Pergerakan pasar keuangan global sepanjang Mei 2026 menyuguhkan dinamika yang impresif sekaligus menantang. Meski ada kemajuan teknologi dari sisi kecerdasan buatan (AI), namun bayang-bayang geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter tetap akan membuat volatilitas berada di level yang cukup tinggi.
Tercatat, tiga indeks utama Wall Street kompak menghijau. Indeks S&P 500 menguat sebesar 5.15% dari level 7,209.01 ke level 7,580.06, indeks NASDAQ Composite meningkat sebesar 8.36% dari level 24,892.31 ke level 26,972.62, dan Dow Jones Industrial Average naik sebesar 2.78% dari level 49,652.14 ke level 51,032.46.
Penguatan ini terjadi di tengah berkurangnya tensi geopolitik AS-Iran pada akhir bulan, walaupun berbagai upaya perdamaian terlihat belum mencapai kesepakatan secara utuh, antusiasme kecerdasan buatan (AI) juga menopang pergerakan pasar ekuitas.
Sementara itu, harga minyak WTI masih bergerak volatil dan ditutup turun sebesar 16.86% dari US$105.07 per barel pada awal Mei menjadi US$87.36 per barel pada akhir Mei. Pergerakan harga minyak yang masih berfluktuasi tetap menjadi perhatian utama bagi perekonomian AS karena berpotensi kembali mendorong inflasi dan menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed.
Grafis ini ditambahkan oleh suar.id dan bukan merupakan materi penulis
Pasar Amerika Serikat
Data perekonomian AS menunjukkan ketahanan ekonomi yang cukup baik. Dari sektor ketenagakerjaan, terdapat penambahan jumlah pekerja sebesar 115 ribu diluar sektor pertanian, jauh di atas perkiraan pasar sebesar 62 ribu, dengan tingkat pengangguran stabil di angka 4,2%.
Selain itu, inflasi inti juga meningkat 0.4% secara bulanan dan 2.8% secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga barang dan lonjakan harga bensin.
Pada pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun bergerak naik sepanjang bulan Mei, dari kisaran 4.3706% pada awal bulan menjadi 4.4355% pada akhir bulan. Kenaikan imbal hasil ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan inflasi akibat harga energi yang masih tinggi, sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed menjadi semakin terbatas.
Merespon hal ini, Federal Reserve memilih mempertahankan suku bunga Fed Funds Rate pada kisaran 3.50%-3.75%. Keputusan tersebut tercatat tidak sepenuhnya bulat. Hal ini mencerminkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat Fed dalam menyikapi arah inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Dengan inflasi yang masih berada di atas target dan tekanan harga energi yang belum sepenuhnya mereda, pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral tetap mempertahankan sikap hati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan.
Pasar Eropa
Senada dengan pergerakan bursa saham AS, pasar saham kawasan Eropa juga bergerak fluktuatif sepanjang bulan Mei 2026. Pada awal bulan, bursa saham Eropa sempat terkoreksi akibat tekanan harga energi yang melonjak sebagai dampak dari ketegangan Timur Tengah.
Kondisi tersebut menekan sektor teknologi dan ritel karena meningkatnya biaya operasional serta melemahnya daya beli konsumen, sementara sektor energi dan perbankan relatif lebih bertahan karena didukung harga komoditas dan ekspektasi suku bunga.
Namun, sentimen pasar kembali membaik setelah Bank Sentral Inggris (BOE) dan Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga acuannya masing-masing di level 3.75% dan 2.15%. Sementara itu, indeks FTSE 100 Inggris menguat terbatas sebesar 0.29% dari level 10,378.82 ke level 10,409.28 seiring dengan meningkatnya harapan de-eskalasi konflik AS–Iran dan turunnya peluang kenaikan suku bunga lanjutan di Inggris.
Sementara itu, data perekonomian di kawasan Eropa menunjukkan inflasi masih terlihat cukup tinggi. Pada akhir bulan, inflasi kawasan Eropa periode Mei kembali meningkat dari 3.0% menjadi 3.2%.
ECB menerapkan sikap hati-hati dengan terus menilai ulang dampak perang Iran terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Presiden ECB, Christine Lagarde juga kembali menahan suku bunga acuan serta menekankan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih sesuai dengan yang diharapkan, meskipun tekanan inflasi jangka pendek kembali meningkat.
Divergensi tajam pasar Asia
Beralih ke Asia, pergerakan bursa saham kawasan bergerak bervariasi sepanjang bulan Mei 2026.
