Pangsa Niche dan Brand Autentik Jadi Peluang Usaha Orang Muda
Segan berpangku tangan, orang muda gerakkan ekonomi kreatif lewat segmen kecil kiat pemasaran yang konsisten, serta brand yang tak ada duanya
Segan berpangku tangan, orang muda gerakkan ekonomi kreatif lewat segmen kecil kiat pemasaran yang konsisten, serta brand yang tak ada duanya
Di tengah tekanan ekonomi yang menghimpit, selalu ada kiat menemukan jalan keluar. Produk-produk ekonomi kreatif berbasis pangsa niche dengan brand lokal dan autentik salah satunya. Di tangan yang tepat, usaha mikro yang dipasarkan secara konsisten ini dapat menjadi mata pencaharian yang menjanjikan, sekaligus bibit komunitas baru untuk menjangkau pasar lebih besar. Berikut kumpulan kisah-kisah inspiratif dari para pengusaha muda bidang ekonomi kreatif.
Kegelisahan terhadap masalah sampah menjadi titik balik Siska Nirmala (39) untuk tidak sekadar berpangku tangan. Ia, yang memiliki hobi mendaki gunung sejak masih kuliah, gemas ketika melihat aktivitas yang dapat membawa seseorang lebih dekat pada keindahan alam, justru meninggalkan sampah berserakan.
Dari kegelisahan itu, Siska mencetuskan gerakan Zero Waste Adventure, sebuah inisiatif mengajak para pendaki gunung menikmati hobi tanpa menghasilkan sampah.
Caranya sederhana. Sebelum berangkat, semua kebutuhan konsumsi disiapkan dalam wadah tersendiri. Pendaki disarankan membawa camilan buah dan kue alih-alih makanan ringan kemasan. Makanan kaleng diganti masakan rumah, dibawa dalam kemasan kedap udara.
"Seiring waktu, metode itu mendapatkan respons luar biasa di komunitas pendaki gunung. Saya kemudian terpikir membuat toko zero waste sebagai supporting system gerakan ini. Konsepnya sebuah toko kelontong curah yang mengharuskan pembeli membawa wadah sendiri. Jika tidak bawa, kami pinjamkan secara gratis," tutur Siska dalam sesi 4th Youth Economic Summit di Jakarta, Sabtu (7/11/2026).
Enggan setengah-setengah mewujudkan gagasan ruang belanja nirlimbah itu, Siska memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai wartawan untuk membuka kedai yang ia beri nama Toko Nol Sampah. Gerai alit yang beralamat di Jalan Raden Patah No. 12, Dago, Bandung itu dibangun Siska dengan membawa tiga misi khusus, bukan sekadar menjual produk.
Pertama, berbelanja tanpa kemasan untuk mempertegas visi zero waste. Kedua, membangun budaya reuse dan mencegah penggunaan kemasan sekali pakai. Ketiga, mendorong sistem produksi UMKM untuk menjual produk mereka tanpa kemasan. Berkat jejaring yang telah dimilikinya, tak butuh waktu lama bagi sejumlah artisan untuk menitipkan produk mereka di Toko Nol Sampah.

Berjalan memasuki tahun ketujuh, Toko Nol Sampah sukses bertahan dengan konsep kelontong serba ada. Di sana, produk-produk artisan UMKM dijajakan mulai dari jajanan pasar dan minuman rempah, kombucha, gula aren, madu murni dari Sumenep, hingga jajanan kukusan. Sebagai ruang komunitas, toko itupun menjadi titik kumpul strategis di pusat Kota Bandung.
"Suami saya sempat bertanya, 'Buat apa sih bikin begini?' Ternyata, customer yang datang di luar ekspektasi saya. Toko ini niche, tetapi demand untuk itu ada. Toko Nol Sampah juga kuat karena kami berkomunitas dengan para pegiat lingkungan, karena saya sendiri tidak punya basic bisnis, jadi semua serba otodidak," kisah Siska.
Idealisme dengan misi zero waste itu tak serta-merta mulus. Mengusung konsep kedai non-smoking, gagasan itu sempat memicu keheranan karena sebagian besar kafe tentu menyediakan asbak di meja. Siska pantang mundur. Karenanya, meski tidak jarang pelanggan balik kanan karena kebijakan antirokok, kedai itu tak serta-merta sepi pengunjung.
"Kedai kami jadi tempat kumpul-kumpul keluarga yang membawa anak. Orang tua bisa ngafe dengan tenang, anak-anaknya juga happy karena bebas asap rokok. Respons pelanggan perokok awalnya beda-beda. Ada yang pergi, tapi ada juga yang menahan tidak merokok. Bagi saya, tidak masalah kehilangan satu pelanggan untuk membuat pelanggan lain nyaman dan datang berulang kali," ungkap Siska.
Misi menciptakan segmen pasar yang inklusif juga memantik semangat CEO BLP Beauty Monica Christasia Maharani (36). Merintis sebuah brand kecantikan bersama kakaknya, Elizabeth Christina Parameswari, kegelisahan dua saudari itu berangkat dari sulitnya menemukan kosmetik yang cocok dengan tone kulit orang Indonesia, khususnya ketika Elizabeth menjadi make up artist sekaligus blogger yang mengulas produk kecantikan.
Di sisi lain, Monica mengamati bahwa iklan-iklan kecantikan selalu monoton: kulit halus dan putih, rambut lurus, postur bintang iklan langsing, dengan wajah tanpa pori-pori. Padahal, ideal kecantikan itu hampir-hampir tidak ada dalam kehidupan perempuan Indonesia sehari-hari.
"Cantik itu harus inklusif! Maka kami sepakat BLP harus menyediakan produk yang relatable, bisa digunakan semua orang, tetapi secara kualitas tidak kalah dengan produk-produk kosmetik luar negeri. Kami yakin, cantik itu tidak harus seperti model Victoria’s Secret, tetapi bisa membuat pemakainya semakin sayang pada dirinya sendiri," ujar Monica.
Dimulai dari sebuah pantry kecil di sebuah ruko dengan dua orang karyawan, Monica berbagi tugas dengan kakaknya. Ia menangani fondasi manajerial dan sumber daya manusia, sementara Elizabeth menangani pengembangan produk, ide-ide kreatif, dan pemasaran. Dari 8 produk, kini BLP berkembang dengan lebih dari 100 varian produk.
Kisah BLP juga tak mulus. Lancar berbisnis selama tiga tahun pertama, pandemi Covid-19 nyaris menjungkirbalikkan bisnis rintisan ini. Ketika itu, hampir 90% penjualan BLP berasal dari offline store di sejumlah pusat perbelanjaan. Namun, saat kebijakan pembatasan sosial diberlakukan diikuti work from home, otomatis seluruh gerai mereka harus tutup.
Bayangkan: kami menjual lipstik dengan berbagai varian warna, tapi waktu pandemi 'kan, hampir dua tahun semua orang pakai masker!
Monica Christasia Maharani
Strategi pivot bisnis besar-besaran mereka lakukan. Semua staf penjualan ditarik ke gudang untuk mengemas pesanan. Advertensi via kanal media sosial diperkuat. Kampanye dibuat lebih menyentuh hati, bukan sekadar menjual produk. Fokusnya adalah menggambarkan lipstik membawa kebahagiaan kecil.
"Kami berhasil melewati momen itu tanpa layoff satu orangpun dan menjaga profitabilitas pada tahun 2020 sampai pandemi berakhir," tukas Monica.
Enggan jadi katak dalam tempurung, kemitraan dengan Tokopedia juga membawa BLP Beauty sebagai salah satu brand kecantikan asal Indonesia yang lolos kurasi untuk dibawa ke ajang Paris Fashion Week 2022 dan 2023. Dari sebuah brand lokal, Monica dipertemukan dengan banyak pembeli dari Eropa.
Mula-mula, ia mengakui, respons buyer waktu itu tidak sepenuhnya sadar Indonesia memiliki industri kecantikan. Dari Asia, hanya Korea Selatan dan Jepang yang dikenal dengan produk kosmetik dan perawatan. Monica pun sadar menembus pasar berbeda butuh strategi yang cocok. Kesempatan ke Paris itupun menjadi ajang mengumpulkan insights untuk mengembangkan bisnisnya.
Salah satunya, Monica menyadari belum banyak produk perawatan untuk perempuan berambut keriting. Ia menduga, karena rambut keriting kurang diperhatikan dalam standar kecantikan. Kesempatan riset kecil di Paris itulah yang kemudian dibawa Monica untuk mengembangkan anak usaha BLP Beauty, Bob and Frou, yang mengembangkan produk perawatan rambut keriting.
"Kita butuh pendekatan yang berbeda, tetapi satu yang sama: kita harus punya identitas yang kuat dan brand yang konsisten. Kalau disejajarkan, kita ingin stand out sebagai apa dan mau tap in ke pangsa pasar yang mana. Bagi saya, dengan kita fokus ke niche market, biaya pemasaran lebih efisien, konsumen lebih merasa diperhatikan, dan arah pengembangan produk menjadi lebih spesifik," ucapnya.
Berkaca dari kisah Siska dan Monica, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menegaskan Indonesia saat ini kekurangan enterpreneurship orang muda yang dapat membawa kekayaan produk kreatif Indonesia mendunia dan menjadi lebih bermakna. Padahal, data-data dan tata kelola telah sangat memadai untuk memfasilitasi dan membaca probabilitas potensi pasar ke depan.
Meski demikian, di sisi lain, Irene mencoba bersikap arif. Ia tahu banyak orang muda memiliki pelbagai ide ekonomi kreatif yang luar biasa, apalagi sewaktu duduk di bangku perkuliahan. Namun, setelah ijazah dibawa pulang, tak sedikit dari mereka yang melupakan dan menyimpan ide itu. Mereka terhalang restu orang tua yang lebih menginginkan anaknya mendapat kerja "beneran".
