Konsumsi Masyarakat Putar Rp148 Triliun Sepanjang Libur Lebaran

Pengeluaran itu berasal dari belanja makanan minuman, pakaian, transportasi, akomodasi, dan lain-lain. Momen gelontoran uang yang bisa mendorong konsumsi masyarakat.

Konsumsi Masyarakat Putar Rp148 Triliun Sepanjang Libur Lebaran
Sejumlah warga berbelanja pakaian untuk kebutuhan Lebaran di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3/2026).Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/wsj.
Daftar Isi

Konsumsi masyarakat sepanjang periode cuti bersama dan libur hari raya Idulfitri 1447 Hijriah antara 16-25 Maret 2026 berpotensi mendorong perputaran uang hingga Rp148 triliun. Sebagai momentum konsumsi tinggi terakhir di triwulan pertama 2026, perputaran ini sekaligus menjadi pendorong yang menentukan keberhasilan Indonesia mengejar target pertumbuhan Kuartal I sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang menilai berbagai stimulus ekonomi menjelang hari raya Idulfitri telah mendorong masyarakat melakukan perjalanan mudik untuk merayakan hari kemenangan ke kampung halaman.

Diskon moda transportasi Rp911,16 miliar, diskon tarif tol hingga 30%, tunjangan hari raya (THR) hingga Rp55 triliun untuk ASN, TNI, dan Polri, serta bonus hari raya (BHR) untuk mitra aplikasi transportasi daring menjadi sejumlah bentuk yang telah digelontorkan sampai saat ini. Kebijakan work from anywhere (WFA) memungkinkan perusahaan mengejar target tanpa mengurangi mobilitas pekerja jelang libur panjang.

Potensi pergerakan masyarakat tahun ini mencapai 143,9 juta orang atau 50,6% total populasi Indonesia. Jumlah ini setara dengan 35.975.000 kepala keluarga dengan asumsi rata-rata per keluarga 4 orang.

Dengan rata-rata kenaikan THR 10% menjadi Rp4.125.000 dari sebelumnya Rp3,75 juta maka potensi perputaran uang mencapai Rp.148.396.875.000.000, naik sekitar 8% dari tahun sebelumnya.

Menurutnya, angka perputaran uang tersebut masih dalam kalkulasi moderat atau paling rendah. Apabila dimaksimalkan dengan satu keluarga membawa Rp4.500.000, maka potensi kenaikan dapat mencapai Rp.161,89 triliun, dengan konsentrasi peredaran tertinggi diperkirakan di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat.

"Perputaran uang ini akan memenuhi kebutuhan mudik seperti tiket objek wisata, biaya tol dan BBM, servis kendaraan, buah tangan untuk keluarga di kampung halaman, baju baru dan peralatan ibadah, hampers untuk tetangga dan sahabat, serta aneka makanan dan minuman. Artinya ini menyasar semua sektor usaha yang menjual kebutuhan masyarakat menjelang dan selama Idulftri 1447," jelas Sarman dalam keterangan tertulis yang diterima SUAR, Jumat (13/3/2026).

Sarman menekankan lonjakan konsumsi rumah tangga hingga 10-15% menjadi momentum untuk meggerek pertumbuhan ekonomi nasional Kuartal I 2026 yang ditargetkan mencapai 5,5%. Geliat ekonomi awal tahun ini merupakan akumulasi perputaran uang selama libur Natal dan Tahun Baru di awal Januari, perayaan dan libur Imlek 2577 Kongzili, dan kini Idulfitri 1447 H.

Dalam momentum konsumsi tinggi yang berlangsung secara konstan itu, Sarman mengharapkan pemerintah menjamin berbagai kebutuhan pokok tersedia dengan harga terjangkau. Di samping itu, ketersediaan bahan bakar minyak dan gas untuk kebutuhan energi dan konsumsi. Kelancaran suplai kebutuhan itu akan menjaga psikologi pasar, mencegah panic buying, serta menjadikan seluruh proses mudik aman dan tenteram sampai tujuan.

"Jika masyarakat kita bisa enjoy, bisa santai, mereka akan mampu membelanjakan uangnya di kampung halaman masing-masing untuk menggerakkan ekonomi daerah, menggerakkan berbagai sektor usaha di daerah, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional kita," pungkas Sarman.

Membenarkan penilaian Sarman, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menyatakan momentum peningkatan pertumbuhan akibat naiknya konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN) Idulfitri sudah terlihat sesuai dugaan. Keduanya sekaligus menjadi bukti permintaan domestik tetap kuat di tengah gejolak global.

"Indikator penghasilan menunjukkan perbaikan dengan THR, insentif, dan belanja sosial, sehingga di Kuartal I ini, konsumsi yang lebih baik akan mendorong peningkatan PDB kita menjadi lebih tinggi daripada Kuartal IV 2025 kemarin," cetus Aida dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Selasa (17/3/2026).

Baca juga:

Penjualan Makanan Minuman Bakal Naik 10-20% Saat Ramadan
Faktor Pendorong penjualan produk makanan dan minuman meningkat saat momen lebaran adalah penyaluran THR (Tunjangan Hari Raya) serta gaji ke-13 yang bisa meningkatkan daya beli masyarakat.

Meskipun peningkatan konsumsi berlangsung dalam tren positif, Aida menegaskan pemerintah akan terus memperhatikan perkembangan terkini, termasuk eskalasi perang Amerika Serikat-Iran dan dampaknya terhadap rantai pasok dan kenaikan harga komoditas kelompok bergejolak (volatile food) akibat faktor cuaca.

"Kami telah mendapatkan notifikasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa harga beberapa komoditas pangan akan naik akibat musim kemarau yang lebih kering yang datang lebih awal tahun ini, sehingga berdampak pada kenaikan harga komoditas hortikultura seperti cabai dan jagung. Perkembangan ini juga terus kami pantau ke depan," jelasnya.

Belanja semakin selektif

Terlepas dari momentum Idulfitri yang mendorong kenaikan konsumsi secara signifikan, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengungkap adanya perubahan struktural dalam pola konsumsi masyarakat, terutama karena daya beli kelas menengah mulai tergerus sehingga masyarakat menjadi jauh lebih selektif dalam berbelanja.

"Salah satu faktor pentingnya adalah perubahan struktur kelas ekonomi. Dalam periode 2018–2025, 12,7 juta penduduk bergeser ke calon kelas menengah (CKM) yang memiliki ruang konsumsi lebih terbatas. Saat ini, kontribusi konsumsi kelas menengah terhadap konsumsi nasional turun dari sekitar 46% menjadi 37%, sementara CKM justru meningkat menjadi sekitar 44%," jelas Rendy saat dihubungi, Jumat (13/3/2026).

Dengan struktur seperti itu, Rendy menggarisbawahi pola konsumsi selama Ramadan dan Lebaran ikut berubah. Belanja masyarakat semakin terkonsentrasi pada kebutuhan pokok dan pangan, sementara pengeluaran yang sifatnya diskresioner seperti elektronik, otomotif, pakaian, wisata, atau hiburan tidak lagi sekuat sebelumnya.

"Artinya, walaupun konsumsi agregat saat Lebaran mungkin tetap meningkat secara nominal, kualitas pertumbuhan konsumsi itu sebenarnya melemah, karena sektor-sektor dengan efek pengganda besar terhadap ekonomi tidak lagi mendapatkan dorongan permintaan yang sama kuatnya," cetusnya.

Menurut Rendy, jika perubahan prioritas konsumsi ini terus berlanjut, momentum Lebaran sebagai pendorong konsumsi berpotensi tidak seefektif sebelumnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I. Perputaran uang memang tetap meningkat karena aktivitas mudik dan kebutuhan hari raya, tetapi dampaknya terhadap pertumbuhan bisa menjadi lebih terbatas dan lebih terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu saja.

Dalam kondisi seperti ini, Rendy menilai beberapa antisipasi perlu diperhatikan. Pertama, stabilitas harga pangan menjadi sangat penting, karena kelompok CKM yang kini menjadi penopang utama konsumsi sangat sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. "Jika inflasi pangan meningkat, ruang belanja mereka untuk konsumsi lain akan semakin tertekan," ujarnya.

Di samping itu, insentif perlu diarahkan untuk mendukung daya beli kelas menengah juga perlu dipertimbangkan melalui penyesuaian PTKP, insentif pajak pada kelompok pendapatan menengah, atau skema voucer konsumsi yang lebih terarah agar belanja masyarakat tetap terjaga.

"Pemerintah juga perlu memberikan kepastian kebijakan kepada dunia usaha, karena saat ini ekspansi manufaktur domestik masih cukup bergantung pada kekuatan permintaan dalam negeri di tengah ketidakpastian global," tegasnya.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya