Indonesia Lanjutkan Surplus Neraca Perdagangan

Indonesia berhasil melanjutkan surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia masih melanjutkan surplus neraca perdagangan 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Nilai total ekspor Indonesia pada November 2025 sebesar USD 22,52 miliar, sementara nilai total impor Indonesia pada November 2025 sebesar USD 19,85 miliar. Dengan demikian tercatat surplus neraca perdagangan sebesar USD2,66 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menjelaskan, ekspor ditopang oleh ekspor non migas November 2025 yang mencapai USD21,63 miliar. Kendati menurun 5,09%, ekspor non migas tetap berperan signifikan pada pertumbuhan ekspor secara keseluruhan karena berkontribusi terhadap 95,40% dari total ekspor.

Nilai total ekspor Indonesia sepanjang Januari - Novemver 2025 berhasil mencapai USD256,6 miliar, atau naik sebanyak 5,61% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

​​Sedangkan, nilai impor Indonesia Januari–November 2025 mencapai USD218,02 miliar atau naik 2,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pudji menjelaskan, nilai ekspor migas USD11,81 miliar USD atau turun 17,64%. Nilai ekspor non migas naik sebesar 7,07% dengan nilai USD 224,75 miliar.

Jika dilihat menurut sektor, peningkatan nilai non migas kumulatif terjadi di sektor pengolahan dan pertanian. Sektor industri pengolahan jadi pendorong utama atas kinerja ekspor non migas pada Januari - November 2025 dengan andil sebesar 10,41%.

"Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar antara lain minyak kelapa sawit, kimia organik yang bersumber pertanian, logam dasar bukan besi, serta semi konduktor elektronik lainnya," kata Pudji di kantor BPS di Jakarta, Senin (5/1).

China masih jadi destinasi utama ekspor Indonesia dengan nilai ekspor non migas USD58,24 miliar, atau naik sebesar 6,24% dibandingkan Januari - November 2024, disusul Amerika Serikat US$28,14 miliar, dan India US$16,44 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 42,02 persen.

"Jika dibandingkan kumulatif tahun lalu, Januari - November 2025 ekspor non migas ke Amerika, Eropa mengalami peningkatan sementara ke India mengalami penurunan," kata dia.

Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menuturkan Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan pada November 2025 sebesar US$ 2,4 miliar, dengan perolehan angka tersebut Indonesia berhasil melanjutkan surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Dampak positif surplus neraca perdagangan berbulan-bulan adalah meningkatkan cadangan devisa,masuknya devisa dari ekspor menambah pasokan mata uang asing, memperkuat posisi cadangan devisa negara.

Baca juga:

Outlook Perdagangan Internasional 2026: Penuh Peluang dari Kerjasama, Banyak Tantangan dari Ketidakpastian Global
Peluang datang dari beragam perjanjian kerjasama bilateral dan multilateral yang sudah berjalan. Namun, dunia usaha Indonesia juga dihadapkan pada perlambatan ekonomi global yang bisa menyusutkan permintaan ekspor-impor.

Surplus juga bisa menstabilkan nilai tukar rupiah,mendorong pertumbuhan ekonomi,permintaan ekspor yang tinggi mendorong peningkatan produksi domestik, yang berkontribusi langsung pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) riil.

“Surplus perdagangan membantu menutupi defisit di pos-pos lain seperti jasa dan pendapatan primer, menjaga keseimbangan neraca pembayaran secara keseluruhan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (5/1).

Kinerja ekspor yang kuat memperbaiki persepsi investor terhadap fundamental ekonomi negara dan menarik investasi lebih lanjut.

Cara Jaga Surplus Perdagangan

Dewan Pakar Apindo Danang Girindrawardana mengatakan untuk menjaga surplus neraca perdagangan, Indonesia perlu melakukan diversifikasi pasar ekspor, memperkuat promosi produk di luar negeri, mempercepat hilirisasi sumber daya alam (SDA) untuk meningkatkan nilai tambah.

Perluas tujuan ekspor ke pasar non-tradisional seperti Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan pada pasar utama AS, Tiongkok, India

Promosi dan diplomasi ekonomi dengan mengoptimalkan peran duta besar dan atase perdagangan sebagai "salesman" produk Indonesia di luar negeri, serta manfaatkan pameran dagang internasional.

“Aktif dalam perjanjian perdagangan bebas (FTA) dan kemitraan ekonomi komprehensif untuk mengurangi hambatan tarif juga bisa memberikan dampak positif terhadap neraca perdagangan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (5/1).

Baca selengkapnya