"Saya ambil contoh. Indonesia saat ini mempunyai 150 juta pemain gim Mobile Legends. Empat puluh persen pemain global Mobile Legends berasal dari Indonesia. Ketika saya bertemu pengembang gim ini, saya sadar saya punya leverage itu untuk mendorong mereka memberi perhatian lebih pada Indonesia," tutur Irene saat menyampaikan pidato kuncinya.

Negosiasi berbekal leverage itu menghasilkan kolaborasi ciamik. Mobile Legends memilih Indonesia sebagai lokasi World Championship. Merekapun sepakat memproduksi official merchandise kejuaraan sukan elektronik itu dengan motif batik. Tak segan-segan, Irene mengaku masih banyak yang mengincar cinderamata unik persilangan brand gim global dengan batik Indonesia itu sampai sekarang.
Contoh lain adalah Pokemon Wayang yang baru diluncurkan. Jelas, ada pro dan kontra terhadap persilangan itu. Namun, menurut Irene, tidak sedikit orang yang ketika melihat cinderamata Pokemon menyerupai wayang itu, seketika tertarik membelinya. Bukan hanya orang Indonesia, tetapi juga wisatawan mancanegara yang terperangah bahwa batik dan wayang dapat diolah sedemikian uniknya.
"Dari situ kita tahu kita harus create for a demand terlebih dulu. Kalau konsumen itu suka dengan batik dan wayang, pesanan naik, pengrajin mendapat pekerjaan, kita bisa memulihkan kebanggaan pada budaya. Sudahilah cerita pelestarian dengan narasi kesedihan. Kita harus mendorongnya sebagai identitas yang membanggakan," ujar Irene.
Kini, dengan akses internet, Irene mengingatkan agar produk-produk ekonomi kreatif jangan hanya menyasar 280 juta penduduk Indonesia sebagai pangsa pasar, tetapi juga 8 miliar penduduk bumi. Dari pengalamannya bertemu mitra dari berbagai negara Irene berterus-terang bahwa dunia saat ini kekurangan produk yang dimiliki Indonesia, tetapi belum dipasarkan secara optimal.
"Kita tahu Indonesia butuh rebranding. Kita bukan hanya negara yang kaya, tetapi mampu menghasilkan sesuatu yang bisa membentuk dan mengarahkan masa depan, sekaligus menjadi trend setter. Tantangan orang muda sekarang bukan hanya set up a company, tetapi juga membangun legacy yang melampaui usia pendirinya," cetus Irene.
Kiat merintis kewirausahaan di tengah tekanan ekonomi, Manajer Riset Strategis CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menegaskan, merupakan salah satu jalan untuk mengatasi tantangan-tantangan struktural di pasar ketenagakerjaan Tanah Air. Menyingsingkan lengan saat ini lebih konkret ketimbang menunggu pemerintah bergerak membuka kuota magang dan upskilling-reskilling sesuai kebutuhan industri.
"Meskipun ada peluang dari ekonomi digital, ekonomi kreatif, atau gig economy, tetapi ini juga punya keterbatasan; tidak ada jaminan sosial, jam kerja relatif tidak menentu, bahkan menjadi side hustle. Sulitnta, ini terjadi di saat angka pengangguran usia muda terus meningkat, dan sekitar 53% populasi kelas menengah terpaksa mencari penghasilan sampingan," kata Rendy.
Dari sisi supply, Rendy menambahkan, hampir 2,5 juta angkatan kerja baru memasuki pasar setiap tahun, tetapi sebagian besar tidak cocok dengan kondisi ketenagakerjaan saat ini. Di sisi lain, industri juga kesulitan mencari tenaga kerja yang cocok. Tantangannya adalah mengisi permintaan saat ini dengan kualifikasi paling memadai.
"Orang muda perlu memastikan punya keterampilan yang 'terlihat' dan dapat dibawa. Integrasikan keterampilan ini lewat kursus digital singkat yang melatih keterampilan AI dan sektor green jobs, bila perlu sampai dapat sertifikasi, untuk memenuhi permintaan tenaga kerja multiterampil yang selaras dengan teknologi baru," tutur Rendy.
Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menambahkan, berpegang pada filosofi "tiada rotan akarpun jadi", di saat pasar ketenagakerjaan tidak menjanjikan pekerjaan layak, ini bukan berarti tidak ada peluang. Kini, di saat nilai tukar rupiah melemah, produk-produk ekonomi kreatif berorientasi ekspor dapat memanfaatkan momentum semaksimal mungkin.
"Kita sudah mencapai fase borderless economy, sehingga peluang tidak hanya di Indonesia. Kesempatan orang muda untuk memanfaatkan borderless gig economy ini sekarang waktunya, karena Indonesia punya banyak orang muda dengan skill yang tidak dimiliki negara lain. Ekonomi memang masih suram, tetapi kita masih unggul dan bisa bersaing dalam ekonomi kreatif dan sektor jasa," pungkas Dipo.