Industri garam di Indonesia yang meredup, kini dicoba untuk direvitalisasi oleh Pemerintahan Presiden Prabowo. Melalui perusahaan pelat merah PT Garam, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara berencana masuk ke sektor ini dengan membangun pabrik pengolahan garam industri di Gresik, Jawa Timur.
Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose mengatakan pihaknya sudah melaksanakan groundbreaking untuk 3 proyek strategis secara bersamaan. Proyek tersebut salah satunya berada di Kabupaten Sampang, Madura. Proyek Pabrik Mechanical Vapor Recompression (MVR) ini memiliki kapasitas produksi 200.000 ton per tahun.
“Proyek ini memiliki nilai investasi sebesar Rp2 triliun dan akan menyerap sekitar 200 tenaga kerja. Pelaksanaan proyek dilakukan melalui skema joint operation antara PT Garam, PT Putra Arga Binangun, dan China Chemical Engineering Indonesia, dengan mengedepankan efisiensi teknologi yang berkelanjutan,” jelas Abraham.

Proyek pembangunan strategis kedua adalah pabrik garam bahan baku industri yang juga dilengkapi dengan teknologi MVR di Gresik dengan kapasitas 100.000 per tahun.
“Merupakan kerja sama strategis PT Garam dengan Unilever. Proyek ini memiliki nilai investasi sebesar Rp1 triliun dan diproyeksikan menyerap sekitar 150 tenaga kerja, sekaligus tentunya memperkuat keterhubungan antara industri hulu dan hilir,” katanya.
Terakhir, PT Garam juga membangun Pabrik Gresik Segoromadu 2 yang direncanakan akan memiliki kapasitas produksi 79.200 per tahun. “Di mana nilai investasi sebesar Rp112 miliar serta menyerap sekitar 200 tenaga kerja. Proyek ini sepenuhnya didanai oleh PT Garam, ini adalah wujud komitmen internal perusahaan dalam memperkuat hilirisasi produk bernilai tambah,” ujarnya.
Kolaborasi sesama BUMN
Selain ketiga proyek tersebut, PT Garam juga masih memiliki 7 proyek strategis lainnya yang direncanakan dapat dilakukan groundbreaking juga pada tahun 2026 ini. Ketujuh proyek tersebut diantaranya pembangunan pabrik pengolahan garam berkapasitas 200.000 per tahun di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT); pembangunan fasilitas pengolahan garam berkapasitas 109.842 per tahun di Bipolo, NTT; pembangunan pabrik pengolahan garam berteknologi MVR berkapasitas 100.000 per tahun dan 400.000 pert tahun di Gresik.
Kemudian ada proyek pembangunan pabrik calcium-magnesium berbasis pemanfaatan bittern di Sampang, lalu pabrik garam industri berkapasitas 80 ribu hingga 160 ribu per tahun di Sumenep, pabrik garam industri utilisasi brine sea water reverse osmosis (SWRO) Kilang Pertamina Balikpapan.
“Ini kerja sama bisnis downstream Pertamina dalam pembangunan pabrik pemrosesan garam di Balikpapan. Dengan potensi tambahan produksi hingga 4 juta ton per tahun, dan serapan tenaga kerja sekitar 1.150 orang,” ucap Abraham.
Pembangunan pabrik garam ini menjadi langkah strategis dalam mendukung program substitusi impor garam industri serta memperkuat ketahanan pasokan nasional. Saat ini, sekitar 64 persen kebutuhan garam nasional masih dipenuhi dari impor.
Pembangunan pabrik garam seperti yang ada di Balikpapan dengan perkiraan kapasitas 1.000 KTA dapat mengurangi impor hingga US$150 juta atau sekitar Rp2,5 triliun.
Proyek ini diharapkan memberi multiplier effect melalui pengambangan kawasan industri dan penciptaan lapangan kerja baru, sehingga memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen garam industri di kawasan Asia Tenggara.
Proyek hilirisasi garam nasional ini akan memanfaatkan air buangan desalinasi (brine water) dari kilang RDMP Balikpapan. Berdasarkan survei dan analisis awal, proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan sekitar satu juta ton garam per tahun.
Membuat peternak ayam mandiri
BPI Danantara melalui PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Persero/ID Food juga telah resmi memulai proyek peternakan ayam terintegrasi yang memiliki total nilai investasi sebesar Rp20 triliun. Pengembangan fasilitas di lakukan di enam titik terlebih dahulu yakni di Kabupaten Malang, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Bone, Kabupaten Penajam Paser, dan Kabupaten Sumbawa.

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Persero/ID Food Ghimoyo, menjelaskan bahwa keenam titik tersebut merupakan bagian dari 30 rencana besar terkait dengan hilirisasi industri poultry Indonesia. Kegiatan pengembangan fasilitas ini pun merupakan salah satu upaya pengembangan industri ayam terintegrasi yang bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Pengembangan proyek ini diharapkan bisa memantik multiplier effect di antaranya peningkatan kapasitas produksi daging ayam sebesar 1,5 juta ton, peningkatan produksi telur 1 juta ton, hingga penyerapan tenaga kerja sebesar 1.462.948 orang.
“Sekaligus menghadirkan dampak ekonomi yang signifikan berupa penciptaan lapangan kerja sebanyak 1,46 juta lapangan kerja baru,” kata Ghimoyo.
Selain itu, penambahan laba BUMN juga tercipta sebesar Rp3,2 triliun per tahun. Peningkatan pendapatan peternak secara bruto juga meningkat per tahun sebesar Rp81,5 triliun. Fasilitas poultry terintegrasi ini juga menopang kebutuhan 82,9 juta penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berperan untuk mengurangi angka kemiskinan serta stunting.

Proyek ini diharapkan akan menciptakan stabilitas pasokan, penguatan cadangan stok nasional, serta meningkatkan keterjangkauan harga untuk masyarakat, sebagai upaya untuk menciptakan swasembada telur dan daging ayam di seluruh provinsi.
“Pengembangan industri perunggasan ini memiliki peran strategis dalam mendukung program MBG, seiring meningkatnya kebutuhan protein hewani berupa daging, ayam, dan telur,” ucapnya.
Pengembangan fasilitas pun akan dilakukan secara bertahap termasuk di luar dari Pulau Jawa. Pengembangan ini dinilai memegang peranan penting dalam strategi pemerataan ekonomi nasional. Budi daya juga diharapkan dengan hilirisasi ini tetap berada di tangan para peternak rakyat.
“Dengan hadirnya sentra-sentra produksi baru di daerah, diharapkan tercipta lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan rantai pasok daerah, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan di seluruh Indonesia,” harapnya.
Ghimoyo mengatakan bahwa dengan adanya hilirisasi yang dilakukan di dalam proyek itu, salah satu tujuannya adalah untuk memastikan budi daya tetap berada di tangan para peternak rakyat. .
Mukhlison, Gema Dzikri, dan Feby Febriana Nadeak