Usaha Berbuah Manis, Prospek Pembiayaan Ultra Mikro Masih Menjanjikan

Hasil usaha tersebut telah membuahkan dua unit motor dan membiayai pendidikan anaknya hingga selesai.

Usaha Berbuah Manis, Prospek Pembiayaan Ultra Mikro Masih Menjanjikan
Muniroh Efendi memulai usaha manisan buah segar di Makassar, Sulawesi Tengah. Foto (Dok. Pribadi)
Daftar Isi

Muniroh Efendi memulai usaha manisan buah segar di Makassar, Sulawesi Tengah, sejak sembilan tahun silam. Usaha ini bukan yang pertama baginya. Sebelumnya, ia pernah berdagang bakso, cilok, aksesoris, pulsa, pakaian, hingga membuka rumah makan ayam geprek.

Dia bercerita jika ayam geprek miliknya sempat berkembang dengan tujuh karyawan dan satu unit motor untuk mengantar pesanan. Namun, meningkatnya persaingan membuat Muniroh mencari peluang lain. Ia kemudian menekuni usaha manisan buah segar yang dijalankannya hingga kini.

Tiga tahun terakhir, Muniroh bergabung sebagai mitra Amartha dan memperoleh akses permodalan sebesar Rp9 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku seperti gula, mangga, pepaya, salak, dan nanas, serta perlengkapan usaha seperti toples, pisau, blender, gelas, plastik, dan meja display.

Setiap hari, Muniroh berjualan mulai pukul 09.00 hingga 22.00. Khusus bulan Ramadan, ia membuka lapak dari pukul 13.00 hingga 01.00. Manisan buah segarnya dijual mulai dari Rp5.000, menyesuaikan permintaan pembeli. Dalam sehari, ia menggunakan sekitar dua karung buah dan memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.

Hasil usaha tersebut telah membuahkan dua unit motor dan membiayai pendidikan anaknya hingga selesai. Kini, Muniroh juga membuka peluang reseller untuk memperluas jangkauan pemasaran sekaligus memberi kesempatan bagi orang lain belajar berwirausaha.

Manisan buah buatannya dapat bertahan hingga tiga hari perjalanan dan kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke berbagai daerah. 

“Alhamdulillah, manisan buah segar ini sudah sampai dibawa ke Padang, Kalimantan hingga Bali dengan aman. Orang-orang suka karena katanya sambalnya otentik. Pedas, dan asinnya juga pas,” ujarnya.

Muniroh berharap dapat terus memperoleh dukungan permodalan dan membuka cabang di lokasi lain agar manisannya semakin dikenal.

Kisah Muniroh selaku mitra UMKM dari Amartha menjadi salah satu contoh penerima pembiayaan yang terhubung melalui skema pendanaan berbasis investasi sosial.

Amartha Prosper

Amartha Financial menawarkan produk investasi alternatif bertajuk Amartha Prosper yang menyalurkan dana investor ke pembiayaan modal kerja bagi perempuan pelaku usaha mikro di pedesaan. 

Produk ini digadang memberikan imbal hasil kompetitif sekaligus dampak sosial melalui skema impact investing.

Chief Funding Officer Amartha Financial, Julie Fauzie, mengatakan Amartha telah beroperasi selama 16 tahun dengan visi meningkatkan perekonomian akar rumput melalui akses keuangan dan digitalisasi.

“Kami berusaha menjadi jembatan antara modal publik dan usaha mikro di daerah. Akses keuangan adalah faktor kritikal untuk membantu masyarakat pedesaan meningkatkan taraf hidupnya,” ujar Julie, akhir pekan lalu dalam peluncuran yang dihadiri SUAR.

Menurut dia, hingga saat ini Amartha telah menjangkau sekitar 3,7 juta mitra perempuan di berbagai pulau besar di Indonesia. Total penyaluran modal kerja tercatat mencapai Rp37 triliun, dengan sekitar 70 persen pendanaan berasal dari investor institusi, baik domestik maupun asing, serta lebih dari 320 ribu pendana ritel.

Julie menjelaskan, Amartha tidak hanya menyediakan pembiayaan mikro, tetapi juga membangun ekosistem layanan keuangan digital. Melalui aplikasi, mitra dapat mengakses pembayaran digital, melakukan transaksi, hingga memanfaatkan fitur micro investment.

“Kami membangun ekosistem keuangan digital agar ibu-ibu mitra tidak tertinggal dalam adopsi teknologi, meskipun berada di wilayah tier dua hingga tier empat,” katanya.

Melalui Amartha Prosper, perusahaan menawarkan produk investasi dengan kisaran imbal hasil 6,5 persen hingga 14 persen per tahun, tergantung tipe produk dan tingkat fleksibilitas. 

Julie menegaskan setiap produk investasi memiliki risiko, namun Amartha mengklaim menerapkan pengelolaan risiko berbasis teknologi dan mitigasi yang terukur.

“Setiap investasi yang dikelola Amartha bukan donasi atau charity. Ini tetap produk investasi yang memberikan return, tetapi sekaligus membuka peluang usaha bagi keluarga di pedesaan,” ujar Julie.

Ia menjelaskan, lebih dari 50 persen pembiayaan disalurkan ke sektor perdagangan seperti warung makan dan usaha kecil lainnya. Sekitar 23 persen ke sektor pertanian, lebih dari 9 persen ke peternakan, serta sisanya ke jasa dan industri rumahan.

Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, Amartha juga menggelar program “Cerita Rasa”, kompetisi memasak yang melibatkan lebih dari 2.000 hingga 3.000 mitra perempuan dari berbagai daerah. Finalis diundang ke Jakarta untuk mengikuti penilaian oleh juri, termasuk Chef Juna dan pelaku usaha kuliner.

Julie mengatakan program tersebut menjadi ruang bagi mitra untuk meningkatkan keterampilan sekaligus memperkenalkan pangan lokal dari daerah masing-masing.

Manisan buah segar di Makassar milik Muniroh Effendi (Foto: Dok Pribadi)

Perencanaan keuangan keluarga

Sementara itu, Certified Financial Planner Melvin Mumpuni menilai investasi perlu menjadi bagian dari perencanaan keuangan keluarga, terutama untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang seperti pendidikan anak dan dana pensiun.

Ia mencontohkan profil klien berusia 35 tahun yang menghadapi defisit arus kas pada periode tertentu karena kebutuhan pendidikan anak meningkat. Menurut Melvin, mengandalkan tabungan semata tidak cukup untuk mengejar kenaikan biaya hidup.

“Perlu dibantu dengan investasi. Tetapi investasi harus disesuaikan dengan kebutuhan, time horizon, dan likuiditas,” kata Melvin.

Melvin mengingatkan investor agar tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen. Ia menganalogikan strategi investasi seperti tim sepak bola yang memerlukan berbagai posisi, bukan hanya penyerang.

Menurut dia, terdapat sejumlah indikator yang perlu diperhatikan dalam memilih produk investasi, antara lain tingkat risiko dan imbal hasil, jangka waktu, likuiditas, aspek perpajakan, legalitas, serta pertimbangan khusus seperti prinsip syariah, ESG, atau impact investing.

Dalam kondisi suku bunga yang cenderung rendah, Melvin menyebut investor perlu mempertimbangkan alternatif instrumen yang dapat memberikan imbal hasil lebih optimal dibandingkan produk berbasis bunga seperti deposito.

Ia menyebut produk dengan kisaran imbal hasil 6,5 persen hingga 14 persen per tahun dapat menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan, dengan tetap memperhatikan manajemen risiko dan kebutuhan likuiditas.

“Investasi bukan hanya soal mengejar kenaikan nilai aset, tetapi bagaimana memastikan tujuan keuangan keluarga tercapai,” ujar Melvin.

Terbuka Lebar

‎Selain itu, Julie menjelaskan jika prospek pembiayaan produktif di segmen akar rumput tetap terbuka lebar seiring kebutuhan modal kerja yang digunakan pelaku usaha ultra mikro untuk bertahan hidup.

“Kalau di grassroots, pembiayaan produktif ini untuk kehidupan sehari-hari. Kalau mereka tidak berdagang atau tidak berkebun, ya tidak hidup,” ujar Julie.

Menurut dia, kebutuhan modal kerja di pedesaan bersifat mendasar karena digunakan untuk menghidupi keluarga. Hal itu membuat permintaan pembiayaan relatif stabil dari tahun ke tahun.

Julie menjelaskan, secara nasional terdapat sekitar 30 juta pelaku UMKM. Sementara itu, Amartha hingga kini baru menjangkau sekitar 3,7 juta mitra secara kumulatif. 

“Artinya potensinya masih sangat besar. Masih banyak ibu-ibu yang belum terjangkau pemodalan produktif,” katanya.

Untuk menjangkau segmen yang dinilai belum bankable, Amartha mengandalkan sekitar 10 ribu business partner di lapangan. 

Tim ini membentuk kelompok usaha, menilai kelayakan usaha, serta melakukan pertemuan rutin mingguan dengan para mitra.

“Relationship antara business partner dengan ibu-ibunya cukup dekat karena setiap minggu bertemu,” ujar Julie.

Ia menambahkan, sejumlah bank juga menyalurkan pembiayaan melalui skema loan channeling dengan Amartha. Dalam skema ini, dana dari perbankan disalurkan kepada mitra melalui platform Amartha.

Dari sisi pendanaan, sekitar 70 persen berasal dari institusi dan 30 persen dari investor ritel. 

"Saat ini terdapat lebih dari 320 ribu lender individu. Perusahaan berharap partisipasi ritel terus meningkat untuk memperluas dukungan terhadap pembiayaan ultra mikro," kata dia.

Secara geografis, imbuh Julie, portofolio pembiayaan Amartha tersebar relatif seimbang di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, masing-masing di kisaran 30–40 persen. 

Julie menyebut upaya pemerataan terus dilakukan agar porsi luar Jawa semakin seimbang dengan Jawa.

Baca selengkapnya