Yukki Nugrahawan Hanafi: Masa Depan Sektor Logistik di Tangan Kita

Di balik potensi pertumbuhan sektor logistik, ada tantangan yang harus diselesaikan. Wakil Presiden Senior FIATA Yukki Nugrahawan Hanafi membagikan perspektifnya secara eksklusif kepada SUAR

Yukki Nugrahawan Hanafi: Masa Depan Sektor Logistik di Tangan Kita

Sektor logistik adalah tulang punggung beragam aktivitas ekonomi. Untuk menghubungkan rantai pasok dari produsen ke konsumen tentulah membutuhkan peran krusial dari sektor logistik.

Tak hanya itu, sektor logistik terus bertumbuh menjadi salah satu lapangan usaha yang paling menjanjikan di masa depan. Di sisi lain, tantangan yang dihadapi sektor inipun tidak kalah besar dan kompleks sejalan dengan volatilitas dan fluktuasi pasar global. Tanpa kejelasan arah pembangunan, potensi besar itu terancam tersia-siakan.

Guna menjawab pertanyaan besar tersebut, SUAR berkesempatan mewawancarai Senior Vice President of FIATA International Federation of Freight Forwarders Associations Yukki Nugrahawan Hanafi di Jakarta, Rabu (16/9/2026) lalu.

Bersama Pemimpin Redaksi SUAR Sutta Dharmasaputra, pengusaha yang telah malang-melintang selama 30 tahun dalam industri logistik itu berbagi pandangan tentang masa depan sektor logistik Indonesia, termasuk sejauh mana kemungkinan Indonesia menjadi poros transportasi dan pergudangan Asia Pasifik di masa depan.

Pak Yukki, kita tahu saat ini dunia sedang mengalami perubahan luar biasa. Dahulu, orang berbicara tentang globalisasi, tetapi kini kita mulai membicarakan deglobalisasi. Di dunia logistik, bagaimana perubahan ini mulai dirasakan?

Kata orang, dunia ini sedang tidak baik-baik saja. Kita tahu peran Selat Hormuz dan apa yang terjadi di sana menghambat pergerakan minyak dan gas bumi yang keluar dari Timur Tengah. Dari situ saja, kita sudah melihat bagaimana pentingnya logistik sebagai bagian dari rantai pasok/supply chain. 

Menurut saya, yang harus diingat adalah logistik hanya salah satu dari 15 indikator supply chain. Di samping logistik, ada transportasi darat, laut, udara, finansial, dan lain-lain. Namun, yang jelas, pertumbuhan industri sebuah negara hanya akan ditopang supply chain yang baik.

Nah, Logistics Performance Index Bank Dunia memosisikan Indonesia di peringkat 63 dari 139 negara pada tahun 2023. Ada juga keluhan logistik kita berbiaya mahal. Melihat situasi ini, bagaimana Pak Yukki melihat kondisi Indonesia?

Tentunya tidak mudah. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Bayangkan, jika kita terbang dari Aceh menuju Jayapura, Papua, itu butuh waktu 7-8 jam. Dengan durasi yang sama, penerbangan dari Jakarta mungkin bisa mencapai Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Kita bisa hitung berapa negara yang kita lalui dalam durasi penerbangan selama itu.

Itu yang pertama. Kedua, saya melihat banyak orang tidak benar-benar memahami cara perhitungan Logistic Performance Index ini, tetapi saya selalu mengatakan, jadikan ini penyemangat bagi kita untuk memperbaiki diri. Bagi saya, yang terpenting adalah pertumbuhan sebuah negara sesuai dengan target pencapaian negara itu sendiri. 

PDB Indonesia selalu dipengaruhi 3 faktor utama, yaitu daya beli masyarakat, investasi, dan belanja pemerintah. Di antara ketiganya, investasilah yang harus kita dorong. We need more, bukan saja dari foreign direct investment, tetapi juga national investment, penanaman modal yang dilakukan antara pelaku usaha nasional.

