IHSG Bergejolak, Investor Disarankan Evaluasi dan Diversifikasi Portofolio
Investor pun perlu melakukan evaluasi portofolio secara berkala, begitu juga dengan melakukan diversifikasi aset, serta penyesuaian strategi dengan profil risiko dan kebutuhan likuiditasnya.
•
5 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Wealth Management Head OCBC Diamond Stole (tengah) dalam media gathering yang digelar oleh OCBC di Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). (Foto:Gema Dzikri/Suar.id).
Dalam Artikel Ini
Gejolak di pasar saham yang terjadi belakangan ini menuntut investor untuk lebih cermat dalam mengelola portofolio investasi, terutama dalam menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko, demikian saran Wealth Management Head OCBC Diamond Stole dalam sebuah diskusi di Jakarta.
Sebagaimana diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok sebesar 11,6% pada Jumat (16/10/2026) lalu. Pada Selasa (20/10/2026, IHSG dibuka pada level 4.983,06 dan menguat sebelum jam makan siang menjadi berada di level 5.204,63.
“Bicara tentang market, kita lihat sekarang volatilitasnya memang harusnya sudah kita ekspektasikan, cuman volatilitasnya sebesar apa itu yang memang tidak diketahui. Volatilitas pasti akan terjadi,” ujar Diamond dalam Media Gathering yang digelar oleh OCBC di Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).
Ia mengingatkan investor pun perlu melakukan evaluasi portofolio secara berkala, begitu juga dengan melakukan diversifikasi aset, serta penyesuaian strategi dengan profil risiko dan kebutuhan likuiditasnya.
Hal ini menjadi penting agar investor tidak mengambil keputusan secara terburu-buru di tengah ketidakpastian pasar.
“Portofolio itu bukan sekali dibuat lalu dilupakan, tapi harus di-review secara berkala, karena bisa jadi hidup nasabahnya berubah, bisa jadi juga karena perubahan market, ini penting dengan adanya perubahan-perubahan untuk menyesuaikan lagi dengan kebutuhan,” jelasnya.
Semakin melek investasi
OCBC melihat saat ini investor ataupun nasabah sudah semakin paham mengenai investasi. Berdasarkan survei Hubbis Indonesia, sebanyak 59% profesional di bidang wealth management juga mengakui bahwa klien mereka di Indonesia semakin canggih dan berpengetahuan luas.
Namun, masih terdapat kesenjangan antara investor affluent dengan alokasi portofolio investasi mereka.
Mayoritas aset utama yang dimiliki oleh investor affluent Indonesia masih didominasi oleh instrumen konvensional dan cenderung tradisional seperti emas fisik sebesar 44%, deposito berjangka 33%, dan investasi terkelola sebesar 31%. Bahkan lebih dari 70% total saldo tabungan dan investasi ritel masih mengendap dalam bentuk deposito.
Hal ini menunjukkan bahwa walaupun kebutuhan dan wawasan sudah semakin berkembang, tetapi alokasi aset masih konservatif dan belum terdiversifikasi secara modern.
“Yang perlu kita lakukan itu mengenali profil risiko, apakah itu konservatif atau agresif, dari profil risiko itu bisa ditentukan tujuan keuangannya, kebutuhannya seperti apa, baru kemudian ditentukan untuk pemilihan produk-produk investasinya,” ujar Diamond.
Untuk kebutuhan jangka pendek yang mengutamakan likuiditas dan perlindungan aset, nasabah cenderung memilih instrumen seperti deposito, tabungan, pasar uang, dan reksa dana. Sementara untuk jangka panjang, pilihan investasi dapat lebih beragam mulai dari obligasi hingga saham.
Di tengah gejolak pasar saham, OCBC mengedepankan pendekatan pengelolaan portofolio yang terdiversifikasi untuk membantu nasabah memitigasi risiko investasi.
“Di kondisi seperti ini, yang paling penting kita akan memberikan pada customer-customer kita mengenai informasi apa yang sedang terjadi, supaya tidak panik. Karena dengan kondisi seperti ini, apalagi kalau belum terinformasi dengan baik, yang terjadi adalah investor hanya panik saja,” katanya.
OCBC memperkenalkan Premier one, sebuah layanan eksklusif yang dirancang untuk memberikan akses lebih luas terhadap pendampingan ahli, solusi investasi, serta berbagai manfaat yang disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan. (Foto: Gema Dzikri /SUAR)
OCBC Perkenalkan Premier One
Penguatan pendampingan terhadap nasabah atau investor ini menjadi bagian penting dari strategi OCBC dalam mengembangkan layanan pengelolaan kekayaan yang lebih personal. OCBC pun memperkenalkan Premier one, sebuah layanan eksklusif yang dirancang untuk memberikan akses lebih luas terhadap pendampingan ahli, solusi investasi, serta berbagai manfaat yang disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan.
