Gejolak pasar saham global sepanjang Maret 2026 menjadi cermin sensitifnya modal terhadap risiko perang. Pergerakan indeks pasar modal di berbagai negara menunjukkan pola volatilitas yang tinggi, di mana kecemasan akan gangguan pasokan energi dan inflasi global memicu aksi jual masif.
Puncak kepanikan pasar terjadi pada rentang tanggal 16 hingga 23 Maret 2026, sebuah periode yang menjadi titik terendah bagi bursa-bursa besar global. Di Asia, Nikkei 225 (Jepang) anjlok ke level 51.516,00, sementara Hang Seng (Hong Kong) jatuh ke 24.383,00 pada 23 Maret. Adapun KOSPI (Korea Selatan) anjlok ke level 5.251,87 lebih awal, yakni pada 9 Maret.
Dibandingkan sebelum konflik pecah (27/3/2026) penurunan ke titik terendah hingga saat ini di ketiga pasar modal tersebut sekitar 8-15%. Bahkan, indeks KOSPI (Korea Selatan) mencatatkan penurunan paling drastis mencapai 15,89% dari titik sebelum konflik.
Di Indonesia, IHSG turut merasakan dampak signifikan dengan menyentuh titik terendah di level 7.022,29 pada 16 Maret, mencatatkan penurunan 14% dari saat sebelum konflik pecah. Sementara STI (Singapura) mengalami penurunan 4% di titik terendah (9/3/2026) dibandingkan sebelum pecah konflik.
Penurunan yang merupakan koreksi tajam yang terjadi secara serentak ini mengonfirmasi adanya panic selling global akibat ketakutan perang terbuka semakin meluas. Investor mengambil langkah keluar dari aset berisiko (saham) dan beralih ke aset aman (safe haven).
Namun, berbeda dengan pasar saham Asia, daya tahan pasar saham di belahan dunia lain, terutama di Amerika Serikat, lehih baik. Meskipun sama-sama tertekan, indeks Dow Jones (US30) yang berbasis industri tradisional menunjukkan ketahanan yang lebih kuat dengan penurunan 6,94% dari level sebelum konflik.
Bursa Nasdaq (US100) lebih volatil, di mana investor tampak lebih berhati-hati terhadap sektor teknologi yang sangat sensitif terhadap lonjakan biaya energi. Terlihat bahwa dalam krisis geopolitik, arus modal yang terprediksi dari industri konvensional lebih diminati dibandingkan sektor teknologi.
Sementara itu, fenomena menarik terlihat pada performa mingguan antara Dow Jones (US30) dan Nasdaq (US100). Meskipun sama-sama tertekan secara bulanan, Dow Jones mulai menunjukkan upaya rebound dengan bergerak ke zona positif secara mingguan (+0.65%), berbeda dengan Nasdaq yang masih tertinggal di zona negatif (-0.90%).
Dampak konflik juga terlihat jelas pada kinerja bulanan indeks-indeks bursa di Eropa seperti DAX (Jerman) dan CAC 40 (Prancis) yang mencatatkan koreksi bulanan yang cukup dalam, masing-masing sebesar -9,60% dan -9,41%. Bahkan, indeks KOSPI (Korea Selatan) mencatatkan penurunan paling drastis mencapai 15,89% dari titik sebelum konflik.
Perbedaan kecepatan pemulihan ini menegaskan analisis bahwa dalam situasi ketidakpastian geopolitik yang tinggi, investor cenderung memandang sektor industri tradisional (konstituen Dow) lebih tangguh dan memiliki arus kas yang lebih dapat diprediksi, dibandingkan sektor teknologi (Nasdaq) yang sangat sensitif terhadap potensi kenaikan suku bunga dan inflasi akibat lonjakan harga komoditas energi.
Di Indonesia, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut terdampak konflik global tersebut. IHSG mencapai titik terendahnya pada 16 Maret 2026 di level 7.022,29, jauh dari titik tertingginya di awal bulan (8.016,83).
Tren penurunan indeks yang terjadi di Indonesia tidak hanya dipicu oleh sentimen perang, tetapi juga diperberat oleh faktor guncangan domestik akibat evaluasi lembaga penilaian pasar saham global. Kombinasi tekanan eksternal dan risiko persepsi domestik ini membuat pemulihan IHSG cenderung lambat.