Kepercayaan diri harus kita miliki sebagai sebuah bangsa. Kita ingat di masa pemerintahan Pak SBY, ada yang disebut Sistem Logistik Nasional (Sislognas). Pak Jokowi menginisiasi yang namanya Tol Laut. Hari ini, rencana perundang-undangan tentang logistik dan supply chain segera keluar. Kelanjutan ini membuat saya selalu berharap.

Kembali ke Logistics Performance Index, saya selalu melihat Thailand dan Vietnam sebagai pembanding di kawasan Asia Tenggara. Sekitar 20-25 tahun lalu, keduanya berada di bawah Indonesia. 

Sekarang, posisi kita nomor 6, sementara Thailand dan Vietnam bergantian di urutan 3 dan 4. Padahal, situasi politik Thailand dengan pergantian rezimnya yang sangat sering sudah kita ketahui bersama. Namun, saya mencermati, kalau mereka sudah merencanakan sesuatu, siapapun administrasi pemerintahannya, akan selalu dilanjutkan. Ini sangat penting sebagai contoh.

Dalam hal investasi juga demikian. Dari data Kementerian Investasi, pertumbuhan ekonomi paling tinggi dengan dorongan investasi ada di Maluku Utara. Mereka mengolah komoditas, lalu menciptakan ekosistem baterai. Industri baterai nomor satu dunia bahkan sudah masuk ke sana. Dengan pergerakan investasi, menjadi ekosistem, lalu menarik tenaga kerja, maka pergerakan barang akan ikut tumbuh.

Kalau kita cermati secara saksama, penyebaran investasi ini menjadi pangkal mahalnya biaya logistik kita, yang disebabkan imbalance cargo dari Indonesia Timur ke Indonesia Barat. Ambil contoh mie instan. Jika harga satu bungkus mie instan di Jayapura bisa sama dengan di Jawa, ini ‘kan karena ada biaya logistik yang disubsidi dari pembeli di Jawa.

Namun, akan berbeda jika di wilayah Timur ada produksi dari investasi, maka kapal bisa pulang pergi terisi barang ketika berlayar dari maupun ke Timur dan Barat. Dengan kata lain, kalau industri tidak tumbuh di wilayah Indonesia Timur, imbalance cargo dan biaya logistik mahal akan terus terjadi, karena wilayah negara kita ini sangat besar.

Dari gambaran situasi tersebut, bisa disimpulkan apa tiga persoalan utama yang membuat sektor logistik kita tersendat?

Pertama, seperti saya sampaikan, adalah penyebaran investasi. Kita bukan hanya mau membangun Jawa, tapi membangun Indonesia.

Kedua, kepastian kebijakan. Rencana yang tetap terarah walau pemerintahan berganti. Kalau nama mau diganti, silakan, tetapi kita harus punya satu visi besar mengenai supply chain. Dalam kondisi apapun, pelaku usaha, BUMN, Danantara, semua harus tahu kita menuju ke mana. Jangan sampai ada perubahan di tengah jalan.

Ketiga, pungutan-pungutan liar yang menyebabkan pemborosan, selain kemacetan jalan yang luar biasa. Sebagai contoh, menempuh jarak 240 kilometer dari kawasan industri ke Laem Chabang Port, itu hanya membutuhkan waktu 2,5 jam. 

Sementara kita dari Karawang ke Tanjung Priok dengan jarak 70 kilometer, kita bisa hitung berapa jam waktunya. Itu salah satu yang mengakibatkan pemborosan bahan bakar minyak, terutama.

Artinya sekarang kita maju, mundur, atau jalan di tempat?

Kita maju. Hanya saya melihat, orang lain lari, kita masih jalan cepat. Kita sudah bergerak, sudah berjalan lebih cepat, tetapi orang lain sudah berlari!"

Satu hal yang juga jangan sampai dilupakan, biaya logistik juga terbentuk berdasarkan komoditas. Indonesia harus menentukan dulu komoditas unggulannya apa, dan itu harus diprioritaskan. 

