Potensi Mineral Kritis Indonesia Jadi Incaran Amerika Serikat

Akhir Januari 2026 akan menjadi puncak negosiasi terkait tarif resiprokal Amerika Serikat untuk Indonesia. Indonesia mendapat pengecualian tarif bea masuk untuk sejumlah komoditas unggulan. Namun, AS berharap mendapatkan askes terhadap sektor mineral kritis Indonesia.

Potensi Mineral Kritis Indonesia Jadi Incaran Amerika Serikat

Penandatanganan tarif resiprokal Amerika Serikat untuk Indonesia di akhir Januari nanti sekaligus akan membuka kesepakatan sejauh mana AS mendapatkan suplai mineral kritis dari Indonesia. Komoditas mineral kritis yang dimiliki Indonesia mulai dari batubara, nikel, timah, bauksit, emas, hingga tembaga.

Potensi sektor mineral kritis Indonesia menjadi daya tarik tersendiri dalam setiap hubungan bilateral Indonesia dengan negara lain, tak terkecuali dengan AS. Pasalnya, bumi Indonesia menyimpan cadangan terbesar beberapa sumber daya alam yang dibutuhkan masyarakat global.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memetakan potensi sejumlah komoditas mineral kritis Indonesia dan posisinya di tataran global.

Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel dan timah terbesar di dunia. Cadangan nikel yang dimiliki Indonesia menguasai 42% cadangan dunia, menempatkan Indonesia di peringkat pertama. Sedangkan cadangan timah menguasai 18% cadangan dunia, juga menempatkan Indonesia di peringkat pertama.

Selain itu, Indonesia memiliki 8,8% cadangan dunia untuk komoditas bauksit (peringkat 4 dunia). Indonesia juga memiliki 4,4% cadangan dunia untuk komoditas emas (peringkat 6 dunia) dan menguasai 2,4% cadangan tembaga (peringkat 9 dunia).

Nikel Indonesia tidak hanya unggul dari segi cadangan, namun sekaligus jumlah produksinya yang terbesar di dunia yang mencapai 50% dari total produksi dunia. Nikel merupakan salah satu mineral yang diincar dunia karena kegunaannya dalam berbagai barang elektornik. Seiring dengan pengembangan energi bersih, keberadaan nikel juga dibutuhkan sebagai salah satu bahan baku baterai.

Produksi nikel Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 2024 dengan jumlah 198,5 juta ton, tumbuh sekitar 44% dibandingkan tahun sebelumnya. Selama periode 2020-2024, produksi bijih nikel Indonesia tumbuh hampir empat kali lipat. Hal ini menggambarkan ekspansi industri nikel nasional yang cukup agresif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai output dari produksi nikel tahun 2024 itu mencapai Rp 86,11 triliun.

Dari segi nilai output, nilai yang tertinggi bukan berasal dari komoditas nikel, melainkan komoditas batubara. Produksi batubara Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebanyak 836,13 juta ton dengan nilai output sebesar Rp 1.663,29 triliun. Nilai output terbesar kedua dicatat oleh konsentrat tembaga, yakni Rp 212,41 triliun dengan jumlah produksi tahun 2024 sebanyak 4,49 juta ton.

Potensi besar sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia menjadi primadona  dunia. Terkait hal ini, dalam pembahasan kerja sama dagang antara Indonesia – AS, atau dengan negara manapun, akses terhadap sektor mineral kritis Indonesia seyogyanya tidak fokus pada ekspor bahan mentah.

Indonesia harus memanfaatkan posisi startegisnya untuk mengembangkan hilirisasi semua komoditas mineral untuk nilai tambah ekonomi yang lebih besar. Dimulai dari investasi untuk pemrosesan (smelter), penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, hingga pengembangan ekosistem industri. Hilirisasi komoditas-komoditas unggulan ini akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.

Author

Baca selengkapnya