Salah satu prioritas yang tengah diupayakan pemerintah untuk mewujudkan swasembada energi adalah meningkatkan penyediaan energi minyak dan gas bumi. Selain itu juga mempercepat hilirisasi di sektor migas tersebut.
Peningkatan penyediaan energi khusus minyak bumi mendesak dilakukan karena kecenderungan impor minyak bumi dan hasil-hasilnya yang terus meningkat. Indonesia seakan semakin sulit keluar dari status net importir minyak bumi.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa selama periode 2017-2020 ketergantungan terhadap impor minyak bumi dan hasil-hasilnya berhasil ditekan, dari 50,37 juta ton pada tahun 2017 menjadi 37,65 juta ton pada 2020 atau turun 25,25%.
Namun, mulai 2021 hingga 2024 impor minyak bumi dan bahan bakar minyak (BBM) perlahan meningkat, bahkan menjadi lebih tinggi dibandingkan tahun 2017. Di tahun 2021, impor minyak bumi dan BBM naik 11,87% menjadi 42,12 juta ton. Di tahun 2024, jumlahnya meningkat lagi 27,58% menjadi 53,74 juta ton.
Berdasarkan negara asalnya, impor minyak bumi dan BBM Indonesia terbanyak berasal dari negara Singapura, dengan porsi mencapai 29,5% dari total yang diimpor Indonesia. Tahun 2024, impor minyak bumi dan BBM dari Singapura tercatat sebanyak 15,87 juta ton dengan nilai 11,78 miliar dollar AS. Volume impor dari Singapura yang sebanyak itu merupakan yang tertinggi sejak 2019. Indonesia pernah mengimpor lebih banyak dari Singapura pada tahun 2018 yang mencapai 17,85 juta ton atau 36% dari total minyak dan BBM yang diimpor Indonesia.
Reputasi Singapura sebagai sumber terbesar impor minyak bumi dan BBM Indonesia sudah berlangsung sejak lama. Setidaknya, data BPS menyebutkan selama periode 2017-2024 Singapura di urutan teratas sebagai negara asal impor minyak bumi dan hasil-hasilnya.
Setelah Singapura, Malaysia dan Arab Saudi berada di urutan kedua dan ketiga sebagai sumber impor minyak bumi dan BBM. Malaysia dengan porsi 12%, sedangkan Arab Saudi dengan porsi 9,7%. Selain ketiga negara tersebut ada pula Amerika Serikat, Nigeria, Uni Emirat Arab, Australia, Korea Selatan, Tiongkok dan Qatar yang mengekspor minyak bumi dan hasil-hasilnya ke Indonesia.
Dengan direncanakannya 8 proyek untuk meningkatkan produksi migas, di mana salah satu targetnya adalah mendapat tambahan produksi minyak di tahun 2026 sebesar 8.199 barel minyak per hari (BOPD), harapan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak bumi semoga bisa terealisasi.