Orang selalu bicara biaya logistik kita mahal. Pertanyaannya, apakah harus murah? Tidak juga. Biaya logistik jangan dikategorikan mahal atau murah, tetapi harus efektif dan efisien berbasis pada komoditasnya.

Misal, komoditas unggulan kita crude palm oil (CPO). Itu yang harus kita usahakan agar logistik dan rantai pasok CPO efektif. Atau komoditas lain, nikel, batubara, bauksit, dan lain-lain. Industri kita mau fokus mengembangkan keunggulan komoditas yang mana? 

Ambillah lima industri yang menjadi fokus perbaikan rantai pasok dan logistik. Misal, tekstil. Lalu, otomotif. Kosmetik, termasuk produk halal yang menjadi turunannya. Furnitur, supaya bukan hanya mengekspor kayu. Furnitur rotan dari Cirebon, kerajinan kayu Jepara, produk kerajinan dari Bali.

SUAR berkesempatan mewawancarai Senior Vice President of FIATA International Federation of Freight Forwarders Associations Yukki Nugrahawan Hanafi di Jakarta, Rabu (16/9/2026) lalu. Foto: Suar.id/Fandi.

Mengapa ini penting? Perlu saya beri tahu, penilaian Logistics Performance Index Bank Dunia itu berdasarkan komoditas. Untuk menilai kualitas logistik Indonesia tahun ini, ekspor, misalnya, dinilai dari CPO, sementara impor dinilai dari, misalnya, spare part. Jadi tidak generik. Komoditas Singapura atau Vietnam, berbeda, juga negara-negara lain.

Jadi, saya tegaskan, kita tidak usah pusing dengan penilaian Logistics Performance Index, tetapi jadikan itu penyemangat. Apalagi pertumbuhan ekonomi kita masih bisa di atas 5%.

Ketika semua sedang berjalan cepat, dengan perubahan segala macam, apakah ada hal-hal yang harus diantisipasi CEO agar bisa bertahan dan tidak terlalu bergantung perubahan geopolitik?

Ada dua hal yang terpenting sekarang, yaitu energi dan pangan. Artinya, program prioritas Presiden di bidang pangan dan energi itu sudah tepat jika kita melihat kondisi geopolitik. Menurut saya, itu sangat penting. Ada kekurangan di sana-sini, tetapi sekarang kita lihat sudah mulai membaik.

Energi menjadi PR yang sangat besar. Kita tahu sejak 1998 kita menjadi net importer, sementara jumlah penduduk terus meningkat. Untuk menemukan blok-blok migas baru juga tidak semudah dulu, sementara menambang laut dalam lebih mahal. 

Pemain-pemain industri besar juga bukan hanya melihat dari sisi volume, tetapi juga membuat ekstraksi minyak bumi dan gas lebih efisien. Bagaimana jadinya kalau sebuah perusahaan migas menambang di satu blok, menghasilkan crude, sementara refinery untuk memproses kembali itu ada di tempat lain? Belum lagi kalau kita bicara LPG dan CNG.

Kita lihat sebenarnya ada beberapa contoh yang sangat baik, misalnya jaringan gas ke rumah-rumah seperti di zaman kolonial Belanda. Saya ingat ketika semasa kecil tinggal di Bandung, setiap beberapa waktu kita bayar gas ke Jalan Braga. Tidak ada LPG di rumah. Jaringan seperti itu mungkin bisa dihidupkan kembali.

Dalam mengantisipasi, kita harus mengenal basis industri kita sebenarnya apa. Kalau otomotif, kan, tidak bisa hanya tergantung pada Indonesia sendiri. Dalam industri otomotif, ada produsen komponen pendukung dari Tier 1, Tier 2, Tier 3. Ada komponen fast moving dan slow moving. 

Dulu, komponen ini bisa distok satu-dua bulan, tetapi sekarang karena rantai pasok begitu cepat, begitu spare part masuk, itu sudah direncanakan jumlah produksinya berapa, sehingga tidak terbuang dan just in time. Karena itu, dengan teknologi sekarang, digitalisasi menjadi sangat penting.

Apalagi sekarang kita harus beradaptasi dengan AI. Hampir semua negara besar: Tiongkok, Eropa, Amerika Serikat, mempergunakan AI. Dulu, kita di Indonesia mau makan kepiting Alaska itu tidak mungkin. Hari ini, kita pesan sekarang, dua hari lagi sudah ada di meja kita, dengan sistem pemesanan online yang begitu besar.

Para pelaku usaha dituntut mengadaptasi setiap perubahan itu. Kita harus agile menghadapi perubahan itu. Kalau tidak bisa ke arah sana, akan berdampak pada kegiatan usaha kita sehari-hari.

Tiongkok itu luar biasa. Dari sepuluh pelabuhan terbesar di dunia, enam ada di Tiongkok. Kalau ditambah satu, Hong Kong. Artinya, tulang punggung mereka ada di port.

Dari enam pelabuhan terbesar ini, lima sudah mempergunakan sistem AI. Jadi, kadang-kadang saya bingung ‘kok kita masih meributkan soal penyelundupan. Di sana, kita ketik nomor kontainer, keluar semua isinya, dokumennya. Nah, kita harus menuju ke sana.

Sejumlah kendaraan angkutan logistik mengantre di kantong parkir Dermaga Bulusan, Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (17/9/2026). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/kye.

Saya pernah mendorong National Logistics Ecosystem. Itu bermula dari hal yang sangat sederhana. Saya pernah ditanya seorang menteri, ‘Inaport Net itu apa? Indonesia National Single Window itu apa? Trade Net itu apa?’ 

Saya jawab, ‘Pak, itu silo-silo yang memisahkan kita. Kita harus punya payung besar, semua terintegrasi dalam satu sistem. Ketika seseorang masuk NLE, semua sudah harus ada di sana.’ Kalau ada pihak swasta yang mau ikut mengembangkan sistem ini, persilakan saja, selama memenuhi kriteria.

Di Tiongkok, sistem besar mereka sudah bisa memprediksi panen padi di provinsi mana, panen buah di kota mana, hasil laut kekurangannya berapa. Pengusaha perlu untuk bisa melihat kebutuhan-kebutuhan itu.

Yang menarik juga sekarang ini India. Mereka populasi terbesar di dunia hari ini. Tapi, jangan lupa, 80% kebutuhan energi India itu impor, dan mereka bisa bertahan. Tidak ada salahnya kita belajar juga dari mereka. 

Bayangkan, Indonesia mempunyai 45% jumlah penduduk ASEAN, tetapi kita berjualan di pasar dalam negeri saja. Tetangga kita bisa menjangkau kawasan se-Asia Tenggara, mengapa kita tidak, padahal aktivitas ekonomi Asia Tenggara salah satu yang terbesar di dunia. Kalau bisa bahkan Asia Pasifik, karena Asia Pasifik mendominasi pertumbuhan ekonomi dunia sekarang.

Artinya Pak Yukki melihat disrupsi AI dan digitalisasi itu meningkatkan produktivitas sektor logistik ke depan, atau justru menjadi ancaman?

Ini mengingatkan saya ketika terpilih menjadi Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia pada 2014. Ketika itu, di hadapan hampir 1.200 anggota ALFI di Jakarta, saya bertanya kepada mereka, “Siapa yang kalau pesan hotel atau tiket pesawat, online?” Hampir semua angkat tangan. Saya tanya lagi, “Siapa yang kalau pesan makanan, online?” Hampir 80 persen angkat tangan.

Saya tanya kepada mereka, “Bapak/Ibu sadar, tidak, banyak orang berhenti bekerja karena Bapak/Ibu pesan online?” Contohnya, agen pariwisata yang hanya menjual tiket, tutup semua waktu itu. Kita mungkin tidak melihat angka penganggurannya seperti apa, tetapi agen pariwisata yang punya nilai tambah, pasti akan bertahan. Itu saya sampaikan ke teman-teman anggota.

Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita memiliki nilai tambah? Saya bilang, coba berkolaborasi, sesuaikan dengan perbedaan usaha Bapak/Ibu semua. Layanan yang dulu menghasilkan uang seperti custom broker atau pengurusan jasa kepabeanan, sekarang sudah gratis, sudah menjadi paket dalam logistik distribusi, jadi kita harus agile.

SUAR berkesempatan mewawancarai Senior Vice President of FIATA International Federation of Freight Forwarders Associations Yukki Nugrahawan Hanafi di Jakarta, Rabu (16/9/2026) lalu. Foto: Suar.id/Fandi.

Saya kaget ketika satu tahun kemudian, ada seorang bapak-bapak yang tidak saya kenal, dia bilang, “Pak Yukki, terima kasih, ya, sudah mengingatkan. Waktu itu saya punya truk, bergabung dengan teman yang punya warehouse, gabung dengan teman yang punya custom broker PPJK, kami merger dan bisa bertahan, jadi lebih efisien.”

Digitalisasi di Indonesia sudah cukup maju, bahkan Jepang mengakui Indonesia jauh lebih cepat. Artinya, percepatan kita untuk memperbaiki logistik tadi mungkin lebih cepat dengan adanya digitalisasi?

Sangat. Karena para buyer bisa berhubungan langsung dengan penjual tangan pertama. Mungkin akan ada yang hilang di tengah-tengah, dan itu sudah terjadi di mana-mana.

Nah, untuk industri logistik, bagaimana mengatasi usaha jasa yang hilang di tengah-tengah itu, Pak?

Tidak ada masalah? Mengapa? Karena seperti tadi saya katakan, teman-teman masih agile. Jadi, di sektor logistik itu tidak ada yang menjadi “jagoan” di semua bidang. Tidak ada. Pelaku yang fokus di industri berat, seperti pabrik semen atau pabrik baja, belum tentu bisa masuk ke ritel. Kalau saya sendiri, bisa dibagi dua: jasa logistik dan logistik infrastruktur. Dua hal ini berbeda.

Dan, angka itu, kita bisa lihat. Biaya freight berapa, biaya pelabuhan berapa, biaya pergudangan berapa, biaya distribusi itu berapa, sampai harga jual barang ke masyarakat berapa. Itu semua bisa dihitung, kok, bukan suatu hal yang sulit.

Berarti peluang industri logistik 2-3 tiga tahun ke depan, masih sangat besar?

Pertumbuhan logistik itu dua kali dari pertumbuhan ekonomi nasional sendiri. Tinggal siapa yang akan memanfaatkan. Apakah kita sendiri atau justru orang lain. 

Saya lihat data. Anggota ALFI sekarang ada sekitar 4.000 anggota, sekitar 289 perusahaan asing, semua perusahaan besar, tetapi yang menguasai 60% kontainer di republik ini adalah pihak asing. Saya juga bermitra dengan mereka. Mengapa ini sampai terjadi, karena Indonesia menerapkan sistem Free on Board dalam ekspor, sementara impor menerapkan Cost, Insurance, Freight (CIF)

Dalam sistem FOB, buyer akan mengatur kapal, asuransi, perbankan, semua yang diperlukan dalam bertransaksi. Artinya, dia mempergunakan pelaku logistik dari luar. Apakah salah, tidak. Tetapi kita kehilangan peluang untuk melayani kebutuhan mereka.

Sektor Transportasi dan Logistik Berpeluang Jadi Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas transportasi dan logistik memiliki peran strategis dalam menopang pergerakan ekonomi, baik melalui mobilitas masyarakat maupun distribusi barang.

Saya ingat pada masa Gita Wirjawan memimpin Kementerian Perdagangan, kami membuat kesepakatan yang mendorong ekspor dengan sistem CIF, sementara impor menggunakan sistem FOB. Tujuannya agar pelaku logistik di Indonesia bukan hanya bertahan, tetapi bisa berkompetisi ke luar. Sayangnya, itu tidak dilanjutkan, padahal kita bisa menguasai 2-3 komoditas.