Pasar saham Jepang dan Korea Selatan mencatatkan penguatan signifikan, di mana indeks Nikkei naik 11.88% dari level 59,284.92 ke level 66,329.50, sementara indeks Kospi Korea Selatan meningkat 28.45% dari level 6,598.87 ke level 8,476.15.
Penguatan ini didukung oleh optimisme AI yang turut mendukung ekspektasi positif terhadap rantai pasok teknologi global.
Sebaliknya, pasar saham Tiongkok dan Hong Kong bergerak lemah, dengan indeks Hang Seng turun 2.30% dari level 25,776.53 ke level 25,182.39, sementara Shanghai Composite turun 1.06% dari level 4,112.16 ke level 4,068.57.
Pergerakan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi China, serta belum tercapainya kesepakatan signifikan dalam pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping.
Data perekonomian Tiongkok menunjukkan perkembangan yang bervariasi. Aktivitas sektor jasa masih ekspansif, terlihat dari RatingDog China General Services PMI yang naik menjadi 52.6 dari 52.1. Namun, tekanan inflasi mulai meningkat, di mana Beijing mencatakan inflasi tahunan periode April naik menjadi 1.2% dari 1.0%.
Pemerintah masih mempertahankan kebijakan yang akomodatif dengan menahan loan prime rate tenor 1 tahun di level 3.0% dan tenor 5 tahun di level 3.5%. Sementara itu, dari Jepang, inflasi dan inflasi inti masih cukup terkendali, masing-masing berada di level 1.4%.

Pasar Indonesia
Dari dalam negeri, pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan sepanjang bulan Mei 2026, terutama disebabkan oleh sentimen negatif global dari konflik AS-Iran yang mendorong volatilitas harga minyak mentah global dan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.
Dari sisi fundamental domestik, kondisi ekonomi Indonesia masih menunjukkan kombinasi antara stabilitas dan tekanan eksternal. Neraca perdagangan masih mencatat surplus, namun kinerja ekspor secara tahunan mengalami penurunan terutama dari sektor pertanian dan beberapa komoditas utama, sementara impor meningkat yang dapat mencerminkan aktivitas ekonomi domestik yang mulai membaik tetapi berpotensi menekan surplus ke depan.
Data ekonomi domestik juga menunjukkan bahwa inflasi Indonesia masih relatif terkendali, turun dari 3.48% ke 2.42%.
Saham
IHSG kembali ditutup lebih rendah di level 6,127.38 pada akhir bulan Mei 2026, menandakan penurunan bulanan sebesar 9.45%. Pelemahan IHSG terjadi di tengah tekanan domestik dan global dari ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga minyak, pelemahan Rupiah, serta arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.
Sementara, pengumuman rebalancing MSCI turut memperburuk sentimen pasar karena porsi Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Market kembali tergerus.
Grafis ini ditambahkan oleh suar.id dan bukan merupakan materi penulis
Obligasi
Dengan berbagai dinamika domestik dan global disepanjang bulan Mei 2026, imbal hasil Surat Utang Negara Indonesia tenor 10 tahun bergerak turun dari 6.87% pada awal bulan menjadi 6.72% pada akhir bulan.
Meski demikian, pasar obligasi domestik masih ditopang oleh inflasi Indonesia yang relatif terkendali di level 2.42% serta langkah Bank Indonesia yang lebih proaktif dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Kenaikan BI Rate sebesar 50bp menjadi 5.25%, turut meningkatkan imbal hasil pada obligasi berdurasi pendek, sehingga pergerakan imbal hasil membentuk kurva yang lebih datar pada durasi menengah hingga panjang.
Mata Uang
Rupiah mengalami tekanan sepanjang bulan Mei 2026 dengan pelemahan sebesar 3,07% dari level Rp17,352 per Dolar AS pada awal bulan ke Rp17,885 per Dolar AS pada akhir Mei. Hal ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Kendati demikian, stabilitas eksternal Indonesia masih terjaga dengan baik berkat posisi cadangan devisa yang berada di level US$146.20 miliar. Meskipun mengalami penurunan untuk aktivitas kebijakan moneter, namun posisi cadangan devisa tersebut masih berada pada level aman, setara dengan pembiayaan 5.8 bulan impor atau 5.6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Ke depan, pergerakan Rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh arah harga minyak, ekspektasi kebijakan Fed, arus dana asing, dan efektivitas kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Analisis ini sepenuhnya merupakan pandangan penulis. Bila Anda tertarik untuk menjadi kontributor opini, silakan mendaftarkan diri Anda dengan kirim email ke [email protected]