Risiko Bergeser dari Ancaman Alam ke Geopolitik dan Ketidakpastian Ekonomi

Lanskap risiko global berdasarkan laporan World Economic Forum mengalami perubahan dalam dua tahun terakhir. Begitu pula dengan risiko yang dihadapi Indonesia.

Risiko Bergeser dari Ancaman Alam ke Geopolitik dan Ketidakpastian Ekonomi

Laporan Global Risk Report oleh World Economic Forum menyebutkan tahun 2024 didominasi oleh kekhawatiran terhadap isu lingkungan dan teknologi, di mana cuaca ekstrem (66%) serta misinformasi dan disinformasi (53%) menjadi ancaman yang paling banyak dipilih oleh responden. 

Sebagai tahun pesta demokrasi global, tahun 2024 juga mendorong risiko polarisasi sosial/politik. Sebanyak 46% responden memilih risiko tersebut menjadi bagian dari 5 risiko global yang dianggap mengancam di tahun tersebut. 

Memasuki tahun 2025 dan 2026, terjadi pergeseran fokus yang tajam menuju area geopolitik. Konflik bersenjata antar-negara diprediksi menjadi risiko utama di tahun 2025 (23%), sementara konfrontasi geoekonomi juga menjadi ancaman di tahun 2026 dengan persentase 18%.

Perubahan ini mengindikasikan bahwa dunia sedang bergerak dari krisis pascapandemi menuju fase ketegangan antar-negara yang lebih terbuka. Meskipun terdapat perbedaan metode survei pada tahun 2024, kekhawatiran terhadap cuaca ekstrem secara persentase di tahun 2026 menurun (menjadi 8%).

Perhatian global saat ini tersedot oleh stabilitas keamanan dan persaingan ekonomi antar-kekuatan besar. Hal ini menciptakan tekanan ganda bagi negara-negara berkembang yang harus menavigasi kebijakan luar negeri di tengah polarisasi global yang terus menetap di angka 7% hingga tahun 2026.

Survei Risiko Global oleh WEF juga melihat risiko skala level nasional. Dapat dilihat, Indonesia menghadapi dinamika risiko yang lebih kompleks menurut Executive Opinion Survey (EOS).

Jika pada tahun 2024 risiko utama yang dihadapi adalah kemerosotan ekonomi dan cuaca ekstrem. Di tahun 2025 ancaman baru muncul dari sisi teknologi, yakni dampak negatif dari teknologi AI yang menduduki peringkat pertama.

Hal ini menunjukkan bahwa pelaku eksekutif di Indonesia mulai menyadari bahwa transformasi digital yang masif membawa kerentanan baru yang dapat mengganggu stabilitas operasional dan sosial di dalam negeri.

Memasuki tahun 2026, fokus risiko nasional di Indonesia kembali bergeser pada isu-isu struktural dan kesejahteraan masyarakat. Kurangnya kesempatan ekonomi atau pengangguran diprediksi menjadi risiko nomor satu, diikuti oleh tidak memadainya pelayanan publik dan perlindungan sosial seperti pendidikan dan infrastruktur di peringkat kedua.

Munculnya isu pelayanan publik sebagai risiko utama di tahun 2026 menandakan adanya tuntutan besar terhadap pemerintah untuk memperkuat jaring pengaman sosial di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.

Menariknya, meskipun dampak negatif teknologi AI turun ke peringkat ketiga di tahun 2026, risiko ini tetap menjadi perhatian utama bagi Indonesia dibandingkan lanskap global yang lebih fokus pada konfrontasi geoekonomi. Selain itu, kemerosotan ekonomi tetap membayangi Indonesia secara konsisten dari tahun 2024 hingga 2026, meskipun posisinya perlahan turun ke peringkat empat di tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa masalah fundamental ekonomi domestik masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan oleh para pemangku kebijakan.