Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menargetkan transaksi bisa mencapai Rp52,38 triliun dalam program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026
Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 10-15% dibandingkan realisasi transaksi pada periode yang sama di tahun 2025. Pada penyelenggaraan tahun lalu, realisasi transaksi BINA Lebaran mencapai sekitar Rp32,7 triliun atau 90% dari target yang ditetapkan.
Wakil Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Fetty Kwartati menilai optimisme ini didorong oleh tingginya mobilisasi masyarakat ke kampung halaman serta kucuran Tunjangan Hari Raya (THR).
"Wisata dan belanja merupakan satu kesatuan. Setiap ada pergerakan wisatawan pasti ada aktivitas makan dan belanja. Maka, mal dan tenant ritel adalah bagian dari destinasi urban tourism," kata Fetty dalam konferensi pers BINA Lebaran 2026 di Mall Kota Kasablanka, Jakarta (13/2).
Iamenjelaskan, BINA Lebaran akan menawarkan promosi yang beragam, baik di pusat perbelanjaan maupun toko ritel lainnya. Program ini akan diikuti oleh 800 brand, sekitar 80 gerai, serta lebih dari 400 anggota mal di seluruh Indonesia.
Program BINA Lebaran 2026 kembali dilaksanakan selama 25 hari, dari tanggal 6-30 Maret 2026.
Fetty menyebut, mal menjadi tempat yang sangat penting sebagai destinasi belanja bagi keluarga maupun tempat pertemuan. Pusat perbelanjaan juga menjadi etalase penjualan produk dari merek Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga global.
Rojali dan Rohana Tak Pengaruhi Transaksi
Ketua Bidang Program Promosi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) sekaligus General Manager Mal Kota Kasablanka, Agung Gunawan melihat, rojali dan rohana tak akan begitu signifikan memengaruhi capaian transaksi, terutama di mal.
Mal Kota Kasablanka memperoleh transaksi pelanggan pada bulan Januari 2026 meningkat 3% dari bulan sebelumnya. “daya beli konsumen sebenarnya masih cukup masif dan terus tumbuh,” ujar dia.
Tingginya minat belanja masyarakat juga tercermin dari antusiasme pelaku ritel dalam memperluas usahanya di mal. Ia membeberkan, banyak ritel Indonesia yang ingin membuka toko di pusat perbelanjaan.

Untuk mendorong transaksi, pusat-pusat perbelanjaan telah menyiapkan strategi promosi. Salah satunya adalah program midnight sale.
Biasanya, program ini diadakan sekitar dua minggu sebelum Lebaran, bertepatan dengan periode gajian atau pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).
Mal-mal berbondong menghadirkan midnight sale dengan berbagai variasi, ada yang berlangsung selama dua hingga tiga hari, bahkan ada yang digelar pada akhir pekan.
Analis Kebijakan Ahli Madya yang mewakili Asisten Deputi Perdagangan Dalam Negeri, Perlindungan Konsumen, dan Tertib Niaga Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Darwin Tonggotua Siahaan mengatakan, program BINA yang digagas sejak 2024 lalu memiliki dampak signifikan ke perekonomian Tanah Air.
Pemerintah dan para pelaku usaha tak memungkiri adanya fenomena rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya (rohana) yang menjamur di masyarakat tetapi fenomena ini tidak terlalu mempengaruhi.