IHSG di Tengah Gejolak Konflik Internasional

Jika pada 2022 pemulihan membutuhkan waktu 5-6 bulan dan pada 2025 hanya butuh 1 bulan, maka di tahun 2026 ini, kecepatan pemulihan akan bergantung pada seberapa cepat deeskalasi terjadi di kawasan Teluk untuk menjamin kelancaran arus logistik minyak bumi.

IHSG di Tengah Gejolak Konflik Internasional

Eskalasi serangan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 yang disusul serangan balasan meluas hingga ke negara-negara Teluk seperti Qatar dan Arab Saudi turut berdampak pada Bursa Efek Indonesia. Pada pembukaan perdagangan 2 Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung merosot ke level 8.016,83 dan terus tertekan hingga menyentuh 7.939,77 pada 3 Maret 2026. 

Penurunan ini menggambarkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi dunia, mengingat kawasan yang terdampak merupakan jantung produksi minyak global. Berbeda dengan konflik sebelumnya, keterlibatan aktif kekuatan besar di titik nadi ekonomi dunia membuat pasar bereaksi lebih defensif sejak menit pertama perdagangan dibuka.

Jika menilik ke belakang pada invasi Rusia-Ukraina tahun 2022, pola pergerakan IHSG menunjukkan karakter volatilitas bergelombang dinamis sepanjang tahun. Saat itu, IHSG tidak langsung jatuh seketika, melainkan mengalami tekanan bertahap hingga menyentuh titik terendah di 6.597,99 pada Mei 2022, atau sekitar tiga bulan setelah invasi dimulai. 

Pada periode tersebut, pasar Indonesia sempat menunjukkan ketangguhan semu karena tertolong oleh kebijakan fiskal terkait harga komoditas (batu bara dan sawit). Namun, ketidakpastian rantai pasok global akhirnya memaksa indeks melakukan koreksi dalam beberapa gelombang sebelum akhirnya stabil di level 7.000-an pada Agustus 2022.

Perbandingan menarik terlihat pada konflik terbuka Israel-Iran Juni 2025, di mana pasar menunjukkan pola pemulihan yang sangat cepat. Meskipun IHSG terkoreksi ke level 6.787,14 dalam sepuluh hari pasca serangan pertama, indeks hanya membutuhkan waktu kurang dari satu bulan untuk bangkit dan melampaui level psikologisnya di 7.398,19 pada 21 Juli 2025. 

Kecepatan pemulihan ini didorong oleh persepsi investor bahwa konflik saat itu masih terlokalisasi dan belum mengganggu jalur perdagangan utama di Selat Hormuz secara permanen, sehingga konsistensi tren kenaikan dapat terjaga hingga akhir tahun.

Namun, situasi akhir Februari hingga Maret 2026 ini menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan tahun 2022 dan 2025. Perluasan konflik ke Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain mengubah narasi dari sekadar ketegangan regional berkembang menjadi ancaman energi global. 

Hal inilah yang menjelaskan mengapa IHSG yang baru saja menyentuh level 8.000 langsung terjun bebas. Jika pada 2022 pemulihan membutuhkan waktu 5-6 bulan dan pada 2025 hanya butuh 1 bulan, maka di tahun 2026 ini, kecepatan pemulihan akan bergantung pada seberapa cepat deeskalasi terjadi di kawasan Teluk untuk menjamin kelancaran arus logistik minyak bumi.

Baca selengkapnya