Saya juga pernah mendorong agar Kementerian BUMN, jika membeli barang dari luar, kasihlah kesempatan untuk pelaku nasional. Belilah barang dari luar itu dengan sistem FOB, sehingga perusahaan nasional bisa mengerjakan. Bank yang mengurus transaksi bisa BNI atau Bank Mandiri, misalnya. Selama kompetitif, go ahead.

Masalahnya, kita tidak pernah mendapatkan kesempatan semacam ini. Jadi, salah satu yang menyumbang tingginya biaya logistik, antara lain soal-soal seperti itu.

Menarik sekali, Pak. Kalau Pak Yukki diberi kesempatan membuat tiga kebijakan untuk memperkuat pelaku logistik di Indonesia untuk berlari lebih cepat?

Kita tidak bisa menggeneralisasi semua. Kita harus fokus. Komoditas apa yang sangat diunggulkan oleh Indonesia? Komoditas, terutama yang memang dipersiapkan untuk ekspor. Tentunya, kebijakan itu harus di sana.

Kedua, pariwisata. Kalau di Bali, saya suka bicara mengenai logistik pariwisata, tourism logistics. Dulu, sayuran untuk makanan mereka dihasilkan di sana, tetapi sekarang sudah masuk dari Jawa, dari mana-mana, karena mereka memang kekurangan dengan banyaknya jumlah turis yang datang.

Terakhir, harmonisasi regulasi, termasuk bagaimana mempersiapkan multimoda dengan baik. Dengan satu dokumen, transportasi darat, laut, udara, kereta api yang dibutuhkan sudah terintegrasi. Menurut saya, itu kata kunci.

Kembali, apa komoditas unggulan kita Ini? Misalnya, ekosistem baterai, tembaga, bauksit. Lima industri tadi, bagaimana otomotif kita unggul di ASEAN, dengan jumlah penduduk paling banyak, kok.

Dengan fokus tiga kebijakan itu, kita bisa jauh melompat, ya, Pak?

Saya yakin. Buat saya, Indonesia itu luar biasa. Orang melihat negara kepulauan sebagai kelemahan, tetapi saya melihatnya sebagai sebuah keunggulan.

Menarik sekali. Nah, omong-omong, saya ingin tanya, kalau melihat dari gaya kepemimpinan Bapak, siapa yang Bapak jadikan contoh atau panutan dalam gaya kepemimpinan?

Saya suka mengenal para tokoh. Kalau orang sering mengaitkan langsung dengan tokoh mancanegara, saya melihat dari Indonesia dulu. Setiap pemimpin, setiap pemerintahan, pasti ada kelebihannya, dari presiden pertama sampai hari ini, tetapi juga mungkin ada kekurangannya, dan saya melihat mereka semua punya concern pada masalah distribusi.

Saya juga mengagumi Bung Hatta. Dengan gagasan koperasinya, sadar atau tidak itu adalah bagian dari distribusi logistik. Ekonomi memang harus menempatkan logistik sebagai yang terpenting. 

Saya ingat pada waktu pandemi Covid-19, Menko Perekonomian mengizinkan 10 industri diizinkan bergerak. Saya tanya ke Pak Airlangga, “Logistik tidak diberi izin? Kalau tidak diberi izin, siapa yang mau angkut barang-barang itu?” Akhirnya logistik menjadi industri ke-11 yang diizinkan bergerak.

Intinya, kalau kita mau unggul sebagai sebuah negara, yang bisa kita bereskan paling cepat adalah supply chain, mata rantai pasok. Itu efeknya besar. Percaya sama saya. Tiongkok unggul di dunia karena bisa menyelesaikan masalah rantai pasoknya. Itu sudah menjadi perhatian, dan sejak dulu kita sudah suarakan.

Kebijakan pembentukan PT. Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) baru-baru ini, itu juga terkait rantai pasok, jadi harusnya kita dorong, terutama pada fungsi kontrol, yaitu bagaimana jaringan rantai pasok ini bisa termonitor dengan baik. 

