Hargai Teman yang Merajuk

Secara psikologis, ngambek dapat dipahami sebagai bentuk withdrawal response—respon penarikan diri sesaat, ketika seseorang merasa tidak dihargai, di salah pahami. 

Hubungan kolegial dalam satu kantor bisa naik turun. Terkadang ada suasana hangat, tapi ada juga suasana dingin  Jika terjadi perbedaan pendapat yang berujung pada pertengkaran, itu biasa. Meski ada juga yang sampai saling mendiamkan. 

Kadang ada karyawan yang suka marah, lalu merajuk, ngambek, pundung, dia mendiamkan semua orang tanpa penyebab jelas, karena kesalahpahaman. Meski ngambeknya juga sesaat saja, dalam hitungan hari. Namun hal ini bisa mengganggu jika sering terjadi, sedikit-sedikit ngambek, kawan-kawannya pun jadi tidak enak hati, suasana jadi kurang kondusif dan tidak produktif. 

Sikap diam, menarik diri, atau menunjukkan ketidaksenangan akibat letupan-letupan kecil di kantor, sebenarnya juga bukan hal yang luar biasa. Pertanyaannya, apakah ini sekadar perilaku kekanak-kanakan, atau justru gejala manusiawi yang tak terhindarkan dalam dunia kerja?

Sebelumnya, perlu dibedakan dulu antara sikap menarik diri, yang fenomenanya bisa disebut sebagai quiet quitting, dengan gejala ngambek yang bisanya juga dilakukan orang yang sama. 

Menarik diri atau withdrawal biasanya dilakukan secara konsisten dan jangka panjang. Bentuknya mengurangi interaksi sosial, tidak ikut kegiatan tim, hingga menjaga jarak. Motivasi dari gerakan ini adalah untuk melindungi diri dari tekanan, burnout, atau budaya kerja yang tidak sehat.

Sementara merajuk atau sulking, lebih bersifat situasional dan emosional. Bentuknya biasanya seseorang itu diam, enggan berkomunikasi, menolak kerja sama sementara. Sikap ini didasari oleh respon terhadap konflik, rasa tidak dihargai, atau kebutuhan perhatian.

Secara psikologis, ngambek dapat dipahami sebagai bentuk withdrawal response—respon penarikan diri sesaat, ketika seseorang merasa tidak dihargai, di salah pahami, atau kehilangan kontrol. 

Merujuk pada teori kebutuhan manusia ala Abraham Maslow, kebutuhan akan penghargaan (esteem) dan rasa memiliki (belonging) sama pentingnya dengan kebutuhan dasar. Ketika kebutuhan ini terganggu, individu bisa merespons secara emosional, termasuk dengan sikap pasif-agresif seperti ngambek.

Di sisi lain, dunia kerja menuntut apa yang oleh Max Weber disebut sebagai rasionalitas instrumental—yakni tindakan yang didasarkan pada efisiensi dan tujuan. Dalam format ini, emosi sering dianggap sebagai gangguan, bukan bagian dari proses.

Di sinilah konflik bermula, manusia sebagai makhluk emosional bekerja dalam sistem yang menuntut mereka untuk tampak sepenuhnya rasional.

Filsuf seperti Aristoteles berpendapat bahwa emosi bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan dikelola. Ia menekankan dalam Nicomachean Ethics, pentingnya menemukan jalan tengah, dimana perlu kesadaran untuk mengambil sikap marah pada waktu yang tepat, dengan alasan yang tepat, dan dengan cara yang tepat.

Ngambek menjadi masalah bukan karena emosinya, tetapi karena ekspresinya yang tidak produktif. Ia menjadi sinyal komunikasi yang gagal, dimana ada sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi tidak menemukan saluran yang tepat.

Pakar psikoanalisis, Sigmund Freud melihat perilaku seperti ini sebagai bentuk mekanisme pertahanan (defense mechanism), di mana individu menghindari konfrontasi langsung demi melindungi diri dari kecemasan atau konflik.

Lalu apakah kelakuan teman sekantor yang suka ngambek itu normal? Tentu saja, namun dalam batas tertentu. Karenanya, alih-alih melihat rekan kerja yang ngambek sebagai masalah, pendekatan yang lebih produktif adalah melihatnya sebagai kode alias bahasa yang tersirat.

Biasanya, di balik sikap tersebut terdapat rasa yang tidak dihargai, misalnya ide diabaikan atau argumennya untuk menolak tugas diabaikan. Kemudian adanya ketidakjelasan peran atau ekspektasi. Lalu ada konflik interpersonal yang tidak terselesaikan hingga yang bersangkutan mengalami kelelahan emosional (burnout). 

Filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre mengingatkan bahwa manusia selalu berusaha mempertahankan makna dirinya di hadapan orang lain. Ketika makna itu terganggu—misalnya merasa diremehkan—reaksi emosional menjadi hampir tak terelakkan. 

Menghadapi sikap ini, sebagai rekan kerja juga perlu sensitif. Perlu tegas, tapi juga tidak asal mengalah, dan berusaha untuk tidak memperkeruh suasana.Kadang pendekatan empat mata lebih efektif dibanding konfrontasi di depan publik.

Jika perilaku tersebut mengganggu pekerjaan, penting untuk tetap menegakkan standar kerja yang harus dipenuhi. Kemudian alihkan pembicaraan dari “siapa yang salah” menjadi “apa yang bisa diperbaiki”.

Fenomena merajuk di kantor pada akhirnya mencerminkan satu hal, dimana organisasi masih belajar menjadi ruang yang tidak hanya produktif, tetapi juga manusiawi.

Dalam perspektif Jürgen Habermas, komunikasi yang sehat adalah fondasi masyarakat modern. Di tempat kerja, ini berarti menciptakan ruang dialog yang terbuka, setara, dan bebas dari tekanan hierarkis yang berlebihan.

Budaya kerja yang matang bukanlah budaya tanpa emosi, melainkan budaya yang mampu mengelola emosi secara konstruktif. 

Intinya, ngambek bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan bisa menghambat komunikasi, menurunkan atmosfer kerja, dan menimbulkan efek domino pada tim. Karena itu, solusi yang ditawarkan adalah intervensi empatik, budaya terbuka, dan penegakan profesionalisme agar produktivitas tetap terjaga.

Pada akhirnya, menghadapi rekan kerja yang suka ngambek bukan sekadar soal teknik komunikasi, tetapi juga soal cara pandang. Apakah kita melihat mereka sebagai hambatan, atau sebagai manusia yang sedang berjuang dengan emosinya.

Profesionalisme yang kaku mungkin efektif dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang, organisasi membutuhkan sesuatu yang lebih dalam seperti  empati yang rasional.

Karena di balik setiap sikap diam di kantor, sering kali ada rasa yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata.

Baca selengkapnya

Ω