Berdasarkan OCBC 2026 Net Promoter Score Study, nasabah affluent yang puas memiliki tingkat engagement 20% lebih tinggi dibandingkan nasabah yang belum merasa puas. Kebutuhan terhadap layanan yang lebih personal juga menunjukkan perlunya advisory untuk menerjemahkan tujuan nasabah menjadi strategi portofolio yang lebih terdiversifikasi.
“Keleluasaan solusi investasi menjadi penting karena tidak ada satu instrumen yang dapat menjawab seluruh kebutuhan nasabah,” tegasnya.
Gejolak IHSG juga menempatkan investor pada pilihan antara mengamankan dana yang dimiliki serta memanfaatkan peluang dari koreksi harga saham.
OCBC memperkenalkan Premier one, sebuah layanan eksklusif yang dirancang untuk memberikan akses lebih luas terhadap pendampingan ahli, solusi investasi, serta berbagai manfaat yang disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan. (Foto: Gema Dzikri /SUAR)
Pertimbangan ruang likuiditas
Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menjelaskan, dalam kondisi tersebut, strategi investasi dari para investor pun perlu mempertimbangkan ruang likuiditas agar tetap memiliki fleksibilitas ketika pasar mulai menunjukkan pemulihan.
“Investor perlu melakukan konservasi kapital atau likuiditas untuk memanfaatkan pemulihan harga saham. Rebalancing portfolio termasuk fokus pada saham high yield dividen. Strategi dollar cost averaging juga bisa dilakukan untuk saham-saham berfundamental baik,” ucap David.
Dengan menjaga likuiditas atau melakukan konservasi kapital, investor tetap memiliki ruang untuk memanfaatkan peluang ketika harga saham telah pulih ke depannya. Davin menjelaskan sejumlah indikator yang dapat menjadi patokan untuk para investor ketika harga saham di IHSG sudah menarik untuk dibeli dan koreksi pasar saham berpotensi mereda.
Indikator yang dapat diperhatikan antara lain price to earnings ratio (PER), price to book value (PBV), hingga tren ekonomi global.
“Untuk identifikasi saham yang oversold atau undervalued bisa dilakukan analisis fundamental dan teknikal dengan melihat indikator-indikator seperti PER, PBV, kondisi likuiditas, dan secara makro terkait ekonomi global hingga arah kebijakan pemerintah,” lanjutnya.
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menurun di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16/10/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/kye)
Pembenahan pasar modal
Pembenahan di pasar modal juga bisa dilakukan agar Indonesia mampu menarik investasi jangka panjang, tidak hanya bergantung pada arus modal asing yang mudah keluar saat terjadi ketidakpastian.
“Perlu memperkuat basis investor domestik dan merestrukturisasi aturan investasi agar lembaga keuangan domestik seperti BPJS, dana pensiun, dan lain sebagainya dapat meningkatkan porsi dana jangka panjangnya di pasar modal,” ujar David.
Penguatan pasar modal juga perlu dilakukan dari sisi regulasi dan pengawasan dari pemerintah, tidak hanya strategi investasi dari sisi investor. Menurutnya, kepercayaan investor terhadap pasar saham juga perlu ditopang dengan tata kelola yang baik dan transparan, tentunya disertai dengan penegakan hukum yang konsisten untuk mencegah praktik manipulasi saham ataupun insider trading.
Begitu pula dengan pendalaman pasar yang tak kalah penting demi memperluas pilihan instrumen investasi yang dapat dimanfaatkan oleh investor ketika dalam kondisi penuh ketidakpastian.
“Terus melakukan pendalaman finansial dan inovasi produk baru termasuk instrumen hedging sehingga ada fleksibilitas pengelolaan risiko terutama bagi investor institusi,” katanya.
Pembenahan pasar modal
Sejalan dengan kebutuhan untuk memperkuat kepercayaan investor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan kembali komitmennya untuk melanjutkan pembenahan pasar modal Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat memberikan keterangan pers terkait rapat terbatas ekonomi di Istana Merdeka, Senin (19/10/2026).(Foto: Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden).
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, upaya dari regulator ini diarahkan untuk memperbaiki kualitas perdagangan dan memastikan pasar modal berjalan secara transparan dan berintegritas.
“Kami sampaikan kepada Bapak Presiden, akan meneruskan reformasi pasar modal terkait dengan peningkatan transparansi, likuiditas, dan juga kita terus menegakkan enforcement kepada mereka-mereka yang telah melakukan pelanggaran terkait dengan coordinated trading dan lain sebagainya,” jelas Friderica usai menemui Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Senin (19/10/2026).
Kredibilitas, integritas, hingga penegakan terhadap berbagai pelanggaran akan terus dilakukan dan ditingkatkan lagi ke depannya demi menarik kembali kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
“Harapannya menimbulkan efek jera sehingga ke depan pasar modal Indonesia semakin likuid, semakin transparan, dan menjadi tempat investasi yang baik untuk investor asing maupun domestik, apalagi sekarang investor domestik retail kita sudah mencapai 32,7 juta, ini tentu saja menaruh harapan besar untuk pasar modal Indonesia ke depan bisa menjadi tempat investasi untuk jangka panjang yang baik untuk masyarakat Indonesia,” tutupnya.