Pimpinan sementara Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa di tengah turbulensi pasar, langkah terbaik adalah memanfaatkan momentum untuk mendorong bursa “terbang lebih tinggi” atau naik kelas. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mempercepat reformasi pasar modal dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, OJK, dan pemangku kepentingan lainnya.
Sebagai tindak lanjut, BEI melakukan pertemuan dengan MSCI dan FTSE untuk memahami kebutuhan mereka, lalu mengajukan empat proposal reformasi yang disertai timeline pelaksanaan. Proposal tersebut mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham hingga level 1%, penyajian data investor yang lebih rinci, penyusunan daftar konsentrasi pemegang saham, serta tambahan kebijakan terkait free float. Langkah ini mengacu pada praktik terbaik dari bursa global seperti India dan Hong Kong.