Kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terbukti mendorong kinerja perekonomian lebih luas. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sekitar 58 persen perusahaan yang beroperasi di seluruh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) ditujukan untuk pasar ekspor atau pasar global. Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha di KEK memiliki orientasi yang kuat terhadap perdagangan internasional.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan di KEK pada umumnya memang lebih berfokus pada pasar luar negeri.
“Rata-rata perusahaan di KEK lebih banyak berorientasi ke pasar global, sekitar 58 persen sudah berorientasi ekspor,” ujarnya dalam Media Gathering Dewan Nasional KEK di Aryaduta Hotel, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Sementara itu, sekitar 42 persen dari total produksi perusahaan di KEK masih dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik di dalam negeri. Begitu juga dengan bahan baku yang digunakan untuk kegiatan perusahaan di seluruh KEK mayoritas berasal dari dalam negeri sebesar 58 persen. Sisanya menggunakan bahan baku yang berasal dari luar negeri.
Edy menekankan masih banyak bahan baku dari dalam negeri yang mudah diolah menjadi produk-produk bernilai. Terlebih produk yang bisa ditujukan untuk ekspor.
Pada kesempatan yang sama, Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang memaparkan Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi di 25 KEK mencapai Rp82,6 triliun atau 98% dari target yang telah ditetapkan.
Sementara itu, penyerapan tenaga kerja mencapai 88.541 orang, bahkan melampaui target yang ditetapkan. “Capaian ini menunjukkan bahwa KEK terus berkembang sebagai salah satu instrumen penting dalam mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah,” ujar dia.
Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Prospera dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia menunjukkan bahwa wilayah dengan KEK mampu menarik investasi hingga 77% lebih tinggi dibandingkan wilayah non-KEK.
Kisah sukses KEK
Executive Director Kendal Industrial Park, Juliani Kusumaningrum mengatakan hingga tahun 2025, KEK Kendal mencatat akumulasi investasi sekitar Rp187,05 triliun serta menyerap sekitar 76.559 tenaga kerja.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kendal pada tahun 2025 juga tercatat meningkat signifikan hingga mencapai 8,84 persen. Selain itu, KEK Kendal turut mengembangkan program link and match untuk memperkuat keterhubungan antara dunia industri dengan lembaga pendidikan dan pelatihan guna mendukung ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Baca juga:

Vice President Corporate Planning and Strategic Delivery Unit, Ade Saputra menjelaskan bahwa KEK Sanur memiliki dua fokus utama, yaitu sektor kesehatan dan pariwisata.
Kehadiran KEK Sanur diharapkan dapat meningkatkan daya saing layanan kesehatan di dalam negeri sehingga mampu bersaing dengan rumah sakit di luar negeri. Selama ini terdapat empat faktor yang mendorong masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri, yaitu ketepatan diagnosa, keahlian dokter, teknologi, dan biaya.
“KEK Sanur akan mengadopsi konsep Top Notch Brands, Best Technology and Medicines, Medical and Wellness Expertise, dan Seamless Experience dalam pengembangan pelayanan kesehatan,” ujar dia.
Salah satu fasilitas utamanya adalah Bali International Hospital, rumah sakit bertaraf internasional yang memiliki berbagai layanan unggulan seperti kardiologi, onkologi, neurologi, ortopedi, dan layanan kesehatan ibu dan anak. Selain itu, kawasan ini juga menghadirkan fasilitas kesehatan lain, termasuk pusat layanan fertilitas Alpha IVF & Women’s Specialist yang bekerja sama dengan jaringan klinik fertilitas internasional. Di sisi lain, pengelola KEK Sanur juga menjalankan berbagai program komunikasi publik, kegiatan marketing activities, serta program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar, salah satunya melalui kegiatan Celebrating Christmas with Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) yang bekerja sama dengan BIH.
Baca juga:

Direktur Utama PT Taman Resor Internet (Tamarin), Mike Wiluan, menyampaikan KEK Nongsa telah melakukan pengembangan talenta digital melalui program pelatihan vokasi yang dikelola Infinite Learning bersama mitra global dan nasional seperti Apple Developer Academy, RMIT University, Red Hat, dan IBM, yang hingga kuartal IV 2025 telah diikuti lebih dari 8.000 peserta.
Selain itu, Infinite Studios juga berkolaborasi dengan 22 UMKM kreatif dari berbagai daerah dalam produksi film animasi berskala internasional. Selain animasi, Infinite juga telah memproduksi lebih dari 20 film berskala internasional.
Saat ini, studio tersebut tengah memproduksi 10 judul animasi yang melibatkan sekitar 160 tenaga kerja dan outsourcing dari 3 studio UMKM di Pulau Jawa. Ekspansi tambahan juga tengah dilakukan oleh KEK Nongsa seluas 21,59 Ha, menjadikan total wilayah kawasan menjadi 188,04 Ha, yang dapat menunjang aktivitas di lingkungan kawasan. Ke depan, KEK Nongsa akan terus berkomitmen dalam meningkatkan kualitas SDM di sektor pendidikan maupun industri.