Selamat pagi, Chief…
Berikut informasi penting terkait pengembangan semesta dunia usaha yang perlu mendapat perhatian hari ini berdasarkan kurasi Tim SUAR.

Ekonomi Asia Pasifik Diproyeksikan Melambat, Indonesia Perlu Siapkan Respons Adaptif
- Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia Pasifik melambat dari 5,4% menjadi 5,1% pada 2026 maupun 2027 akibat konflik di Timur Tengah dan berlanjutnya ketidakpastian perdagangan. Perlambatan ini diikuti inflasi regional yang diproyeksikan naik menjadi 3,6% pada 2026 dan 3,4% pada 2027, dari sebelumnya 3,0% tahun lalu.


Status Pasar Modal Indonesia Tidak Diturunkan FTSE, Masih Setara India dan China
- Lembaga indeks global, Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell, mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dalam tinjauan interim April 2026, pada Selasa 7 April lalu. Keputusan ini dikeluarkan usai lembaga tersebut menunda evaluasi Indonesia pada Maret 2026. Kendati jadi katalis positif di tengah upaya reformasi oleh para regulator pasar modal, investor tetap perlu waspada. FTSE membagi pasar modal di sejumlah negara menjadi 4 klasifikasi. Tingkat tertinggi adalah developed; lalu advance emerging; kemudian diikuti secondary emerging; dan frontier. Pengklasifikasian pasar modal tiap negara ini didasarkan berbagai pertimbangan kriteria, antara lain, akuntabilitas, transparansi, potensi & nilai kapitalisasi pasar, kepastian regulasi, dan lain-lain. Posisi Indonesia pada klasifikasi secondary emerging setara dengan negara lain seperti India dan China. Adapun negara-negara dengan klasifikasi developed antara lain Amerika Serikat, Singapura, Kanada, dan lain-lain.

Kontribusi Ekonomi Batu Bara dan Jalan Panjang Transisi Energi
- Industri batu bara tengah menghadapi tantangan akibat turunnya permintaan ekspor karena negara-negara tujuan mempercepat komitmen energi bersih. Di dalam negeri pun Indonesia berkomitmen untuk mendorong penggunaan bauran energi baru terbarukan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai dampaknya bagi Indonesia, mengingat komoditas batu bara selama ini menjadi salah satu penopang perekonomian nasional, sementara itu ada komitmen Indonesia dalam bauran energi baru dan terbarukan (EBT). Hal ini menjadi benang merah talkshow bertema “Ketergantungan Batubara dan Tantangan Transformasi Ekonomi Daerah”, sebuah rangkaian acara dari Pesta Media 2026 yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (11/04/2026).

Menakar Rencana Pemerintah Bidik PNM Jadi Bank UMKM
- Pemerintah berencana mengambil alih PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dari induk usahanya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) atau BRI. Nantinya, PNM akan dijadikan sebagai bank khusus usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Usulan itu disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (06/04/2026). "Saya sedang propose ke Danantara, PNM kasih ke saya. Nanti saya akan jadikan PNM itu penyalur KUR (kredit usaha rakyat), daripada BRI menyalurkan KUR, kadang-kadang banyak yang protes, banyak yang enggak kebagian," kata Purbaya. Purbaya menjelaskan PNM akan menjadi bank di bawah PT Sarana Multi Infrastruktur (SMF) atau Pusat Investasi Pemerintah (PIP) untuk menyalurkan KUR.


Riwayat Depresiasi Rupiah Dalam Satu Dekade Terakhir
- Depresiasi rupiah bukan kali ini saja terjadi. Dalam satu dekade terakhir, rupiah telah beberapa kali terdepresiasi dengan pelemahan yang cukup dalam, bahkan mencapai 20%. Sejak akhir 2024, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.000. Perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026 telah membuat rupiah semakin melemah hingga ke level Rp 17.000. Dalam perang selama 40 hari rupiah terdepresiasi sebesar 2%. Pelemahan terjadi terkait kondisi krisis dalam skala besar, termasuk situasi pandemi Covid-19 yang telah memperlambat geliat perekonomian. Perekonomian Indonesia yang melambat pada tahun 2015 juga terjadi akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Selama 11 bulan dari periode 22 Oktober 2014 hingga 29 September 2015, rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi sebanyak 22,4%, dari Rp 12.026 menjadi Rp 14.728. Di tahun 2015 tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi di bawah 5%, tepatnya 4,79%.

Akselerasi Bauran Energi Terbarukan Sektor Industri Indonesia
- Hingga tahun 2024, konsumsi energi sektor industri tumbuh stabil di angka 5,3% dengan total mencapai 586,25 ribu BOE. Angka pertumbuhan yang konsisten ini mengonfirmasi bahwa industri adalah mesin utama penggerak ekonomi, meski porsinya dominan dibandingkan sektor lain. Kondisi ini memerlukan perhatian yang serius dalam implementasi kebijakan bauran energi pemerintah. Ketergantungan terhadap energi fosil masih sangat kental jika menilik struktur penggunaan energi berdasarkan jenisnya. Batubara tetap menjadi tulang punggung dengan konsumsi mencapai 342,672 ribu BOE pada 2024, disusul oleh gas alam dan listrik. Namun, penggunaan biomassa industri menunjukkan kenaikan signifikan dari hanya 0,555 ribu BOE di 2019 menjadi 53,147 ribu BOE di 2024.


Laporan Survei Penjualan Eceran Februari 2026. Bank Indonesia (BI) akan merilis laporan ini pada Senin 13 April 2026. Laporan lengkap bisa diunduh di situs resmi BI, yakni www.bi.go.id. Hasil laporan ini jadi penting bagi dunia usaha untuk melihat bagaimana kinerja penjualan eceran yang kerap kali jadi cerminan daya beli masyarakat.
Rilis Publikasi Produk Domestik Regional Bruto Provinsi-Provinsi di Indonesia Menurut Lapangan Usaha 2021-2025. Badan Pusat Statistik (BPS) rencananya merilis publikasi ini pada Senin 13 April 2026, yang bisa diunduh di situs resmi BPS yakni bps.go.id. Publikasi ini terbilang penting bagi dunia usaha untuk melihat dan memetakan wilayah mana saja di Indonesia yang tengah menggeliat perekonomiannya.

"Segalanya selalu tampak mustahil sampai akhirnya terwujud." (Nelson Mandela)
Selamat beraktivitas, Chief.
Tim SUAR