Pemerintah menjadikan pengembangan ekosistem digital sebagai salah satu strategi utama untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% dalam beberapa tahun ke depan. Penguatan industri data center, kecerdasan artifisial (AI), hingga semikonduktor atau chip dinilai akan menjadi fondasi baru pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah perubahan ekonomi global dan percepatan transformasi teknologi.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Bidang Perekonomian Ali Murtopo Simbolon mengatakan beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS) dan China telah terbukti mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi termasuk dengan dorongan ekonomi digital.
"Bahkan China pernah (pertumbuhan ekonomi) 9,25% di 2011 dan penorong utama adalah digital. Dan saat ini pun sepertinya Amerika kalau kita lihat tahun lalu tanpa sektor digital pertumbuhannya tidak lebih dari 2 sampai 3%," katanya dalam acara Forum Nasional: Indonesia Digital Leap Akselerasi Ekosistem Data Center, AI, dan Keamanan Siber untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Jakarta, Rabu (20/05/2026).

Sebagai langkah konkret, pemerintah mulai mendorong pengembangan tiga sektor utama, yakni data center, AI, dan semikonduktor. Untuk industri data center, pemerintah menargetkan kapasitas nasional meningkat signifikan dari sekitar 500 megawatt (MW) saat ini menjadi 2,7 gigawatt (GW) pada 2030.
Di sektor AI, pemerintah menargetkan jumlah startup berbasis AI meningkat dari sekitar 2.800 saat ini menjadi lebih dari 5.000 startup dalam satu hingga dua tahun ke depan. Pemerintah menilai pertumbuhan ekosistem AI akan mendorong lahirnya produk digital baru sekaligus menciptakan kebutuhan sumber daya manusia berkeahlian tinggi.
Selain itu, pemerintah juga mulai memperkuat industri semikonduktor nasional melalui kerja sama dengan Arm Holdings dari Inggris. Salah satu target yang disiapkan yakni pelatihan 15.000 engineer untuk mendukung pengembangan industri chip nasional, terutama untuk kebutuhan AI dan otomotif.
Ali mengatakan pemerintah saat ini berupaya membangun ekosistem digital dari hulu hingga hilir, mulai dari infrastruktur data center, pengembangan aplikasi AI, hingga penyiapan talenta semikonduktor.
"Kita sadar kita butuh kolaborasi makanya kita dengan China, dengan Singapura, dengan Korea bahkan dengan Jepang kemarin kita juga sudah bertemu dengan Jaika mereka juga menawarkan untuk pengembangan digital," katanya.
Kedaulatan digital
Sementara itu, Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru Kementerian Komunikasi dan Digital, Aju Widya Sari mengatakan penguatan ekonomi digital juga harus dibarengi dengan pembangunan kedaulatan digital nasional.
Ia mencontohkan Uni Eropa yang mampu membangun kedaulatan digital dengan mengembangkan serta mengendalikan teknologi, data, dan infrastruktur utama dengan mengurangi ketergantungan pada penyedia di luar Uni Eropa.
Saat ini Uni Erop, sambugnya, bergantung pada negara-negara unik non-Uni Eropa untuk lebih dari 80 persen produk, pelayanan, infrastruktur, dan kekayaan intelektual digital diutamakan. Untuk menguatkan kedalatan digital, Uni Eropa menyelaraskan kebijakan negara-negara anggota untuk membangun kedalatan bersama dan membangun ekosistem digital yang adil, kompetitif, dan aman.
Menurut Aju, Indonesia juga tengah menyiapkan Visi Indonesia Digital 2045 sebagai bagian dari transformasi nasional menuju negara maju.
"Untuk mencapai transformasi digital visi Indonesia Umas 2045 diturunkan menjadi Visi Indonesia Digital 2045 dimana pemerintah mengolah inti dan menjamin kedaulatan digital dan memiliki kemampuan untuk mengontrol data, software, dan hardware," katanya.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah terus memperkuat pembangunan infrastruktur digital, mulai dari konektivitas broadband, pusat data nasional, hingga pengembangan ekosistem cloud dan AI.
Pemerintah mencatat penetrasi mobile broadband saat ini telah mencapai 97,16% wilayah permukiman dan ditargetkan meningkat menjadi 98% pada 2029.

Sementara untuk, dari luas pemukiman dan ditakdirkan akan mencapai 98% pada 2029. Untuk fixed broadband saat ini baru menjangkau 21% untuk pelanggan rumah tangga dan ditargetkan akan menjangkau 50% pelanggan pada 2029.
Di sisi infrastruktur data, pemerintah telah memiliki pusat data nasional dengan kapasitas 25 ribu core processor, 200 terabyte memory, dan 40 petabyte storage. Pemerintah juga berencana membangun dua pusat data nasional tambahan di Batam dan IKN.
Selain pusat data nasional, sambung Aju, Indonesia saat ini memiliki sekitar 180 data center dengan kapasitas 0,74 watt per kapita. Pemerintah menargetkan kapasitas data center nasional meningkat menjadi 6,87 watt per kapita pada 2029 seiring meningkatnya kebutuhan layanan cloud, AI, dan penyimpanan data domestik.
Aju menambahkan penguatan keamanan siber juga menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi digital nasional. Berdasarkan data National Cyber Security Index, skor Indonesia pada 2023 mencapai 63,64 poin dan menempatkan Indonesia di peringkat 48 dari 136 negara. Namun pada 2025, skor Indonesia turun menjadi 47,5 poin dengan peringkat merosot ke posisi 84 dunia.
"Akselerasi ekosistem data center kecerdasan artifisial dan keamanan cyber bukan lagi pilihan, malah ingat fondasi yang strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," katanya.

Pemacu sektor lainnya
Pengamat Ekonomi Digital CELIO Nailul Huda mengatakan ekonomi digital tidak hanya sebagai motor utama namun juga sebagai pemacu atau enabler dari pertumbuhan sektor lainnya. Pertumbuhan Indonesia bisa lebih tinggi dan inklusif ketika ekonomi digital serta teknologi menjadi enabler.
Pengusaha yang ada di Indonesia timur bisa menikmati pasar di Jawa ketika ada teknologi perdagangan daring, para pemuda di Maluku bisa berinvestasi dengan menggunakan gadget, dan pelaku usaha di NTT bisa memperoleh akses permodalan melalui teknologi finansial.
Namun, ia menilai syaratnya tentu saja pembangunan infrastruktur secara merata dan kuat, termasuk pusat data atau data center yang merupakan otak dari ekonomi digital yang menyimpan memori agar bisa digunakan untuk pengembangan teknologi.
"Data center semakin kuat, cepat, dan besar secara kapasitas, kemampuan pengembangan ekonomi digital juga bisa optimal, termasuk pengembangan AI," katanya.
Baca juga:
Hal tersebutanya, sambungnya, sejalan dengan permintaan dari AI ini akan semakin tinggi. Permintaan ini didasarkan pada penggunaan yang sederhana, tetapi mampu memberikan hasil yang lebih besar dan membantu “pekerjaan” manusia. Artinya, semakin “pintar” AI-nya maka semakin tinggi pula penggunaannya, termasuk membantu perdagangan daring yang dilakukan oleh pelaku usaha.
"Pengembangan AI ini membutuhkan data center denga kapasitas besar karena semakin banyak di sistem data kita, mulai dari data media massa, media sosial dan sebagainya. Resource data semakin besar, semakin banyak pula pemanfaatannya. Ini menjadi kunci pengembangan ekonomi digital ini," katanya.