Dua hari jelang jeda libur Lebaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (16/3/2026) ditutup melemah 114,92 poins atau turun 1,61% dibanding perdagangan Jumat pekan lalu, sehingga kini berada pada level 7.022,29. Terkoreksinya IHSG mengikuti rutinitas tahunan dimana koreksi pasar modal cenderung terkoreksi jelang libur panjang Lebaran. Ini ditambah dengan sentimen ketidakpastian global yang membuat dana asing keluar dari lantai bursa Tanah Air.
Sejak perdagangan dibuka, IHSG terus melemah bahkan menembus batas psikologis yang yakni di bawah 7.000. Berdasarkan data Stockbit pada pukul 09.05 WIB, IHSG merosot 150,13 poin atau 2,10% ke posisi 6.987,08. Akhirnya IHSG mencapai batas bawahnya yakni pada posisi 6.917 yang merupakan titik terendah baru IHSG sepanjang 2026.
Tekanan terhadap indeks berlanjut hingga penutupan perdagangan. IHSG akhirnya ditutup di level 7.022,29 atau turun 114,92 poin setara 1,61%. Sepanjang hari, indeks bergerak fluktuatif dalam rentang 6.917 hingga 7.137. Nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp13,54 triliun.
Penurunan IHSG terutama dipicu oleh pelemahan mayoritas sektor saham. Sektor teknologi mengalami penurunan terbesar sebesar 2,34%, diikuti sektor properti 2,28% dan sektor energi 2,24%. Sektor material dasar terkoreksi 1,82% dan sektor transportasi melemah 1,57%. Sebaliknya, beberapa sektor masih mencatat penguatan terbatas, antara lain sektor keuangan, kesehatan, dan industri.
Dari sisi emiten, tekanan signifikan datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham DSSA tercatat turun 8,03%, MLPT melemah 11,48%, AMMN terkoreksi 8,89%, dan BREN turun 5,16%. Selain itu, saham TPIA turun 5,50% dan BRPT melemah 8,76%.
Koreksi tersebut memperpanjang tren pelemahan IHSG dalam beberapa pekan terakhir. Pada pekan sebelumnya, indeks tercatat turun 448,47 poin atau 5,91% dan menyentuh level terendah tahun ini di 7.137,21. Secara kumulatif, penurunan indeks sejak awal 2026 telah mencapai 17,46%.
Pelemahan tersebut juga melanjutkan koreksi tajam yang terjadi pada pekan sebelumnya, ketika IHSG turun 649,79 poin atau 7,89% ke level 7.585,68. Dengan penurunan beruntun tersebut, kinerja indeks saham Indonesia menjadi yang terdalam secara persentase di antara bursa saham global sepanjang tahun berjalan.
Dari sisi aliran dana, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih saham senilai Rp1,56 triliun sepanjang pekan lalu. Kondisi tersebut berbalik dibandingkan pekan sebelumnya ketika investor asing mencatat pembelian bersih sekitar Rp2,22 triliun.
Sementara itu, dikutip dari Stockbit, aktivitas perdagangan investor asing pada Senin relatif berimbang. Nilai pembelian investor asing tercatat sekitar Rp3,28 triliun, sedangkan nilai penjualan sekitar Rp3,27 triliun, sehingga menghasilkan pembelian bersih sekitar Rp9,20 miliar.
Secara keseluruhan, kontribusi nilai transaksi masih didominasi investor domestik. Porsi transaksi investor domestik mencapai sekitar 60,23% dari total nilai perdagangan, sedangkan investor asing sekitar 39,77%.
Dari sisi nilai transaksi, investor domestik mencatat pembelian sekitar Rp4,95 triliun dan penjualan Rp4,96 triliun. Meski sedikit lebih besar di sisi jual, investor domestik tetap mendominasi volume perdagangan saham di pasar.
Data perdagangan menunjukkan volume pembelian investor domestik mencapai sekitar 12,67 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan volume penjualan sebesar 11,81 miliar saham. Sementara itu, investor asing mencatat volume pembelian sekitar 4,95 miliar saham dan volume penjualan sekitar 5,82 miliar saham.
Secara proporsi, investor domestik menguasai sekitar 69,44% volume transaksi pasar saham Indonesia, sedangkan investor asing berkontribusi sekitar 30,56%.
Momen pelemahan IHSG jelang Lebaran membuat Aji (24), salah satu investor ritel, menghapus salah satu aplikasi sekuritas yang jadi andalannya dalam melakukan trading. Hal itu dia lakukan agar tidak kepikiran di hari raya nanti.
“Saya memilih untuk menghapus agar tidak kepikiran portofolio, libur panjang waktunya santai-santai sama keluarga. Biar saja lah (IHSG) merah, semoga nanti habis Lebaran, hijau lagi,” cetusnya.
Dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik
Pelemahan IHSG disinyalir dipicu kombinasi faktor domestik dan tekanan eksternal yang terjadi bersamaan.
Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan menilai pelemahan IHSG merupakan dinamika pasar yang wajar terutama jelang libur panjang Lebaran ketika aktivitas perdagangan di bursa biasanya menurun.
Menurutnya, fluktuasi harian indeks saham tidak dapat langsung dianggap sebagai peristiwa luar biasa karena merupakan bagian dari mekanisme pasar. Investor, khususnya trader jangka pendek, cenderung menutup posisi sebelum bursa memasuki masa libur untuk menghindari risiko ketika pasar tidak beroperasi.
“Ini kan mau menjelang liburan ya, menjelang libur panjang bagi pelaku pasar terutama trader itu dia enggak mau tuh dalam waktu apa, ketika libur dia masih pegang posisi gitu. Makanya buru-buru biasanya posisinya itu dia likuidasi,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa menjelang Ramadan dan Lebaran, volume transaksi di BEI umumnya menurun. Dalam kondisi likuiditas yang lebih tipis, aksi jual dalam jumlah relatif kecil dapat memberi dampak yang lebih besar terhadap pergerakan indeks.
“Transaksi-transaksi perdagangan di BEI itu melemah volumenya. Jadi aksi jual yang sedikit aja itu bisa langsung berdampak signifikan terhadap indeks harga saham gabungan,” kata Deni.
Selain faktor musiman, Deni menilai sentimen eksternal juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia dinilai dapat memberikan tekanan terhadap fiskal Indonesia, terutama melalui peningkatan beban subsidi energi.
Baca juga:

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi. Ia mengatakan pelemahan indeks bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan refleksi meningkatnya premi risiko terhadap aset domestik.
Menurutnya, sejumlah indikator makro menunjukkan pasar sedang menilai ulang risiko Indonesia di tengah tekanan global dan domestik.
“Pelemahan IHSG terutama dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang datang pada saat yang sama. Dari sisi eksternal, dolar AS yang kuat, tensi geopolitik yang tinggi, dan arus dana global ke aset aman membuat pasar emerging markets kehilangan daya tarik,” ujar Syafruddin kepada SUAR.
Selain itu, aksi jual investor asing juga ikut menekan pergerakan indeks. Data perdagangan pekan lalu menunjukkan investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp1,56 triliun. Meski secara nominal tidak terlalu besar, aksi tersebut dinilai memiliki dampak psikologis kuat terhadap pasar.
“Net sell asing memang tidak sangat besar jika dilihat sebagai angka tunggal, tetapi pengaruhnya kuat karena datang di tengah sentimen yang sudah rapuh,” ucap Syafruddin.
Menurutnya, pasar saham Indonesia masih sensitif terhadap arus dana asing, terutama ketika nilai tukar rupiah melemah dan likuiditas pasar mulai menipis. Dalam kondisi seperti ini, aksi jual asing sering dibaca sebagai sinyal bahwa investor global tengah mengurangi eksposur terhadap aset domestik.
Sementara itu, Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menilai pelemahan IHSG menunjukkan sentimen risk-off tengah mendominasi perilaku investor global. Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus level US$100 per barel.
“Pelemahan IHSG menunjukkan sentimen risk off tengah mendominasi perilaku investor. Salah satu faktor yaitu lonjakan harga minyak global yang kembali menembus USD 100/barel memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi energi,” kata David.
Ia menjelaskan kondisi tersebut membuat investor global cenderung menahan eksposur pada aset berisiko karena khawatir inflasi energi akan menahan bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Di sisi lain, aksi jual asing juga membuka peluang bagi investor domestik untuk mengakumulasi saham tertentu, terutama saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi favorit investor global.
“Investor domestik mendapatkan peluang sekaligus risiko. Peluang datang dari saham bluechip dan saham favorit asing yang terdiskon,” ujarnya.
Namun, ia menilai pasar masih menunggu kepastian arah dinamika geopolitik global yang dapat menjadi katalis bagi kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik.
Menjelang libur panjang Lebaran, baik Syafruddin maupun David, sepakat volatilitas pasar berpotensi meningkat karena likuiditas perdagangan biasanya menurun. Dalam kondisi pasar yang tipis, pergerakan harga cenderung lebih sensitif terhadap transaksi jual atau beli yang relatif kecil.
David menilai IHSG berpotensi bergerak terbatas dalam jangka pendek setelah libur Lebaran.
“Periode setelah libur Lebaran hingga awal kuartal kedua biasanya menjadi momentum yang lebih ideal untuk mengevaluasi kembali strategi masuk ke pasar. IHSG diperkirakan masih akan bergerak sideways dengan volatilitas yang cukup tinggi dalam jangka pendek,” kata dia.