Ong Hock Chuan masih ingat betul hari-hari ketika dia masih menjadi jurnalis di Malaysia. Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, mengejar narasumber, door step interview, dan menghasilkan artikel untuk setiap pembaca.
Founder dan Managing Partner Maverick Indonesia itu nampak semangat dan senang ketika ditanya soal perjalanan hidupnya menjadi jurnalis di masa muda. Ong sebelumnya sempat berkarier di beberapa media, seperti The Star (Malaysia), China News (Taiwan), hingga Asia Times (Hong Kong), dari tahun 1982 hingga 1992.
Lalu, Ong Hock Chuan menapaki babak barunya sebagai praktisi di perusahaan public relation agency yang ia dirikan — hingga kini.
Menurut dia, perpindahan profesinya tak semudah yang dibayangkan. Dari yang tadinya bebas menuliskan semua reportase di lapangan, Ong sekarang harus bertransformasi sudut pandang.
"Dari sosok yang mengabarkan ke publik menjadi orang yang menyiapkan kabar dan melayani para klien, sangat tidak mudah," ujar dia kepada SUAR dalam wawancara ekslusif di salah satu hotel di Jakarta Selatan," ujar dia.
Pengalaman panjang di dunia jurnalistik memberinya kepekaan membaca isu, memahami kebutuhan media, serta merangkai pesan yang tetap informatif namun selaras dengan kepentingan institusi.
Ia menyadari bahwa setiap rilis, pernyataan, dan strategi komunikasi membutuhkan ketelitian yang sama besarnya dengan menulis berita, hanya saja dengan tujuan yang berbeda, bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga menjaga reputasi dan kepercayaan publik.

Mulai menekuni public relation
Kariernya di dunia PR dimulai pada tahun 1997. Saat itu ia diterima bekerja sebagai technical advisor di Ogilvy Indonesia, dan ia pindah dari Malaysia ke Indonesia untuk menjalani pekerjaan tersebut.
Kemudian kariernya berkembang, Ong dipercaya menjadi Managing Director Ogilvy Singapura dari tahun 2000-2002, dan kembali lagi bekerja di Indonesia sebagai Managing Partner Maverick dari tahun 2002 hingga saat ini.
“Hari-hari pertama biasanya diwarnai dengan ‘culture shock’. Ritme kerja PR yang dipenuhi rapat strategi, penyusunan siaran pers, hingga koordinasi acara berbeda jauh dari kejar-kejaran deadline berita,” ujar dia kepada SUAR saat ditemui usai acara Roundtable Decision SUAR dengan tema Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Indonesia 2026.
Ong menambahkan, pengalaman sebagai jurnalis membuatnya lebih peka terhadap apa yang layak diberitakan dan apa yang hanya terdengar seperti promosi kosong. Ia tahu persis bahwa wartawan membutuhkan data kuat, kutipan jelas, dan sudut cerita yang relevan bagi publik. Karena itu, siaran pers yang ia susun cenderung lebih “ramah media” tidak bertele-tele, informatif, dan mudah diolah menjadi berita.
"Salah satu perbedaannya adalah jika di redaksi satu peristiwa bisa langsung ditulis dan tayang, di dunia PR setiap kata harus dipertimbangkan dampaknya bagi reputasi institusi. Proses persetujuan berlapis juga menjadi hal baru yang menuntut kesabaran ekstra," ujar pria kelahiran tahun 1959 ini.
Di sisi lain, tantangan terbesar justru bersifat etis dan emosional. Dulu ia terbiasa bersikap kritis terhadap lembaga atau perusahaan, kini ia harus menjadi bagian dari pihak yang dikritisi.
“Saya belajar bahwa transparansi tetap penting, tetapi penyampaiannya harus strategis agar tidak memperkeruh keadaan,” ujar dia.
Hubungan dengan mantan rekan jurnalis juga berubah. Jika dulu bertukar informasi sebagai sesama pewarta, kini komunikasi dilakukan dalam konteks profesional yang berbeda.
Namun kedekatan tersebut sering menjadi jembatan yang memudahkan kerja PR, terutama saat membutuhkan klarifikasi cepat atau liputan mendalam. Kepercayaan yang sudah terbangun selama bertahun-tahun menjadi aset yang tidak ternilai.
Ong menilai pada akhirnya, perjalanan dari jurnalis menjadi public relations bukanlah tentang meninggalkan idealisme, melainkan mengubah peran dalam ekosistem informasi. Keduanya sama-sama berkontribusi dalam menyampaikan pesan kepada publik, hanya dari sisi yang berbeda.

Cinta Indonesia
Sebagai warga negara Malaysia yang bekerja dan berkarier di Indonesia selama lebih dari 20 tahun, Ong sangat mencintai Indonesia. Bagi ong, Indonesia bukan sekadar tempat tinggal atau lokasi bekerja, melainkan rumah kedua yang membentuk perjalanan hidupnya.
Kecintaannya tumbuh dari interaksi sehari-hari dengan masyarakat yang menurutnya hangat, terbuka, dan penuh rasa kekeluargaan. Ia mengaku selalu terkesan dengan kebiasaan saling menyapa, membantu tanpa pamrih, serta kemampuan orang Indonesia menjaga harmoni di tengah keberagaman budaya dan agama.
“Di sini saya merasa diterima, bukan sebagai orang luar, tetapi sebagai bagian dari komunitas apalagi di Maverick,” ujarnya.
Pengalaman itu semakin kuat ketika ia banyak berkunjung ke berbagai daerah mulai dari Bali, Papua, hingga Manado, ia menemukan karakter masyarakat yang ramah dan mudah tersenyum. Baginya, kehangatan tersebut bukan sesuatu yang dibuat-buat, melainkan cerminan nilai gotong royong yang masih hidup. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun, ia melihat optimisme dan solidaritas yang membuatnya semakin menghargai bangsa ini.
Selain oragnya, kecintaan Ong Hock Chuan juga tumbuh dari kekayaan kuliner Indonesia, terutama Rendang dan Soto Ayam dan Daging. Ia mengaku jatuh hati pada keragaman rasa yang tidak ditemukan di banyak negara lain.
“Di Malaysia kulinernya berbumbu, tapi di Indonesia bumbunya beda, itulah yang membuatnya unik,” ujar dia.
Perpaduan rempah yang kuat, cita rasa berlapis, serta porsi yang melimpah membuatnya merasa makanan Indonesia bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang kehangatan kebersamaan.