Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pelaku industri menargetkan industri perusahaan pembiayaan bisa bertumbuh 6%-8% pada tahun ini. Pelaku industri memutar otak untuk tetap bisa menciptakan pertumbuhan di tengah permintaan pembiayaan yang melambat.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengatakan piutang pembiayaan industri multifinance bisa tumbuh sebesar 6%-8% tahun ini.
"Optimisme pertumbuhan ini tak lepas dari sudah banyaknya penyesuaian regulasi atau deregulasi di industri multifinance yang dikeluarkan OJK belakangan ini," ujar Agusman dalam acara Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Jakarta (12/2/2026).
Mengutip data statistik lembaga pembiayaan OJK terkini yakni Agustus 2025, pembiayaan mencapai Rp505,59 triliun. Pembiayaan multiguna jadi jenis pembiayaan terbesar dengan porsi 48,67% dari total pembiayaan. Mengikuti setelahnya adalah pembiayaan investasi, pembiayaan modal kerja, dan pembiayaan syariah.
Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno mengatakan, saat ini permintaan yang melambat karena perekonomian yang tidak menentu. Adapun strategi perusahaan multifinance yang memanfaatkan produk pembiayaan dana tunai atau refinancing. Skema ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan hidup.
“Saat ini tantangan yang dihadapi multifinance sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi stagnan, maka industri juga berpotensi stagnan,” ujarnya.
Ia menambahkan tantangan lain di industri multifinance masih seputar kurangnya literasi dan edukasi terhadap masyarakat, khususnya bagaimana bertransaksi secara benar.
Di tengah dinamika perekonomian yang masih berlangsung, APPI masih wait and see, serta belum bisa mengeluarkan proyeksi bisnis industri multifinance di tahun 2026.
Baca juga:

Ia juga menyoroti peningkatan aksi premanisme yang dilakukan oleh oknum berkedok organisasi masyarakat (ormas) dalam proses penarikan kendaraan bermotor mulai mengkhawatirkan, termasuk ancaman terhadap karyawan perusahaan pembiayaan (leasing).
pihaknya telah menerima banyak laporan mengenai gangguan ormas terhadap kegiatan operasional perusahaan leasing.
APPI terus berkoordinasi dengan regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menghentikan tindakan-tindakan yang meresahkan tersebut.
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) kian mengandalkan pembiayaan multiguna sebagai penopang pertumbuhan bisnis di tengah penjualan kendaraan bermotor yang belum sepenuhnya pulih.
Seperti diketahui, penurunan penjualan kendaraan turut berdampak pada industri multifinance, khususnya yang memiliki segmen pembiayaan kendaraan.
Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani menjelaskan, pembiayaan multiguna menjadi salah satu strategi diversifikasi produk untuk menjaga kinerja di tengah perlambatan industri otomotif.
Untuk tahun 2026, kami ekspektasikan pembiayaan multiguna tetap dapat tumbuh secara positif,” tambahnya.
Baca juga:

Untuk menangkap peluang tersebut, perusahaan menyiapkan sejumlah strategi, antara lain dengan meningkatkan retensi pelanggan, memperkuat kolaborasi dengan grup, serta mengoptimalkan program promosi dan kampanye pemasaran.
Strategi Utama Mendorong Industri Multifinance
Pengamat Ekonomi Bright Institute Muhammad Andri Perdana mengatakan strategi utama untuk mendorong pertumbuhan industri pembiayaan adalah diversifikasi ke sektor produktif dan UMKM dengan mengalihkan fokus tidak hanya pada otomotif, tetapi juga pembiayaan modal kerja, alat berat, energi terbarukan, dan kendaraan listrik untuk memperkuat portofolio.
“Mengadopsi teknologi digital dalam layanan untuk meningkatkan efisiensi operasional, termasuk penggunaan big data dan analitik untuk credit scoring yang lebih akurat,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (12/2).
Peningkatan kualitas layanan melalui sertifikasi dan pendidikan berkelanjutan bagi SDM agar mampu mengelola teknologi dan melayani nasabah secara humanis, hal itulah yang menjadi concern utama nasabah atau konsumen.