75 Tahun Bilateral Indonesia-Tiongkok, Siap Jajaki 'Next Level'

Tak hanya bersifat transaksional dan diplomatis, dukungan Indonesia dan Tiongkok terhadap agenda prioritas masing-masing negara akan diikuti transfer pengetahuan, teknologi, hingga jejaring sumber daya manusia yang mulai terbentuk selama beberapa tahun terakhir.

75 Tahun Bilateral Indonesia-Tiongkok, Siap Jajaki  'Next Level'
Kereta Cepat Indonesia-Cina, salah satu puncak investasi Tiongkok di Indonesia. Foto oleh Hanhan H/Unsplash
Daftar Isi

Kekuatan hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok yang telah teruji selama 75 tahun akan ditingkatkan menuju jenjang berikutnya. Tak hanya bersifat transaksional dan diplomatis, dukungan Indonesia dan Tiongkok terhadap agenda prioritas masing-masing negara akan diikuti transfer pengetahuan, teknologi, hingga jejaring sumber daya manusia yang mulai terbentuk selama beberapa tahun terakhir.

Kuasa Usaha ad interim Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Zhou Kan menyatakan, Indonesia dan Tiongkok saat ini menjadi dua negara besar yang mewakili kepentingan emerging economies dalam konstelasi ekonomi politik global, sehingga penguatan kesalingpercayaan dan kerja sama strategis bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keputusan yang akan menentukan masa depan dunia dan Asia Tenggara.

"Perdagangan bilateral Indonesia-Tiongkok telah melampaui USD 167 miliar, naik 13% tahun lalu, dan Tiongkok bertahan sebagai mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun terakhir. Prospek kerja sama juga semakin terbuka untuk infrastruktur, pengentasan kemiskinan, ekonomi digital, layanan kesehatan, dan ekonomi biru," ujar Zhou saat membuka China Conference Southeast Asia 2026 di Jakarta, Selasa (10/02/2026).

Kerja sama Tiongkok-Indonesia, Zhou menegaskan, tidak hanya membawa manfaat bagi rakyat masing-masing negara, tetapi juga menjadi teladan tata kelola global yang dirundung ketidakpastian. Karenanya, lebih jauh dari perdagangan, Tiongkok siap memperluas investasi dua arah dan kerja sama people-to-people melalui proyek berkelanjutan yang dapat menjadi model kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara lain.

"Pekan depan, pada Tahun Baru Imlek, Tiongkok akan memasuki tahun kuda yang bermakna sangat dalam. Maka itu, di tahun kuda ini, mari kita bersama-sama maju membawa energi baru dan komitmen mengangkat kerja sama kita ke jenjang baru," tegasnya.

Merespons ajakan Zhou, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa manfaat hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok maupun Indonesia-Hong Kong telah membuka kesempatan bagi dunia usaha di kedua negara berkembang maju. Bagi Indonesia, Hong Kong adalah pintu masuk menuju pasar global, sementara bagi Hong Kong, Indonesialah pintu masuk menuju pasar ASEAN.

"Melalui penandatanganan empat Nota Kesepahaman Indonesia-Tiongkok pada Mei 2025, Indonesia tidak hanya memperkuat rantai pasok, tetapi juga mengembangkan kawasan industri kembar, kerja sama local currency transaction Bank Indonesia dan People's Bank of China, serta kerja sama Dewan Ekonomi Nasional RI dan National Development and Reform Commission dalam kebijakan pembangunan ekonomi," ucap Airlangga.

Baca juga:

Imbas Perang Tarif, Indonesia Jadi Tujuan Relokasi Industri China
Berbagai manufaktur China kini mulai mencari lokasi baru (relokasi industri) untuk menghindari tarif tinggi AS, membuka kesempatan Indonesia menjadi lokasi tempat pengusaha asal tirai bambu itu untuk berinvestasi.

Menyongsong agenda Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2026 yang akan dilaksanakan di Shenzhen, Tiongkok, pada bulan November, Airlangga menegaskan Indonesia siap mendukung prioritas agenda keterbukaan dan inovasi, seraya menegaskan kembali komitmen pada perdagangan bebas dan persaingan berorientasi pasar yang adil dan inklusif.

Membuka pintu

Bagi dunia usaha, komitmen Indonesia-Tiongkok mengangkat kualitas hubungan bilateral menuju jenjang selanjutnya memiliki makna bertambah luasnya kesempatan untuk menerima transfer pengetahuan know-how, nilai dan etos industri, maupun pengembangan teknologi. Syaratnya, Indonesia perlu konsisten dalam diversifikasi dan reformasi domestik.

Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia dan CEO AdaKami Bernardino Maningka Vega menyatakan, dalam kontur hubungan diplomatik dan hubungan dagang dengan negara manapun, Indonesia selalu mengejar kepentingannya sendiri. Posisi ini ditempuh karena Indonesia membutuhkan triangulasi untuk dapat berkembang tanpa bergantung pada satu negara saja.

"Kami terbuka pada semua mitra: Tiongkok, AS, maupun negara lain yang juga aktif dan terbuka. Namun, kami juga berhak memilih. Contohnya, dalam kerja sama transisi energi dengan Uni Eropa, rencana yang dihasilkan tidak kompatibel dan dapat berisiko menaikkan tarif listrik, maka tidak kami lanjutkan. Kami selalu mengambil yang terbaik dan paling bermanfaat, dari manapun asalnya," cetus Vega.

Vega mengungkapkan, keterbukaan Indonesia menjadi semakin dibutuhkan ketika perubahan lanskap geopolitik mengubah rantai pasok yang kini menjajal rute baru dan kemungkinan dipersenjatainya komoditas utama sebuah negara. Sikap terbuka itu juga yang membuat Indonesia tidak khawatir dengan kebangkitan ekonomi Tiongkok seperti selama ini dicemaskan negara-negara Barat.

"Leluhur kami sudah berdagang dengan para pelaut Tiongkok lebih dari 1.800 tahun, dan tidak ada masalah. Peradaban Barat mungkin melihatnya sebagai suatu hegemoni, tetapi di Asia, ini adalah hal biasa karena Tiongkok dan India sudah mendominasi perdagangan berabad-abad lamanya, dan tidak ada yang dirugikan dengan kerja sama itu," jelasnya.

Meski berkedudukan sebagai mitra setara dalam perniagaan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta W. Kamdani mengingatkan bahwa 70% impor bahan baku Indonesia masih berasal dari Tiongkok. Karenanya, peran Tiongkok bukan hanya diperlukan untuk menggalang hilirisasi, melainkan juga memperkuat hulu.

"Tantangan Indonesia adalah mencari cara agar kita tidak lagi tergantung. Kita perlu melihat Tiongkok sebagai mitra membangun industri hulu, bukan hanya sumber bahan baku impor. Dengan kepemilikan skill set dan talenta yang mumpuni, Tiongkok dapat membantu Indonesia dalam transfer pengetahuan, nilai, dan teknologi," ujar Shinta.

Baca juga:

Kerjasama Indonesia dan Tiongkok Mendorong Minat Investasi di Indonesia
Siaran Pers

Seraya memperkuat industri secara terpadu, menurut Shinta, hubungan "next level" Indonesia-Tiongkok akan memperkuat daya saing Indonesia apabila komitmen reformasi domestik terus dilaksanakan secara berkesinambungan. Selain membenahi dan menegakkan kepastian regulasi dan kemudahan berusaha (ease of doing business), keselarasan mutu produk Indonesia dengan standar internasional juga perlu diperhatikan.

"Infrastruktur digital dan kualitas sumber daya manusia dengan skill set yang tepat adalah kebutuhan utama Indonesia mencapai daya saing yang diharapkan untuk terhubung dengan rantai pasok global. Di sini, Tiongkok dapat menjadi acuan dalam melaksanakan reformasi struktural sehingga mampu menarik investasi dari seluruh dunia," tukasnya.

Jembatan manusia

Memperkaya perspektif Shinta, Head of Enterprise Banking International OCBC Roy Tan menyatakan, perusahaan Tiongkok yang datang ke Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan dulu. Tidak hanya membawa masuk komoditas dan memperdagangkannya, perusahaan-perusahaan Tiongkok kini mencari mitra lokal untuk dapat berinvestasi secara strategis di pasar yang menjanjikan.

"Kami tidak lagi melihat Indonesia sebagai suatu negara saja, tetapi berusaha menjadikan Indonesia sebagai bagian dari skema di mana kapital dapat mengalir secara seamless. Hanya apabila menemukan orang yang tepat dalam industri yang tepat, maka kapital yang dibawa dari Tiongkok dapat menjanjikan profitable return," jelasnya.

Semakin besarnya jumlah mahasiswa Indonesia di Tiongkok dan bertumbuhnya minat orang muda Tiongkok untuk bekerja di Indonesia, menurut Tan, dapat menjadi pintu masuk yang akan menghubungkan kedua negara lebih erat lagi ke depannya. Tan menegaskan, mutual trust dan kesalingpahaman budaya merupakan konektivitas sejati yang melebihi infrastruktur apapun.

"Saat ini ada 7.000 mahasiswa Indonesia belajar di Tiongkok dan dapat bertumbuh menjadi 30.000 dalam waktu dekat. Artinya, semakin banyak orang Indonesia yang berbahasa Mandarin, dan merekalah mitra lokal yang memandu perusahaan Tiongkok di Indonesia. Jejaring sumber daya manusia ini tidak tergantikan, menjadi jembatan people-to-people yang memperkuat kedua negara ke depannya," ucap Tan.

Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menegaskan Indonesia sangat siap dan lebih dari antusias untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan Tiongkok yang kini menjadi garda utama pengembangan teknologi masa depan. Namun, investasi tersebut tidak dapat diraih secara cuma-cuma.

"Saya berbicara pada berbagai fund managers dan menegaskan hal serupa: Indonesia menginginkan kemitraan dua arah. Ajarilah orang-orang muda kami untuk menjadi talenta cemerlang di bidang mereka lewat transfer pengetahuan dan teknologi, maka kami akan dengan senang hati membawa modal lebih banyak untuk ditanam di perusahaan Anda," tutur Pandu.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya