Ini menunjukkan resiliensi yang kuat dari sektor manufaktur tanah air,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resminya yang diterima SUAR,di Jakarta (1/4).
Sepanjang Triwulan I Tahun 2026, kinerja PMI manufaktur Indonesia tercatat konsisten berada pada fase ekspansi, yakni 52,6 pada Januari dan meningkat menjadi 53,8 pada Februari, sebelum mengalami moderasi ke 50,1 pada Maret. Meski terjadi perlambatan, posisi indeks yang tetap di atas 50 mengindikasikan aktivitas industri masih tumbuh.
Agus menegaskan, capaian tersebut tidak terlepas dari kekuatan struktur industri nasional yang didukung oleh permintaan domestik yang relatif terjaga. “Fundamental industri kita masih kuat. Permintaan dalam negeri tetap menjadi penopang utama, sehingga mampu menahan tekanan eksternal yang cukup besar,” ujar dia.
Jika dibandingkan secara global, posisi PMI Indonesia masih tergolong kompetitif. Sejumlah negara utama juga mengalami perlambatan aktivitas manufaktur pada Maret 2026. Jepang, misalnya, mencatat PMI sebesar 51,6, turun dari bulan sebelumnya meskipun masih berada di zona ekspansi.
Di kawasan ASEAN, Indonesia tetap berada dalam kelompok negara dengan PMI ekspansif, bersama beberapa negara seperti Thailand di angka 54,1, Malaysia tercatat 50,7, Myanmar tercatat 51,5, dan Filipina tercatat 51,3. Namun demikian, tidak semua negara mampu menjaga momentum ekspansi secara konsisten, yang berarti tekanan global sedang terjadi merata di beberapa kawasan.
Secara global, survei PMI juga menunjukkan bahwa tekanan inflasi meningkat dan rantai pasok terganggu akibat konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah, yang berdampak pada kenaikan biaya energi dan bahan baku.
“Kalau kita lihat secara global, hampir semua negara mengalami tekanan yang sama, baik dari sisi biaya maupun supply chain. Dalam hal ini, Indonesia masih mampu bertahan di zona ekspansi, ini tentu menjadi capaian yang patut diapresiasi,” ungkap dia.
Pada Maret 2026, tercatat adanya penurunan pada output dan pesanan baru, seiring dengan terganggunya pasokan bahan baku dan meningkatnya harga bahan baku. Selain itu, waktu pengiriman bahan baku mengalami keterlambatan paling tajam sejak Oktober 2021.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin yang menilai penurunan PMI Manufaktur Indonesia pada Maret 2026 terutama dipicu oleh pelemahan permintaan, khususnya penurunan pesanan ekspor baru, di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Selain itu, ujar dia, tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok turut menekan aktivitas industri.
"Kombinasi demand shock dan cost pressure ini membuat laju ekspansi industri melambat signifikan, mendekati batas stagnasi (level 50). Ke depan, Kami selaku WKU Kadin bidang Industri cenderung melihat PMI masih berpotensi bertahan di zona ekspansi tipis, namun sangat rentan terhadap tekanan eksternal," ujar Saleh kepada SUAR, Rabu (1/4/2025).
Menurut dia, pelemahan pesanan ekspor tentu akan berdampak langsung pada sektor padat karya melalui penurunan utilisasi kapasitas, tekanan margin, dan potensi penyesuaian tenaga kerja. "Maka dari itu arah dari PMI akan sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, stabilitas harga energi, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri," tambahnya.

Tekanan biaya juga meningkat signifikan, dengan inflasi harga bahan baku mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini mendorong produsen untuk menyesuaikan harga jual guna menjaga keberlanjutan usaha.
Namun demikian, pelaku industri masih menunjukkan optimisme terhadap prospek ke depan. Pada survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Maret 2026, sebanyak 73,7 persen responden menyampaikan kegiatan usahanya membaik dan stabil, dengan tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya 6 bulan ke depan sebesar 71,8 persen.
Kementerian Perindustrian terus melaksanakan berbagai langkah strategis untuk menjaga ketahanan sektor manufaktur, termasuk penguatan struktur industri, peningkatan utilisasi kapasitas produksi, serta optimalisasi pasar domestik sebagai penopang utama pertumbuhan.
Selain itu, pemerintah juga fokus menjaga kelancaran pasokan bahan baku dan logistik industri, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif agar sektor manufaktur tetap kompetitif di tengah dinamika global.

Kestabilan permintaan domestik
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal mentuurkan kinerja sektor manufaktur Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dengan bertahan di zona ekspansi, meskipun tekanan eksternal meningkat akibat konflik di Timur Tengah. Hal ini tercermin dari indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) yang masih berada di atas ambang batas 50, menandakan aktivitas industri yang terus tumbuh.
Permintaan domestik yang relatif stabil serta upaya pelaku industri dalam menjaga rantai pasok menjadi faktor utama yang menopang kinerja tersebut. Di tengah ketidakpastian global, industri manufaktur nasional juga mulai melakukan diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada wilayah yang terdampak konflik.
“Keberlanjutan pertumbuhan sektor ini perlu dijaga melalui kebijakan yang adaptif dan responsif terhadap dinamika global. Pemerintah dan pelaku industri perlu memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas pasokan energi dan bahan baku, sekaligus mendorong efisiensi produksi,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (1/4).
Selain itu, insentif bagi industri berorientasi ekspor dan peningkatan daya saing melalui hilirisasi menjadi langkah strategis agar manufaktur Indonesia tetap tumbuh konsisten. Dengan langkah yang tepat, sektor ini dapat terus menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional di tengah gejolak global.
Diversifikasi ekspor
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan pihaknya mulai memperkuat strategi diversifikasi ekspor dengan membidik pasar non-tradisional, terutama Eropa, di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.
Kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu jalur penting perdagangan global, sehingga gangguan geopolitik berpotensi mempengaruhi distribusi dan permintaan. Dengan kondisi tersebut, pelaku industri sawit nasional melihat peluang untuk meningkatkan penetrasi ke pasar Eropa, seiring kebutuhan negara-negara di kawasan tersebut terhadap pasokan minyak nabati yang stabil dan kompetitif.
“Momentum ini semakin diperkuat dengan telah disepakatinya Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), yang membuka akses pasar lebih luas bagi produk sawit Indonesia,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (1/4).
Melalui perjanjian tersebut, hambatan tarif dan non-tarif diharapkan dapat ditekan, sehingga daya saing ekspor meningkat. Gapki pun mendorong pelaku industri untuk memanfaatkan peluang ini dengan memastikan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan yang menjadi perhatian utama di Eropa. Dengan strategi yang tepat, ekspor sawit Indonesia berpotensi tumbuh lebih kuat sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.