Kalau saya lihat data-data investasi, sektor pergudangan dan transportasi selalu masuk lima besar investasi di republik ini. Jadi, tolong perhatikan sekali supply chain ini, karena kita bisa melakukan banyak efisiensi di berbagai bidang, dengan tetap berbasis pada komoditas yang menjadi kekuatan negara kita.

Kepemimpinan di dunia logistik mempunyai banyak tantangan. Risiko dalam pengambilan keputusan juga sangat besar. Dari pengalaman Pak Yukki, apa yang menjadi pertimbangan ketika mengambil keputusan yang berisiko tinggi?

Saya bisa ambil contoh di Selat Hormuz. Ketika Perang AS-Iran dimulai, tidak ada satupun perusahaan asuransi di dunia yang mau cover itu. Dampaknya ke mana-mana. Ini menurut saya memberikan kekhawatiran yang tinggi. Keputusan yang harus diambil antara keperluan/kebutuhan sebuah negara dengan apa yang terjadi di sebuah kawasan.

Saya punya mimpi. Indonesia ini berbatasan dengan Selat Malaka. Enam puluh persen perdagangan dunia lewat situ. Coba lihat, berapa yang mampir ke kita. Keputusan-keputusan besar itu harus kita mulai dengan kepercayaan diri. Kita butuh orang yang kuat dan yakin untuk bisa melangkah ke arah sana.

Dalam situasi geopolitik sekarang, kita perlu seorang pemimpin yang kuat. Kita melihat bagaimana Lee Kuan Yew membangun Singapura, bagaimana Mahathir Mohamad membangun pelabuhan di Tanjung Pelepas untuk berkompetisi dengan Singapura. Akhirnya mereka berkolaborasi juga, kok.

Dari perspektif ASEAN, saya sedang mendorong pengembangan Pelabuhan Batu Ampar. Di Singapura ada 37 juta kontainer. Di Malaysia ada 11 juta kontainer, tetapi di Batam hanya 650.000. Minimal dalam 2-3 tahun ke depan, mungkin menuju 1,3, lalu 1,5 juta. Kalau pelabuhannya berkembang, maka free trade zone juga berkembang.

Logistik kepelabuhanan itu ibarat pagar rumah, maka di dalam rumah yang harus mengisi adalah para penghuninya. Saya punya keyakinan Indonesia bisa ke arah sana.

Dari pengalaman Pak Yukki selama hampir 3 dekade di dunia logistik, keputusan besar apa yang pernah Bapak perkirakan akan gagal, tetapi ternyata berhasil? Apa keputusan paling berat yang pernah Bapak ambil?

Saya memulai dari jasa logistik, lalu ke infrastruktur. Jadi, keberhasilan itu menurut saya relatif, karena cita-cita itu masih banyak. Ada banyak keputusan yang perlu kita lakukan sebagai perusahaan untuk melakukan sebuah transformasi, adaptasi terhadap perubahan, memasuki bidang-bidang usaha baru yang belum tentu berhasil, tetapi kita mencoba.

Untuk apa saya melakukan semua itu? Perusahaan tentu mencari keuntungan, tetapi juga perlu mendapatkan yang efisien. Bukan yang murah, tetapi efisien dan efektif tergantung jenis komoditasnya.

Sebagai pelaku industri logistik, saya bersyukur bisa aktif, mewarnai, memberi masukan, tetapi yang paling penting adalah saya suka memberikan impact. Kalau ada kebijakan baru, tentu sebagai perusahaan, kita ingin ikut, karena kalau pemainnya lebih banyak, itu ‘kan lebih bagus. Seperti tadi saya bilang, tidak ada pemain logistik yang jago di semua sektor.

