Cadangan Devisa RI Capai Titik Terendah Sejak 2024

Secara kumulatif, cadangan devisa RI telah turun USD 8,2 miliar sejak ditutup pada akhir Desember 2025 di level USD 156,47 miliar.

Daftar Isi

Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 turun ke level USD 148,2 miliar, terendah sejak Juli 2024. Hal tersebut disinyalir sebagai imbas stabilisasi nilai tukar rupiah dan kebutuhan pembiayaan impor.

Berdasarkan data yang dirilis BI, meskipun menurun dibandingkan posisi akhir Februari 2026 sebesar USD 151,9 miliar. Secara kumulatif, cadangan devisa RI telah turun USD 8,2 miliar sejak ditutup pada akhir Desember 2025 di level USD 156,47 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyatakan meskipun menurun, cadangan devisa RI tetap kuat.

"Perkembangan ini dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah dan penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah, di samping kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons BI terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat," jelas Denny dalam pernyataan tertulis, Rabu (8/4/2026).

Meski mencapai titik terendah dalam 20 bulan terakhir, otoritas moneter Tanah Air menilai cadangan devisa Indonesia masih kuat untuk mendukung ketahanan eksternal, menjaga stabilitas makroekonomi, serta menunjang sistem keuangan secara keseluruhan.

"Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik," tutup Denny.

Bukan soal moneter

Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menilai tergerusnya cadangan devisa RI selama beberapa bulan terakhir sejatinya bukan masalah moneter, melainkan resultan kombinasi persoalan fiskal di dalam negeri dalam menanggapi gejolak harga minyak yang tinggi di luar negeri.

Deni menilai ada yang keliru dari kecenderungan Kementerian Keuangan menganggap tekanan harga minyak masih under control dan APBN masih aman. Padahal, dengan menahan harga BBM bersubsidi, pemerintah justru menekan fiskal yang implikasinya lebih panjang, sehingga menyebabkan ketidakpercayaan pasar. Akibatnya, capital outflow yang terjadi kian menekan kurs rupiah dari waktu ke waktu.

"Dalam hal ini, Bank Indonesia mencoba mengatasi tekanan itu dengan intervensi, karena itu yang bisa mereka lakukan dari sisi moneter. Hanya saja, seberapa kuat cadangan devisa kalau terus-terusan digelontorkan, karena bisa terjadi depleting, sehingga investor tidak hanya keluar dari pasar obligasi, tetapi juga dari capital market Indonesia," jelas Deni saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).

Dengan risiko depresiasi yang masih sangat rawan dan return investasi yang tidak bertambah karena terbentur suku bunga acuan yang akan dipertahankan lebih lama guna menjaga stabilitas sistem keuangan, Deni mengingatkan bahwa pendekatan konvensional berupa operasi moneter di pasar keuangan sejatinya tidak lagi memadai dan tidak tepat sasaran.

"Langkah utama yang harus dilakukan adalah meyakinkan pasar bahwa pemerintah menyadari risiko yang ada dan mengambil kebijakan yang benar-benar rasional dan bertujuan mengamankan APBN, termasuk bila perlu mengurangi, memoratorium, atau menunda program prioritas pemerintah yang anggarannya besar tetapi tidak bermanfaat," tegasnya.

Selain mendorong otoritas fiskal lebih cermat merogoh kocek negara, Deni berharap BI dapat memperlihatkan gestur yang dapat dibaca oleh pasar sebagai bukti bahwa bank sentral masih mempunyai independensi, tidak berada di bawah dominasi fiskal, dan tidak takut menaikkan suku bunga, sekalipun dapat berdampak pada perlambatan pertumbuhan.

"Jika BI dapat memperlihatkan kepada pasar bukti bahwa institusinya masih independen dan tidak rentan terhadap tekanan politik, pasar dapat membacanya secara berbeda dan keyakinan itu dapat pulih. Otherwise, intervensi di pasar valas hanya akan menggerus cadangan devisa lebih lanjut, sementara rupiah tetap tidak menguat," tegas Deni.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kanan) menyampaikan paparan saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/kye)

Bukti fundamental kuat

Kendati penurunan cadangan devisa cukup mencolok, Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Fiskal dan Moneter Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Kamrussamad menyatakan cadangan devisa Indonesia senilai USD 148,2 miliar masih sangat kuat.

"Cadangan saat ini masih setara pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Laporan Bank Indonesia menunjukkan kecukupan devisa saat ini masih sangat kuat, sekalipun mengalami penurunan," ujarnya.

Terkait dengan pelemahan rupiah, Kamrussamad menggarisbawahi pelemahan tidak hanya terjadi pada mata uang Indonesia, melainkan juga beberapa negara di Asia Tenggara, lebih-lebih terhadap Dolar Amerika Serikat. Pelemahan tersebut bahkan ada yang lebih besar dibandingkan rupiah.

"Harapannya, BI segera mampu menstabilkan nilai rupiah. Selain itu, kesepakatan gencatan senjata selama 2 minggu antara Amerika Serikat dan Iran diharapkan juga menjadi dukungan positif penguatan rupiah terhadap Dollar AS," cetus anggota Komisi XI DPR Fraksi Gerindra itu.

Dalam situasi seperti saat ini, Kamrussamad menekankan pengusaha memiliki peran sangat penting menjaga keberlangsungan pasokan barang impor yang dibutuhkan di dalam negeri, baik barang konsumsi, barang modal, maupun barang bahan baku.

"Ketersediaan ketiga barang tersebut dibutuhkan untuk mendukung stabilnya aktivitas perekonomian. Ketersediaan barang konsumsi akan memastikan terpenuhinya kebutuhan barang sehingga tidak terjadi kelangkaan, seperti juga impor yang cukup memastikan angka inflasi tidak terkerek naik dan mempertahankan daya beli masyarakat," jelasnya.

Sementara barang konsumsi dibutuhkan agar kelangkaan tidak terjadi, ketesediaan barang modal dan bahan baku impor masih sangat dibutuhkan untuk menjamin keberlangsungan produksi, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun diekspor kembali. Langkah ini menjaga ketersediaan barang di dalam negeri serta memperkuat nilai ekspor Indonesia yang surplus selama 70 bulan berturut-turut.

"Aktivitas ekonomi yang berjalan stabil akan menarik minat investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia, berupa penanaman modal langsung maupun investasi portofolio. Terjaganya surplus neraca perdagangan dan juga menguatnya aliran investasi asing yang masuk diharapkan akan memperkuat kembali cadangan devisa Indonesia," tegas Kamrussamad.

Di tengah tekanan eksternal yang kuat, Kamrussamad berharap pengusaha tetap mengoptimalkan impor untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga fundamental ekonomi yang saat ini cukup kuat dapat membuktikan kemampuannya mencukupkan kebutuhan hajat hidup rakyat.

"Berbagai indikator menunjukkan kinerja positif antara lain didukung akselerasi permintaan dalam negeri, tetap kuatnya keyakinan konsumen, dan juga sektor manufaktur yang menunjukkan kinerja ekspansif. Ini yang harus dipertahankan agar aktivitas ekonomi yang berjalan lebih cepat akan menarik modal dari luar kembali ke Indonesia," tutupnya.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya