Riwayat Depresiasi Rupiah Dalam Satu Dekade Terakhir

Depresiasi rupiah bukan kali ini saja terjadi. Dalam satu dekade terakhir, rupiah telah beberapa kali terdepresiasi dengan pelemahan yang cukup dalam, bahkan mencapai 20%.

Riwayat Depresiasi Rupiah Dalam Satu Dekade Terakhir

Sejak akhir 2024, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.000. Perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026 telah membuat rupiah semakin melemah hingga ke level Rp 17.000. Dalam perang selama 40 hari rupiah terdepresiasi sebesar 2%.

Pelemahan terjadi terkait kondisi krisis dalam skala besar, termasuk situasi pandemi Covid-19 yang telah memperlambat geliat perekonomian. Perekonomian Indonesia yang melambat pada tahun 2015 juga terjadi akibat melemahnya nilai tukar rupiah.

Selama 11 bulan dari periode 22 Oktober 2014 hingga 29 September 2015, rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi sebanyak 22,4%, dari Rp 12.026 menjadi Rp 14.728. Di tahun 2015 tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi di bawah 5%, tepatnya 4,79%.

Di tahun 2018, perekonomian Indonesia juga menghadapi masa sulit dan rupiah kembali mengalami depresiasi sebesar 14,7% dalam rentang waktu 9 bulan, dimulai dari akhir Januari 2018 hingga Oktober 2018. Rupiah pada akhir Januari 2018 tercatat Rp 13.290, namun pada 11 Oktober 2018 telah melemah menjadi Rp 15.253.

Pandemi Covid-19 juga membuat rupiah tak berdaya. Dalam waktu yang relatif cepat, yakni sekitar 2 bulan (akhir Januari hingga awal April), rupiah terdepresiasi hampir 23%, yakni dari Rp 13.612 menjadi Rp 16. 741. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi di tahun pertama pandemi tersebut terkontraksi begitu dalam menjadi minus 2,07%.

Di tahun 2026 ini, perang di Kawasan Timur Tengah juga telah berdampak pada pelemahan rupiah. Sejak akhir 2024, kurs rupiah sudah bertengger di angka Rp 16.000. Namun, sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, rupiah kian melemah dari sekitar Rp 16.700-an menjadi di atas Rp 17.000. Dalam masa perang 40 hari, rupiah telah terdepresiasi sekitar 2,1%.

Meski pekan ini memasuki minggu pertama gencatan senjata dengan dimulainya perundingan antara AS dengan Iran di Islamabad, Pakistan, kondisi ketidakpastian masih menyelimuti. Depresiasi rupiah masih berpotensi terus berlanjut. Mengacu pada data historis di mana rupiah pernah mengalami penurunan hingga 20%, sejumlah pengamat berpandangan rupiah bisa mengalami hal yang serupa pada tahun ini.

Jika rupiah terdepresiasi hingga 20% akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa mencapai lebih dari Rp 20.000. Kondisi ini harus diantisipasi pemerintah untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi tetap bisa mencapai 5% tahun ini.

Otoritas Bank Indonesia menyebutkan akan mengerahkan seluruh instrumen moneter yang dimiliki untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Terutama dengan meningkatkan arus modal masuk ke dalam negeri. Nilai tukar yang kian melemah akan memukul dunia usaha, terutama pada industri atau perusahaan yang bergantung pada bahan baku yang diimpor dari luar negeri.

Indonesia terbukti bisa melalui badai krisis demi krisis. Namun, dampaknya berkelanjutan dan pemulihan memakan waktu yang lama.

Author

Baca selengkapnya

Ω