Pengembangan teknologi infrastruktur tangguh dan berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim kian menjadi kebutuhan. Salah satunya, aspal ramah lingkungan yang memanfaatkan daur ulang limbah pertambangan serta limbah PLTU.
"Tidak hanya memperkuat kualitas jalan, penggunaan aspal ramah lingkungan dapat menekan emisi proyek hingga 42,5%, sehingga infrastruktur dapat berkontribusi terhadap mitigasi iklim," demikian menurut Direktur Bina Teknik Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum Pantja Dharma Oetojo dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan, strategi integrasi data iklim dalam manajemen aset jalan semakin menjadi kebutuhan krusial sebagai mitigasi menghadapi cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi yang dapat mengganggu konektivitas serta mengikis kualitas jalan di Indonesia.
Dengan total jaringan jalan mencapai 538.170 km, Kementerian PU saat ini menghadapi tantangan struktur perkerasan jalan yang menua, sementara volume lalu lintas menambah beban struktur jalan dan mempercepat keausan.
Belum lagi keterbatasan biaya pemeliharaan menuntut PU untuk putar otak menyiasasti anggaran agar perbaikan jalan tetap menjadi prioritas demi mendukung konektivitas dan kelancaran transportasi.
"Direktorat Jenderal Bina Marga menargetkan preservasi 47.603 meter ruas jalan, 563.000 meter jembatan, pembangunan 1.881 kilometer jalan utama, serta 5.134 jalan tol. Namun, keterbatasan materi juga membuat kami perlu inovasi yang mendukung keberlanjutan dari segi kesediaan material maupun kualitas jalan nantinya," jelas Pantja.
Selain meningkatkan pemantauan real time terhadap kualitas jalan, salah satu program PU adalah meningkatkan penggunaan material perkerasan aspal lokal untuk meningkatkan keberlanjutan dan mengurangi biaya transportasi. Pantja menjelaskan, substitusi kebutuhan aspal hot mix kini diarahkan pada campuran aspal warm mix yang membutuhkan energi lebih rendah, serta pemakaian material daur ulang yang mengurangi emisi.
"Warm mix asphalt memungkinkan produksi aspal dilakukan temperatur lebih rendah sehingga hemat energi dan rendah emisi. Di samping itu, pemakaian material lokal dan sisa industri seperti debu PLTU, limbah smelter nikel, serta limbah slag peleburan besi dan baja juga dtempuh untuk mengurangi biaya logistik serta jejak karbon," urainya.
Salah satu pelaksanaan proyek oleh PU yang mulai menerapkan penggunaan aspal ramah lingkungan tersebut adalah pemakaian campuran warm mix asphalt dengan aditif wax dan resin polimer dalam meningkatkan kualitas perkerasan ruas jalan Citepus-Cisolok di Banten, yang terbukti menghemat bahan bakar hingga 42,5% lewat penurunan emisi gas.
Setelah berhasil di Banten, pilot project penggunaan aspal warm mix juga akan diterapkan pada perbaikan ruas jalan tol Pemalang-Batang, serta pembangunan sejumlah ruas jalan lain di Jawa Barat. Penggunaan materi aspal Buton yang bersifat organik tanpa campuran juga disiapkan sebagai salah satu opsi untuk mengurangi ketergantungan pada aspal hot mix yang tinggi emisi.
"Inovasi kami mewujudkan harapan untuk infrastruktur jalan yang lebih adaptif, mengurangi biaya dan emisi sepanjang siklus pelayanan, serta meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. Tanggung jawab kami adalah memastikan jalan sebagai tulang punggung konektivitas dapat adapatif dan tahan menghadapi berbagai tantangan," pungkas Pantja.
Trial and error
Meski penggunaan material ramah lingkungan sangat dibutuhkan sebagai upaya mitigasi iklim, Plt. Direktur Utama PT. Hutama Mambelim Trans Papua (HMTP) Kun Hartawan Adi Satria menegaskan pengaplikasian materi pada pembangunan tetap harus memperhatikan adaptasi infrastruktur dalam memulai proses pengerjaan.
Berkaca dari pengalaman HMTP membangun ruas jalan pertama yang menghubungkan Jayapura-Wamena sepanjang 50 kilometer, Kun menjelaskan nilai adaptasi akan menentukan tidak hanya kualitas jalan yang dibuat, tetapi juga daya tahan ruas jalan terhadap cuaca ekstrem dan perubahan kontur topografi.
