Perputaran dan pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh hubungan baik dengan negara-negara yang menjadi mitra dagang dan mitra investasi. Untuk itu menjaga hubungan baik dengan negara sahabat merupakan aspek penting dalam diplomasi ekonomi. Terutama dengan Tiongkok dan Amerika Serikat yang menjadi mitra dagang utama Indonesia.
Indonesia terbuka dengan negara mana saja untuk melakukan kerjasama ekonomi, baik itu dalam konteks hubungan bilateral maupun multilateral. Untuk itu, Presiden RI Prabowo Subianto selalu menyempatkan hadir dalam pertemuan-pertemuan multilateral dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara sahabat di negaranya. Selain itu, Presiden Prabowo juga menerima sejumlah pemimpin negara sahabat di Istana Kepresidenan Jakarta atau di Istana Kepresidenan Bogor.
Dari pertemuan-pertemuan bilateral dan multilateral itu, Badan Komunikasi Pemerintah RI menyebutkan Presiden Prabowo berhasil mendapatkan komitmen investasi baru yang besarnya lebih dari Rp 1.000 triliun.
Dari Survei Semesta Dunia Usaha yang dilakukan Tim SUAR, dari responden survei yang terdiri dari para pemimpin di perusahaan dan pakar ekonomi menyampaikan Indonesia terbuka dengan negara mana saya untuk menjalin kerjasama ekonomi. Hal itu diutarakan oleh empat dari sepuluh responden. Namun, ada negara-negara yang dapat menjadi prioritas untuk dijadikan mitra dagang atau mitra investasi yang lebih menguntungkan.
Negara tersebut dengan persentase jawaban yang cukup besar adalah Tiongkok (28,1%). Setelah itu, dengan angka persentase yang sama, yaitu masing-masing 6,3%, berturut-turut adalah Amerika Serikat, negara-negara ASEAN atau Asia lainnya, dan Arab Saudi atau negara Timur Tengah lainnya.
Faktor yang perlu dijadikan pertimbangan dalam menjalin kerjasama yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi antara lain adalah negara tersebut merupakan negara adidaya atau yang memiliki pengaruh besar dalam peta global (27,8%). Selain itu, memiliki kondisi finansial yang kuat (22,2%), merupakan negara tujuan utama komoditas ekspor (16,7%), serta memiliki teknologi yang lebih maju (11,1%) juga turut menjadi pertimbangan.
Tiongkok sebagai salah satu negara prioritas Indonesia dalam menjalin kerjasama ekonomi memiliki setidaknya dua faktor pertimbangan yang kuat, yakni salah satu negara adidaya atau berpengaruh kuat dan merupakan negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia.
Disebut sebagai negara adidaya atau berpengaruh kuat, indikasinya terlihat dari Amerika Serikat yang menjadikan Tiongkok sebagai pesaing terkuatnya dalam urusan dagang. Perang dagang antara kedua negara besar ini belum surut. Tarif impor AS terhadap produk-produk Tiongkok sempat mencapai 145%, meski kemudian turun menjadi 30% pada Mei 2025. Sebaliknya, tarif impor Tiongkok terhadap produk-produk AS sempat mencapai 125% sebelum akhirnya turun menjadi 10% pada Mei 2025.
Ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat bernilai 26,56 miliar dollar AS atau separuh dari ekspor ke Tiongkok.
Tiongkok sampai saat ini merupakan negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia terbesar. Selama periode Januari-Oktober 2025, ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok tercatat 52,45 miliar dollar AS. Angka ini mengambil porsi 23,51% dari total ekspor Indonesia dan tumbuh 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara, Amerika Serikat menempati posisi kedua sebagai nagara tujuan utama ekspor Indonesia, dengan nilai 26,56 miliar dollar AS (separuh dari ekspor ke Tiongkok) dengan porsi 11,5%.
Dua negara yang menjadi mitra dagang Indonesia ini memiliki catatan neraca perdagangan yang berbeda. Meski porsi terbesar ekspor Indonesia adalah ke Tiongkok, namun neraca perdagangan Indonesia-Tiongkok selalu defisit karena impor dari Tiongkok lebih besar. Sementara neraca perdagangan antara Indonesia dengan Amerika Serikat dari tahun ke tahun selalu tercatat surplus bagi Indonesia. Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor AS ke Indonesia.
Dari segi investasi, di tahun 2025 (Januari-September) Tiongkok merupakan negara dengan realisasi investasi terbesar ketiga dengan nilai 5,4 miliar dollar AS, setelah Singapura (12,6 miliar dollar AS) dan Hong Kong (7,3 miliar dollar AS).
Negara-negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia merupakan mitra dagang dan mitra ekspor yang prioritas bagi Indonesia. Kedekatan geografis alias tetangga terdekat ini menjadi alasan terjalinnya kerjasama ekonomi.
Negara-negara Timur Tengah, terutama Arab Saudi juga menjadi negara prioritas bermitra dengan Indonesia. Hal itu karena penduduk Indonesia yang mayoritas muslim menjadi pasar terbesar bagi Arab Saudi dalam ritual haji. Juga menjadi negara tujuan utama para pekerja migran Indonesia yang ingin memperbaiki nasib.
Meski ada negara-negara yang menjadi prioritas untuk menjalin kerjasama ekonomi, Indonesia tetap membuka peluang kerjasama dengan negara mana saja untuk diversifikasi pasar ekspor dan menarik investasi.