Saya melihat Bali mempunyai peluang. Bandara I Gusti Ngurah Rai memang agak terbatas, tetapi produk-produk Australia disimpan di Bali. Jadi mereka bisa menjadi trans-shipment hub. Perusahaan saya ikut juga di Patimban, sebagai operator Greenfield Port. Ini pertaruhan, karena ini pelabuhan yang dikelola swasta dan tidak dibuat di zaman kolonial Belanda.

Kedua, Makassar Newport di bawah Pelindo. Untuk membangun itu, minimal saya butuh waktu mencapai target itu 10 tahun. Ibarat tanaman, Patimban ini sedang disirami terus-menerus. Alhamdulillah, kapal Ro-Ro terbesar pernah masuk kesana. Pemerintah juga memberikan dukungan lewat Kementerian Perhubungan agar kendaraan-kendaraan ekspor ke Timur Tengah yang sebelumnya transit ke Brunei atau Filipina, bisa juga lewat Patimban.

Di tahun pertama, kita sudah mencapai 210.000 mobil sejak mulai beroperasi. Tahun ini, bersama operator-operator di sana, kita juga sudah mulai bergerak untuk kontainer. Struktur crane dan lain-lain sudah mulai terpasang di bulan Oktober dan November ini. Minimal itu bisa mengurangi beban traffic ke Tanjung Priok, Jakarta.

Keputusan yang saya buat di Patimban itu ada taruhan juga. Orang bilang, ‘Ah, Yukki, jangan cuma ngomong aja.” Patimban, bagi saya suatu hal yang menarik, walaupun saat Public Expose tahun 2020, saya bercerita, “Mari kita bicara masa depan, karena Patimban ini merupakan masa depan Indonesia.” 

Mudah-mudahan ini terus didukung. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga sangat mendukung karena jalan tolnya agak lambat dari Cipali masuk langsung ke Patimban. Itu juga sangat penting untuk kita dorong terus, karena total throughput yang akan dibangun di Patimban adalah 7,5 juta kontainer. Sekarang baru masuk 3,5 juta, nanti disesuaikan perkembangannya.

Pelabuhan Patimban. Foto: Dokumentasi Pelabuhan Patimban.

Untuk ekspor mobil, kita tidak perlu berkompetisi dengan Pelabuhan Tanjung Priok. Kita bisa berkolaborasi. Hanya memang total unit otomotif di Indonesia, menurut data Kementerian Perindustrian pada 2027, mestinya itu ‘kan 2,5 juta unit mobil, tetapi data terakhir menunjukkan kita baru mencapai 1,6 juta unit. Kita lihat lagi berapa yang ekspor dan berapa yang impor.

Saya beruntung pernah menjadi komisaris di salah satu BUMN yang berkaitan dengan kepelabuhanan. Saya bisa banyak belajar, melihat pergerakan industri, investasi, dan perdagangan melalui pelabuhan-pelabuhan ini, mendapatkan angka, mengetahui komoditas unggulan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.

Kalau Sumatra, Pelabuhan Belawan di Sumatra Utara sudah terbentuk dari dulu, tetapi secara geografis, Sabang itu punya potensi. Kembali, komoditas apa yang mau diunggulkan? Setiap daerah punya keunggulan, maka komoditas itu harus didekatkan ke rantai pasok untuk mendistribusikannya.

Dalam melihat dunia yang berubah, apa yang harus dilakukan para CEO dan pengambil kebijakan agar sektor logistik dan rantai pasok kita berlari lebih cepat ke depan?

Ini pertanyaan yang tidak mudah, tetapi saya melihatnya seperti ini. Berikanlah persepsi yang positif. Mengapa saya di FIATA? Karena saya ingin memberikan cerita positif mengenai Indonesia. Saya ingin lebih banyak lagi investasi masuk ke Indonesia. Ada impact mungkin buat usaha saya, karena pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan sektor logistik, tetapi sebagai negara, kita juga perlu itu.

Persoalan geopolitik terjadi di mana-mana. Semua negara juga menghadapi persoalan yang sama. Semua negara mencoba untuk bertahan. Jadi kita juga harus fokus dan jangan pernah menyerah.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Wawancara Eksklusif