Gejolak pasar modal Indonesia awal 2026 mencatatkan beberapa peristiwa besar mulai dari IHSG tembus rekor 9.134,7 hingga jatuh ke level 7.900-an. Pasca dihadang penilaian oleh MSCI dan Moody's yang memengaruhi kepercayaan investor global, beberapa emiten berupaya melakukan langkah penyelamatan lewat buyback.
Awal tahun 2026 menjadi periode penuh gejolak bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada pertengahan Januari, IHSG berhasil menembus level psikologis 9.000 dan ditutup pada posisi all-time-high (ATH) di level 9.134,7 (20/1). Lonjakan fantastis ini didorong oleh optimisme pasar terhadap rilis realisasi APBN 2025 serta kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai pro-pertumbuhan, yang disebut juga sebagai "Purbaya Effect".
Saat itu, kepercayaan investor global tinggi tercermin dari arus masuk modal asing (net buy) yang mencapai triliunan rupiah karena prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dianggap lebih menarik dibandingkan negara emerging market lainnya.
Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama karena badai ketidakpastian mulai menghantam di penghujung Januari 2026. IHSG mengalami penurunan drastis hingga sempat menyentuh level 7.481 setelah pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara rebalancing indeks saham Indonesia.
Langkah MSCI ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap transparansi data free float dan aksesibilitas pasar yang dianggap belum memenuhi standar global. Keputusan administratif ini memicu kepanikan luar biasa dan aksi jual masif, yang bahkan menyebabkan bursa mengalami trading halt atau penghentian sementara perdagangan beberapa kali karena penurunan yang lebih dari 8%.
Kondisi pasar semakin tertekan memasuki awal Februari 2026 setelah lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investors Service, menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Penurunan status ini berdampak langsung pada sektor perbankan sebagai motor penggerak utama pasar saham, di mana lima bank besar yakni BCA, BRI, BNI, Mandiri, dan BTN juga mendapatkan revisi outlook negatif.
Menanggapi keterpurukan indeks yang tertahan di level 7.000–8.000, sebanyak 16 emiten mengambil langkah melalui rencana pembelian kembali saham atau buyback dengan total dana mencapai Rp 15,39 triliun. Emiten besar seperti BBCA (Bank Central Asia) akan memulai langkah ini lebih awal, diikuti oleh deretan emiten lain, seperti BREN, TPIA, AMRT, hingga KLBF.
Aksi korporasi ini difasilitasi oleh relaksasi kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mengizinkan buyback tanpa melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) demi memberikan fleksibilitas di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Langkah buyback massal ini dinilai sebagai upaya untuk memberikan bantalan likuiditas dan menstabilkan harga saham yang dianggap sudah tidak mencerminkan fundamental perusahaan atau undervalued. Per tanggal 9-10 Februari 2026, indeks mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan kembali ke level 8.131 seiring adanya sinyal optimisme pasar dan penguatan nilai tukar Rupiah.
Meskipun tantangan dari sisi eksternal masih membayangi, komitmen emiten untuk mengambil sahamnya di pasar reguler menjadi pesan kuat kepada investor bahwa perusahaan-perusahaan besar Indonesia tetap memiliki fundamental kas yang solid di tengah badai sentimen negatif global.