"Sebagai satu-satunya jalan yang menghubungkan Jayapura ke Wamena, trial and error harus kami lakukan sejak desain karena ini benar-benar merambah hutan dan menembus pegunungan. Anda jangan memikirkan bagaimana mengaplikasikan aspal yang bagus sebelum melihat kondisi geoteknik itu tanah lempung di lereng curam, di sisi tebing 35 meter. Itu yang kami hadapi," kisah Kun.
Dalam keadaan ketika pasokan logistik material pabrik aspal tidak dapat mencapai medan pembangunan, penggunaan material perkerasan lokal bukan lagi pilihan, tetapi satu-satunya yang tersedia. Perhitungan semua risiko iklim pun dilakukan sejak permodelan, mengingat medan jalan Jayapura-Wamena tidak hanya menghadapi risiko intensitas hujan yang sangat tinggi, tetapi juga ketinggian rawan longsor.
"Jalan yang kami bangun ini ada di hutan yang pergerakan airnya sangat tinggi, sehingga perencanaan drainase berkapasitas tinggi diperlukan untuk melindungi jalan dengan antisipasi curah hujan. Kami harus melakukan itu terutama agar tidak timbul kerugian selama masa konsesi HMTP yang baru akan selesai sekitar 13 tahun dari sekarang," jelasnya.
Kun menegaskan, bagaimanapun suatu rancang teknik yang matang dan pemakaian material ramah lingkungan telah direncanakan secara detail, pembangunan suatu ruas jalan tetap perlu memperhitungkan budget yang tersedia untuk mencegah cost overrun. Efisiensi dari segi materi dapat dilakukan, tetapi tidak dari segi rancangan karena dapat membahayakan penggunaan jalan.
"Saya pikir yang paling krusial sebelum menggarap ruas jalan adalah mengetahui kebutuhan jalan itu untuk apa. Tidak bisa murni faktor teknis, karena pemetaan presisi akan menuntut komposisi material yang berbeda. Kemudahan pelaksanaan akan menentukan kapasitas budgeting, dan budgeting nantinya menentukan bagaimana pemeliharaan jalan dilakukan," cetus Kun.

Ragam alternatif
Pengajar Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada Rizka Fahmi Amrozi membenarkan penjelasan Kun. Menurutnya, perencanaan dan desain teknis pembangunan jalan saat ini menjadi semakin krusial untuk mempertimbangkan faktor iklim. Dalam penelitiannya, Rizka menemukan bahwa kenaikan 2 derajat Celcius suhu permukaan jalan dapat mengurangi umur jalan 5-10% setiap tahun.
"Musuh bebuyutan aspal adalah air, sehingga kalau jalan sering terendam, perkerasan dapat berumur prematur dan lebih cepat rusak. Karena itu, selain material ramah lingkungan, infrastruktur berkelanjutan juga perlu dinilai dari ketangguhannya: seberapa cepat dia recovery setelah terjadi shock," jelasnya.
Saat ini, Rizka menjelaskan, selain materi aspal, sudah terdapat berbagai cara untuk pengaplikasian cool pavement yang menurunkan suhu permukaan jalan dengan memantulkan radiasi matahari maupun mempercepat evaporasi (penguapan air) saat jalan diguyur hujan atau terendam genangan.
Aplikasi resin polimer atau mengganti batu pecah hitam dengan batu kapur putih merupakan dua solusi alternatif cool pavement itu. Di samping itu, terdapat pula penggunaan porous asphalt, yaitu campuran aspal warm mix yang memiliki pori-pori lebih besar sehingga air hujan yang terserap lebih cepat menguap dan tidak merusak.
"Keduanya telah berhasil diujicobakan, tetapi belum bisa dilaksanakan secara massal karena keduanya menimbulkan silau yang bisa membahayakan pengemudi. Selain itu, debu bisa menyumbat pori-pori aspal, mengurangi daya penguapan. Pengembangan untuk mengatasi kendala ini terus berjalan, meski saat diaplikasikan, harganya lebih mahal dari aspal standar, sejalan dengan kualitasnya yang juga lebih baik," tuturnya.
Kawasan BSD City merupakan salah satu contoh wilayah penggunaan aspal ramah lingkungan dengan campuran sampah plastik hasil kerjasama Sinar Mas Land dan Chandra Asri Group.
Kedua perusahaan sukses merampungkan gelaran jalan aspal sepanjang 8,6 kilometer, menjadikan kawasan BSD City sebagai township pertama di Indonesia yang memanfaatkan aspal plastik.
Jalan Aspal plastik di BSD City setara dengan memanfaatkan 164,2 juta lembar plastik kresek atau setara dengan mengalihkan 410,57 ton sampah plastik kresek dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA).