Industri Minuman Ekspansif, Pemerintah Diminta Berikan Insentif dan Dorong Daya Beli
Pelaku usaha optimistis terhadap kondisi usahanya 6 bulan ke depan terutama menyambut momen Natal dan Tahun Baru.
Pelaku usaha optimistis terhadap kondisi usahanya 6 bulan ke depan terutama menyambut momen Natal dan Tahun Baru.
Momentum penguatan industri manufaktur nasional pada bulan Oktober 2026 perlu diimbangi dengan insentif kepada pelaku usaha dan kebijakan yang mendorong daya beli masyarakat guna mempertahankan industri tetap ekspansif menyambut momen akhir tahun.
Industri manufaktur nasional menunjukkan penguatan aktivitas usaha, tercermin dari kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Oktober 2026 yang tercatat berada di level 53,77, meningkat 1,84 poin dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada di level 51,93.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Eko Suseno Agung Cahyanto menjelaskan, dari 4.614 responden yang melaporkan secara lengkap apa yang terjadi di perusahaan mereka, IKI pada bulan Oktober menunjukkan peningkatan dan berada dalam fase ekspansi.
“Angka 53,77 ini menunjukkan bahwa sektor industri ada pada posisi ekspansi yang kuat, apabila dibandingkan dengan bulan September yang sebesar 51,93,” jelas Eko.
Dengan ini, IKI kembali menunjukkan penguatan setelah dua bulan berturut-turut mengalami perlambatan. Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, terdapat 19 subsektor yang mengalami ekspansi, sementara 4 subsektor sisanga mengalami kontraksi.
Adapun subsektor yang mengalami ekspansi ini memberikan kontribusi sebesar 94,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada triwulan II tahun 2026.
“Dibandingkan bulan Oktober tahun lalu juga naik 0,27 poin. IKI di bulan Oktober ini merupakan nilai IKI tertinggi sejak Februari 2026, apabila kita perhatikan angka IKI dari bulan ke bulan menunjukkan bahwa sektor industri ekspansi dan kuat,” tegasnya.
Baik IKI ekspor maupun domestik pada bulan Oktober juga masih berada di fase ekspansi. IKI ekspor tercatat mencapai level 53,93, sementara IKI domestik mencapai 53,55. Keduanya pun mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Dari sisi optimisme pelaku usaha, tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya selama 6 bulan ke depan masih berada di 67,4% atau sama seperti di bulan sebelumnya.
“Kita akan menghadapi situasi Natal dan Tahun Baru dalam beberapa waktu ke depan, selanjutnya di awal tahun akan memasuki bulan puasa dan dilanjutkan dengan Hari Raya, pelaku usaha melihat situasi ini merupakan suatu peluang yang bisa meningkatkan utilisasi mereka,” ucapnya.
Baca juga:
Sebanyak 27,1% pelaku usaha dari responden IKI menyatakan kondisi usahanya stabil selama 6 bulan mendatang, naik sedikit 0,2% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Persentase pesimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya juga turun 0,3% menjadi sebesar 5,5%.
“Kami berharap situasi 6 bulan ke depan tetap stabil sehingga optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya akan semakin membaik,” tutup Eko.
Salah satu subsektor yang kembali mengalami ekspansi adalah sektor industri minuman, yang kembali mencatatkan kinerja positif dan tercermin dalam IKI bulan Oktober tersebut.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria menjelaskan, IKI sektor industri minuman masih berada pada fase ekspansi, berturut-turut sejak bulan Mei 2026 lalu.
“Untuk komponen pesanan baru, permintaan didukung oleh strategi industri menjelang Natal dan Tahun Baru, dilanjutkan dengan Ramadan dan Hari Raya Lebaran, jadi ini menjadi salah satu strategi yang disiapkan industri menyambut panjangnya masa perayaan di tahun yang akan datang,” ucap Merri.
Pelaku usaha di sektor ini terus meningkatkan aktivitas produksinya guna memenuhi kebutuhan pasar, apalagi dari sisi permintaan juga terus tetap terjaga. Kesiapan pelaku industri dalam menjaga ketersediaan produk juga terlihat pada komponen persediaan yang masih berada dalam fase ekspansi.
Meski berada dalam fase ekspansi, penguatan kinerja industri perlu diikuti sejumlah langkah pemerintah guna menjaga momentum pertumbuhan mulai dari memastikan ketersediaan bahan baku dan infrastruktur, memperkuat investasi, hingga mendorong dari sisi permintaan.
Baca juga:

Demi menjaga momentum ekspansi industri manufaktur, penguatan tidak hanya dilakukan dari sisi aktivitas produksi dan permintaan saja, tetapi juga melalui peningkatan daya saing kawasan industri sebagai tempat berlangsungnya kegiatan manufaktur.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perindustrian Saleh Husin menjelaskan, pemerintah tetap perlu memastikan ketersediaan infrastruktur, energi, hingga berbagai faktor lainnya yang turut berperan penting dalam mendorong ekspansi industri nasional.
“Pemerintah perlu memperkuat, dan memastikan ketersediaan infrastruktur, energi, logistik, dan bahan baku dengan harga kompetitif. Penyederhanaan regulasi dan memperkuat koordinasi pusat-daerah agar perizinan lebih cepat dan konsisten juga dibutuhkan,” ucap Saleh.
Upaya penguatan ini penting agar sektor industri maupun industri manufaktur mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar lagi pada perekonomian nasional.
Menanggapi IKI, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, yang perlu menjadi perhatian dari IKI apabila variabel pesanan baru turun mendekati level 50 sementara produksi tetap berada di sekitar 55. Ketika itu terjadi, maka ada indikasi bahwa produksi dan permintaan tidak sesuai.
Pada bulan Oktober ini, variabel pesanan baru mengalami peningkatan sebesar 2,68 poin menjadi 56,08, sementara variabel produksi berada pada level 55,38, naik 1,60 poin dari bulan sebelumnya.
“Jadi saat ini belum ada masalah kelebihan produksi, tetapi jarak antara pertumbuhan produksi dan pesanan perlu dipantau,” ucap Josua.
Pemerintah juga didorong untuk menghadirkan sejumlah kebijakan demi menjaga momentum pertumbuhan industri tersebut tetap berada dalam fase ekspansi. Kebijakan yang dibutuhkan pun bukan hanya sekadar memberi tambahan insentif kepada pelaku usaha untuk memproduksi lebih banyak, tetapi memastikan pelaku usaha memiliki pesanan yang baru, biaya produksi yang kompetitif, dan kepastian untuk melakukan investasi baru.
Dari sisi permintaan, pemerintah juga harus menjaga daya beli masyarakat terutama untuk kelas menengah ke bawah, ditambah mempercepat belanja pemerintah dan pengadaan barang yang mempunyai kandungan produksi domestik tinggi.
“Ini penting karena porsi pengeluaran rumah tangga semakin terserap untuk kebutuhan wajib seperti pajak, asuransi, dan biaya rutin. Sementara porsi belanja barang tahan lama dan pakaian justru turun, kondisi ini dapat membatasi permintaan produk manufaktur nonpangan,” ujarnya.
Selain itu, prioritas industri juga sudah harus bergeser dari yang sekadar menjaga produksi saja menuju memperbesar pesanan. Pemerintah didorong untuk lebih agresif membuka pasar ekspor nontradisional, mempercepat perjanjian dagang, hingga menghubungkan industri domestik dengan rantai pasok perusahaan global.
Penguatan aktivitas manufaktur dalam negeri pun idealnya tidak hanya melihat dari sisi peningkatan volume produksi saja, tetapi bagaimana sektor ini mampu mendorong aktivitas investasi dan memberikan kontribusi nyata.
“Jika pesanan terus melemah sementara biaya produksi meningkat, ekspansi dapat berubah cepat menjadi perlambatan. Karena itu, pemerintah sekarang perlu mengejar pesanan, menekan biaya produksi, memperluas pasar ekspor, dan memastikan ekspansi industri menghasilkan investasi serta pekerjaan baru,” tutupnya.