Strategi Dorong Anak Muda Jadi Pengusaha

Pemerintah memberikan materi pelatihan gig ekonomi, yang mencakup digitalisasi pemasaran dan manajemen operasional dengan tujuan mendorong bisnis rintisan orang muda bisa naik kelas secara global tanpa memerlukan toko fisik yang membutuhkan biaya operasional.

Strategi Dorong Anak Muda Jadi Pengusaha
Pengunjung melihat produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan Bank BRI di Rumah BUMN, Malang, Jawa Timur, Selasa (20/1/2026). Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/nym.

Perluasan pasar dan promosi berkelanjutan agar bisa memperoleh insentif berusaha menjadi salah satu cara mendorong generasi muda tertarik menjadi pengusaha. Hal tersebut dilakukan sebagai antisipasi mengurangi tekanan di pasar ketenagakerjaan di masa depan.

Presiden Bank Dunia Ajay Singh Banga menyatakan, dengan prediksi dunia kekurangan 800 juta lapangan kerja untuk orang muda dalam 12-15 tahun ke depan, tanggung jawab pemangku kepentingan ekonomi dalam membenahi kemudahan berusaha (ease of doing business) tidak hanya bertujuan mengundang investasi, melainkan juga memberdayakan orang muda membuka usaha.

"Apa yang kita butuhkan bukan hanya strategi penciptaan lapangan kerja, tetapi suatu ekosistem yang mempertemukan infrastruktur, sumber daya manusia, dan iklim berusaha yang memungkinkan bisnis mikro dan kecil bertumbuh dan menyerap luapan tenaga kerja usia muda dan produktif," ujar Banga dalam diskusi panel A Coming Jobs Challenge in Emerging Markets di Davos, Swiss, Rabu (21/01/2026).

Menanggapi seruan Bank Dunia tersebut, Juru Bicara Kementerian Koordinator Perekonomian Haryo Limanseto menyatakan, pemerintah Indonesia telah berstrategi untuk mendorong kewirausahaan muda.

Meskipun perluasan akses Kredit Usaha Rakyat selalu menjadi bagian tak terpisahkan dalam stimulus usaha, Haryo menegaskan strategi mendorong wirausaha muda tersebut lebih dari sekadar akses KUR.

"Kami sadar bahwa bagi anak muda, tantangan terbesar bukan hanya pembiayaan, tetapi juga ekosistem, pendampingan, dan akses pasar," ujar Haryo saat dihubungi, Senin (26/10/2026).

Di bawah Kemenko Perekonomian, pemerintah memfasilitasi pelatihan intensif untuk memanfaatkan ekonomi berbasis platform (gig economy). Materi pelatihan yang mencakup digitalisasi pemasaran dan manajemen operasional tersebut bertujuan mendorong bisnis rintisan orang muda bisa naik kelas secara global tanpa memerlukan toko fisik yang membutuhkan biaya operasional.

"Mentoring ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah bisnis rintisan dan menekan kegagalannya dengan diajarkan cara mengelola arus kas dan membaca pasar," jelasnya.

Baca juga:

Pemerintah Arahkan Gen Z Jadi Penggerak Ekonomi Digital
Pemerintah mengarahkan orang muda Generasi Z (kelahiran 1997-2012) menjadi penggerak ekosistem ekonomi digital, memaksimalkan momentum serta potensi ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai USD 360 miliar pada 2030.

Selain program pelatihan oleh Kemenko Perekonomian, program-program kementerian lain juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem tersebut, seperti program Holding UMKM dari Kementerian UMKM yang melibatkan usaha menengah sebagai poros penghubung usaha mikro dan kecil untuk menciptakan skala ekonomi lebih besar, memudahkan akses pembiayaan, pendampingan inkubasi dan perluasan akses pemasaran.

"Selain itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga juga memiliki Kompetisi Wirausaha Muda Pemula yang menyediakan paket bantuan khusus dari pemerintah untuk wirausaha berusia 16-30 tahun yang memiliki proposal bisnis prospektif," cetus Haryo.

