Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan mitra dagang utama Indonesia yang berada di lingkar Selat Hormuz mencakup Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Qatar, Irak, Iran, Kuwait, hingga Bahrain. Jika jalur Selat Hormuz lumpuh, efisiensi logistik dan ketepatan waktu pengiriman komoditas akan terganggu, yang pada akhirnya dapat menggerus daya saing produk Indonesia di pasar Timur Tengah.
Melihat volume dan nilai ekspor secara keseluruhan, Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi muncul sebagai dua pilar utama perdagangan Indonesia di kawasan tersebut. Pada tahun 2025, nilai ekspor Indonesia ke UEA mencapai angka tertinggi sebesar 4.027,19 juta dolar AS dengan volume 1.995,01 ribu ton.
Posisi kedua ditempati oleh Arab Saudi dengan nilai ekspor sebesar 2.881,85 juta dolar AS dan volume 1.684,68 ribu ton. Angka ini menunjukkan tingginya ketergantungan perdagangan luar negeri kita terhadap stabilitas keamanan di sekitar perairan Selat Hormuz.
Negara-negara lain di kawasan tersebut juga memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap neraca perdagangan Indonesia. Qatar mencatatkan nilai ekspor sebesar 731,81 juta dolar AS, diikuti oleh Irak sebesar 387,95 juta dolar AS, dan Iran senilai 249,08 juta dolar AS. Sementara itu, Kuwait dan Bahrain memiliki nilai ekspor masing-masing sebesar 193,57 juta dolar AS dan 46,86 juta dolar AS.
Meskipun secara volume beberapa negara seperti Iran dan Kuwait lebih kecil dibandingkan UEA, penutupan jalur laut akan menciptakan efek domino yang memicu kenaikan biaya asuransi pengiriman ke seluruh destinasi di kawasan tersebut.
Sejumlah komoditas unggulan berisiko terhambat distribusinya. Ke pasar Arab Saudi, Indonesia sangat mengandalkan komoditas lemak dan minyak hewani/nabati dengan volume masif mencapai 640.962,75 ton, serta kapal/struktur terapung senilai 485,79 juta dolar AS.
Selain itu, kendaraan dan bagiannya juga menjadi komoditas penting dengan volume mencapai 739.311,85 ton. Jika Selat Hormuz tertutup, pengiriman kendaraan dan minyak nabati ini akan mengalami penundaan yang berisiko pada pembatalan kontrak atau kerusakan barang bagi komoditas pangan.
Di sisi lain, ekspor ke UEA didominasi oleh komoditas bernilai tinggi seperti logam mulia dan perhiasan/permata yang mencatatkan nilai fantastis sebesar 1.183,62 juta dolar AS. Selain perhiasan, UEA juga menjadi tujuan utama bagi komoditas besi dan baja (465.855,08 ton) serta lemak dan minyak hewani/nabati (461.927,78 ton).
Terganggunya jalur Selat Hormuz tidak hanya menghambat volume fisik barang yang besar seperti baja, tetapi juga mengancam margin keuntungan dari komoditas bernilai tinggi. Oleh karena itu, diversifikasi jalur logistik dan diplomasi ekonomi menjadi langkah krusial yang harus segera diambil pemerintah untuk melindungi aset perdagangan nasional ini.