Memperkuat Poros Ekonomi Indonesia-Korea Selatan

Setelah Jepang, Presiden Prabowo Subianto melanjutkan perjalanan diplomasinya ke Korea Selatan pada awal April 2026. Kunjungan ke Seoul menjadi langkah strategis untuk memperdalam integrasi ekonomi di Kawasan Asia Timur, terutama memperluas akses pasar dan menarik investasi.

Memperkuat Poros Ekonomi Indonesia-Korea Selatan

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Presiden Prabowo berupaya memastikan bahwa kemitraan strategis dengan Korea Selatan menjadi pilar utama pendukung pertumbuhan industri nasional, khususnya dalam transformasi teknologi dan energi hijau.

Menilik data perdagangan selama enam tahun terakhir, hubungan ekonomi kedua negara cukup dinamis dengan kecenderungan Indonesia mampu menekan impor dari negeri ginseng tersebut. Setelah sempat mengalami defisit pada tahun 2020 dan 2021 masing-masing sebesar 341,8 juta dolar AS dan 445,3 juta dolar AS, Indonesia berhasil membalikkan keadaan sejak tahun 2022 dengan mencatatkan surplus perdagangan. 

Puncaknya terlihat pada proyeksi data tahun 2025, di mana neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar 2.245,62 juta dolar AS. Angka ini meningkat 56% dari surplus tahun sebelumnya. Peningkatan ini buah dari penguatan hilirisasi dan daya saing produk lokal di pasar Korea.

Dominasi ekspor Indonesia ke Korea Selatan pada tahun 2025 masih dipimpin oleh sektor energi dan bahan baku industri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), bahan bakar mineral menjadi komoditas unggulan utama dengan nilai mencapai 3.111,12 juta dolar AS. 

Disusul kemudian oleh produk bernilai tambah tinggi seperti mesin dan perlengkapan elektrik senilai 1.454,86 juta dolar AS, serta besi dan baja sebesar 507,59 juta dolar AS. Komposisi ini menunjukkan bahwa selain mengekspor sumber daya alam, Indonesia mulai merangkak naik dalam rantai pasok manufaktur global.

Di sisi lain, struktur impor Indonesia dari Korea Selatan menunjukkan ketergantungan pada barang modal dan bahan penolong untuk industri domestik. Mesin dan perlengkapan elektrik menempati urutan pertama impor dengan nilai 1.427,62 juta dolar AS, diikuti oleh besi dan baja sebesar 860,7 juta dolar AS serta plastik dan barang dari plastik senilai 816,98 juta dolar AS. 

Kunjungan Presiden Prabowo ke Korea Selatan diharapkan membuka peluang ke celah-celah perdagangan yang masih ada, khususnya pada komoditas seperti produk kimia dan mesin peralatan mekanis. Dengan tren surplus yang terus menanjak hingga tahun 2025, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk menegosiasikan investasi langsung (FDI) dari raksasa teknologi Korea Selatan.

Sinergi antara kekayaan sumber daya mineral Indonesia dan keunggulan teknologi Korea Selatan diprediksi akan menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan visi ekonomi Indonesia yang lebih tangguh dan kompetitif di masa depan.

Baca selengkapnya