Ragam faktor

Ketua Dewan Pembina Indonesian Business Council dan CEO Sriwijaya Capital Arsjad Rasjid menilai situasi Indonesia saat ini sudah cukup berhasil memotivasi orang muda menjadi pengusaha. Bukan hanya berorientasi korporasi, tunas-tunas masa depan dunia usaha inipun mulai menjajaki social enterprise, yaitu kewirausahaan yang berorientasi manfaat selain meningkatkan profit.

"Sekarang ini orang-orang muda semakin ingin jadi entrepreneur. Coba bayangkan, orang-orang muda yang tergabung di organisasi mahasiswa, dulu rata-rata berpikir politik, mau jadi pejabat negara atau DPR, tapi sekarang mulai berpikir menjadi entrepreneur. Kita melihat proses perubahan, terutama di kalangan mahasiswa yang dulu getol soal aktivisme, sekarang mulai berpikir kewirausahaan, dan saya pikir itu penting," ucapnya di Jakarta, Senin (26/01/2026).

Meski dorongan menjadi pengusaha telah berkembang di kalangan orang muda, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menekankan bahwa tren membuka bisnis yang tumbuh subur pascapandemi Covid-19 membawa konsekuensi lain, yaitu tantangan memperoleh demand yang belum sepenuhnya pulih, di samping hambatan-hambatan struktural seperti masalah pembiayaan, bahan baku, tenaga kerja, dan perizinan.

"Pemerintah perlu memastikan daya beli naik dan mengamankan akses bagi pengusaha domestik untuk bisa mendapatkan pasar. Pendampingan itu bukan hanya pada pembiayaan, tetapi mulai dari kemudahan perizinan sampai teknis manajemen sampai dia mendapatkan pasarnya. Memang kompleks, tetapi itu yang sudah dilakukan Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong," ujar Faisal saat dihubungi.

Faisal mengingatkan bahwa masalah mentalitas dan skill berusaha dapat dimaksimalkan lewat pendampingan dan training seperti yang sudah dilakukan saat ini. Namun, kapasitas pemerintah pun memungkinkan bantuan untuk pengusaha muda diberikan dengan mengamankan akses pasar domestik maupun pasar mancanegara.

"Entrepreneurship memang tidak bisa dipaksakan ke semua orang. Tidak semua orang berbakat menjadi pebisnis dan ada yang memiliki mental pekerja. Namun, apabila pemerintah serius berupaya mendorong entrepreneurship orang muda, maka dorongan itu harus menyeluruh dari hulu ke hilir," tegasnya.

Seniman muda menampilkan tari Rejang Candimas saat lomba tari tradisional pada Festival Kultural 2026 di The Blooms, Tabanan, Bali, Minggu (4/1/2026). (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa.)

Melengkapi pandangan Faisal, ekonom Yusuf Rendy Manilet menyatakan salah satu persoalan utama yang seringkali dihadapi pengusaha muda adalah paradigma yang belum sepenuhnya mendorong mereka menjadi pelaku usaha mandiri. Pola pikir konvensional yang berkembang adalah mencari pekerjaan usai menamatkan pendidikan, sehingga tekanan pasar ketenagakerjaan bertambah dari waktu ke waktu.

"Akibat lainnya, kewirausahaan belum dipandang sebagai pilihan utama, melainkan sebagai alternatif ketika sulit memperoleh pekerjaan. Kondisi ini diperparah tingginya biaya yang harus ditanggung calon pelaku usaha baru. Untuk memulai bisnis, mereka membutuhkan modal yang tidak sedikit, sementara akses pembiayaan seringkali sulit dijangkau," jelas Rendy.

Salah satu tantangan untuk mendorong orang muda berbisnis adalah mengenyahkan keragu-raguan memulai usaha sendiri, dengan menekankan usaha mandiri sebagai instrumen paling efektif untuk menyerap angkatan kerja dan mengurangi pengangguran.

"Dengan tumbuhnya wirausaha, lapangan pekerjaan tidak hanya bergantung pada sektor formal, tetapi juga tercipta dari inisiatif masyarakat sendiri. Oleh karena itu, perubahan paradigma, perbaikan sistem pendanaan, serta penataan regulasi menjadi kunci agar kewirausahaan dapat berkembang dan berkontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia," pungkasnya.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Energi, Lingkungan, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional