Indonesia pernah mengalami defisit APBN di angka 6% di masa pandemi Covid-19. Namun, setelah pulih kembali ke batas aman di bawah 3% selama empat tahun terakhir, defisit APBN berpotensi kembali melebar akibat kondisi geopolitik global.
Invasi Amerika Serikat-Israel terhadap Iran selama hampir dua minggu, yang berbuntut pada penutupan Selat Hormuz, telah memicu guncangan pada rantai pasok minyak mentah dunia. Dampak lanjutannya bagi Indonesia dapat menambah beban keuangan negara akibat meningkatnya harga dan subsidi BBM.
Penerimaan pajak tahun 2025 yang tidak sesuai target menyebabkan defisit anggaran yang hampir mendekati batas 3%. Salah satu solusi untuk menaikkan penerimaan pajak datang dari Dana Moneter Internasional atau IMF, yakni dengan menaikkan pajak penghasilan.
"Sekalipun defisit membesar, kami pastikan tidak tembus 3%. Kalau saya buat defisit 0% juga bisa, tapi 'kan ekonomi jadi morat-marit," ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Kementerian Keuangan melaporkan pada Kamis (20/11) bahwa capaian kinerja keuangan dan fiskal masih dinilai prudent, memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi pemerintah untuk merespons dinamika ekonomi global yang tidak menentu.
Pemerintah terus berupaya mengentaskan kemiskinan dengan memperluas cakupan penerima jaring pengaman sosial. Anggaran Kementerian/Lembaga yang belum terserap optimal direalokasi untuk keperluan tersebut.
Pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap peredaran rokok ilegal. Hingga akhir September, berhasil diamankan 816 juta batang rokok ilegal. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk menaikkan penerimaan negara dari cukai.
Tiga bulan jelang pergantian tahun, penyerapan alokasi dana belanja terutama ke Program Prioritas Pemerintah masih tergolong rendah. Menkeu memberikan tenggat waktu bagi Kementerian dan Lembaga (K/L) untuk menyiapkan strategi penyerapan dana atau akan ada realokasi.
Realisasi anggaran belanja negara hingga September 2025 mencapai 63,4%. Kinerja ini lebih ditopang oleh realisasi anggaran Transfer ke Daerah (TKD) yang mencapai 74,6%. Sementara belanja pemerintah pusat baru mencapai 59,7% disebabkan beberapa kementerian/lembaga yang realisasinya di bawah 50%.
Penerimaan negara sampai dengan September baru mencapai 65% dari target, sementara belanja negara baru mencapai 63,4% dari target.
Menampilkan 12 dari 10 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.